Mencegah serangan kutu putih lebih baik. Namun, jika hama di atas ambang batas, gunakan insektisida yang tepat.

Kematian itu datang dengan membawa isyarat daun yang menguning. Di ladang milik Gin Gin daun-daun tanaman cabai Capsicum annuum berubah warna, semula hijau menjadi kekuningan. “Sekitar 5000 bibit terserang virus kuning karena kutu putih dan thrips. Gejalanya daun menguning dan keriting. Akhirnya pertumbuhan terhambat dan tanaman menjadi kerdil,” kata pebisnis bibit sayuran di Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu.
Padahal, lelaki kelahiran 5 Desember 1993 itu berencana menjual bibit berumur 30 hari pascasemai Rp200. Ia pun rugi satu juta rupiah. “Kalau sudah terkena virus itu, tidak bisa disehatkan lagi. Mau tak mau harus dicabut,” ujarnya. Serangan kutu putih memang sangat merugikan petani. Namun yang paling membahayakan ketika hama itu menjadi vektor atau pembawa virus cucumber mosaic virus (CMV).
Cegah
Menurut Manajer Pemasaran FMC Agriculture Manufacturing, Arya Yudas, “Kalau terkena virus, sudah tidak ada harapan lagi. Tanaman itu harus dicabut agar tidak menular ke tanaman lain yang masih sehat.” Satu-satunya cara untuk mengendalikan virus itu adalah dengan pencegahan. “Pencegahan yang efektif sejak di persemaian,” ujar Arya. Harap mafhum virus itu sudah mulai menyerang tanaman sejak di persemaian.

Beragam cara dapat petani lakukan untuk mencegah serangan virus di antaranya menggunakan benih yang tahan penyakit, sanitasi kebun, proteksi dari luar, dan penggunaan pestisida tepat guna. Sanitasi kebun meliputi mengendalikan gulma dan membersihkan sampah di sekitar kebun. Terakhir adalah penggunaan pestisida secara bijak. “Jika semua dilakukan, serangan virus bisa dikendalikan,” ujar Arya.
Untuk pestisida, maka gunakanlah yang terbukti efektif dan sesuai anjuran. “FMC sebagai produsen pestisida memiliki paket lengkap yang mampu menekan serangan virus itu hingga 90%,” ujar Arya. Hama kutu putih dan thrips sebagai vektor pun mati kutu—ungkapan yang bermakna tidak berdaya atau tidak dapat berbuat apa-apa. Paket itu dimulai dari persemaian hingga menjelang panen.

Gin Gin memahami hal itu. Sejak setahun silam, ia mengenal pestisida andal untuk mencegah serangan hama Bemisia tabaci itu. “Namanya verimark dan saya aplikasikan dua hari sebelum pindah tanam,” ujarnya. Dengan penggunaan pestisida itu, serangan virus menurun drastis dari yang mulanya 5.000 tanaman hanya tersisa 500 bibit. “Sudah sangat membantu meskipun masih ada sedikit yang terserang,” kata Gin Gin.
Bibit tanaman
Saat di persemaian, pestisida verimark memang andal menjaga bibit cabai yang masih lemah. Pestisida itu mengandung bahan aktif siantraniliprol 200 SC. Penggunaannya dengan menyemprotkan pada tanaman cabai 2 hari sebelum pindah tanam. “Dosisnya 25 ml untuk 1.000 bibit tanaman. Namun, sebelumnya di encerkan dengan 2,5 liter air,” ujar Arya. Di lahan, ancaman virus mematikan itu makin kuat.
Oleh karena itu, semprotkan pestisida preza sebagai tameng untuk menahan serangan kutu putih si pembawa virus. Penyemprotan pestisida berbahan aktif siantraniliprol 100 OD itu ketika tanaman berumur 14 hari dan 21 hari setelah pindah tanam. Menurut Arya dosisnya hanya 1 liter per hektare. Encerkan pestisida itu dengan 500 liter air, menyesuaikan umur tanaman.
Pestisida terakhir yang menjadi penuntas hama kutu putih adalah stargate 600 SC. Pestisida berbahan aktif klotianidin itu diaplikasikan ketika tanaman berumur 28 hari, 34 hari, dan 41 hari pascapindah tanam. Arya mengatakan, dosis penyemprotan 250 ml per hektare dengan konsentrasi 0,5 ml per liter air. Pestisida itu diperkenalkan sejak 2015. Selain pada cabai, kutu putih juga menjadi momok petani pepaya.

Serangan hama Paracoccus marginatus bisa merugikan pekebun hingga gagal panen. “Kutu putih yang hinggap di buah, akan meninggalkan jelaga. Bagian buah yang terkena jelaga itu akan mengeras dan tak enak dikonsumsi. Di sanalah petani merugi hingga gagal panen jika tak dikendalikan,” ujar Tri Budiyanti, S.P., M.Si, peneliti pepaya di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu), Solok, Sumatera Barat.
Beragam cara bisa dilakukan untuk mengendalikan kutu putih pada pepaya. Secara umum sama dengan pada cabai yaitu penggunaan bibit yang tahan, sanitasi kebun, dan penyemprotan pestisida. “Sejauh pengamatan saya, jenis pepaya yang sedikit serangan kutu putihnya yaitu pepaya lokal sri gading,” ujar Tri Budiyanti. Biji srikaya andal mengatasi serangannya sebagaimana riset Ahmad Sifa dan rekan.
Periset dari Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, membuktikan, ekstrak biji srikaya ampuh mengendalikan kutu putih pada Carica papaya. Pemberian 1% ekstrak biji Annona squamosa selama 72 hari mampu menekan serangan hama hingga 41%. Senyawa yang berperan di antaranya skuamosin dan asimisin. Dengan beragam cara pengendalian, maka tak ada alasan untuk takut pada si putih. (Bondan Setyawan)
