Tren kebun anggur seluas 0,1—1 hektare di berbagai daerah di Indonesia cenderung bertambah setiap tahun. Pasar menunggu pasokan anggur berkualitas dari kebun di dalam negeri.

Trubus — Sekitar 1.600 orang memadati kebun anggur Jayasri Nursery pada 2018. Tidak heran jika sekitar 400 kg anggur masak pohon di kebun yang berlokasi di Desa Purwodadi, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ludes terjual hanya dalam 3 jam. Jumlah pengunjung itu melampaui prediksi sang pemilik kebun, Faiz Hidayat S.Pd.T. Semula Faiz hanya menargetkan 300—400 pengunjung.
“Saya tidak menyangka pengunjung kebun sebanyak itu,” kata Fafa, sapaan akrab Faiz Hidayat. Apalagi harga jual anggur relatif mahal yakni Rp100.000 per kg sehingga ia mendapatkan omzet Rp40 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi, Fafa mengantongi laba Rp12 juta. Sebetulnya kebun seluas 1.200 m² itu bukanlah plot produksi, tapi kebun induk dan uji coba.
Tren meningkat
Faiz menggunakan sistem para-para sehingga buah anggur menggelantung dan cocok untuk berswa foto. Pengunjung memadati kebun Fafa karena itu satu-satunya agrowisata petik anggur di Banyumas. Meski begitu pengunjung tidak hanya dari Bayumas. Mereka datang dari daerah lain seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pengunjung tidak keberatan dengan harga anggur yang relatif mahal karena sesuai dengan kualitasnya.
Beragam warna, ukuran, dan bentuk anggur memenuhi kebun yang semula sawah itu. Yang paling penting mayoritas anggur produksi Fafa bercita rasa manis. Semua keunggulan itu lantaran ia mengembangkan anggur introduksi dari mancanegara. Bibitbibit anggur impor itu terbukti adaptif dan berbuah di Indonesia. Populasi 180 tanaman beragam varietas seperti jupiter, angelica, dan akademik.
Ia melengkapi kebun dengan atap berbahan plastik ultraviolet (UV) agar tanaman terlindung dari hujan. Irigasi tetes menjadi pilihan sebagai sistem pengairan karena lebih efektif dan efisien. Fafa memberikan 1,5 kg pupuk NPK (selama 4 bulan) sebagai sumber nutrisi. Ketika tanaman berbuah, ia menambahkan 250 g MKP racikan sendiri dan 250 g KNO3 saat buah berubah warna.

Sebetulnya Fafa membangun kebun induk itu sejak 2012. Saat itu ia masih tahap pengamatan dan pembelajaran budidaya anggur. Ia dan rekan bahkan berkunjung ke Ukraina untuk menimba ilmu budidaya anggur pada 2015. Selain kebun induk yang menjadi agrowisata, kini Fafa mempunyai kebun produksi berpopulasi 120 tanaman di lahan 700 m2. Kebun yang dibangun pada 2018 itu berbuah perdana pada 2019.
Saat itu ia menuai 120 kg anggur sehingga mendapatkan omzet Rp12 juta. Fafa tidak sendirian menikmati laba berkebun anggur. Nun di Desa Patalan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Danang Priyatmoko, S.T., memanen 200 kg anggur pada medio 2019. Ia hanya menjual 140 kg anggur seharga Rp100.000 per kg, sedangkan sisanya dibagikan kepada kerabat dan tetangga.
Danang mengutip laba sekitar 30% sehingga memperoleh laba Rp4,2 juta. Hasil panen masih sedikit karena itu buah perdana. Kebun anggur milik Fafa dan Danang menunjukkan tren penanaman druif—sebutan anggur di Belanda—di tanah air berkembang. Semula banyak pehobi terutama di perkotaan yang membudidayakan anggur di pekarangan. Kini beberapa pencinta anggur mengebunkan anggur di lahan 0,1—1 hektare.
Lebih menguntungkan

Pekebun tanaman anggota famili Vitaceae itu juga terdapat di berbagai daerah. Sekadar meyebut beberapa di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Batang, keduanya Provinsi Jawa Tengah, Palu (Sulawesi Tengah), Batam (Kepulauan Riau). Di Desa Gondang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, ada Tri Makno yang mengebunkan 600 anggur di lahan 2.000 m².
Kapasitas produksi Robban Grapes, nama kebun Tri, sekitar 400 kg per panen. Kebun anggur lainnya berlokasi di Dusun Sengkan, Desa Japerejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kebun berpopulasi sekitar 400 tanaman itu berbuah perdana pada medio 2019 sebanyak 100 kg. Sang empunya kebun, Muhamad Yusuf membagikan hasil panen perdana itu kepada kerabat dan tetangga.
Yusuf baru menjual hasil panen kedua pada penghujung 2019. Saat itu Kebun Anggur Sengkan milik Yusuf memproduksi sekitar 400 kg buah. “Saya hanya menjual 120 kg dari hasil panen kedua itu. Sisanya saya bagikan ke masyarakat,” kata pria asli Tuban, Jawa Timur, itu. Ia menjual weinrebe—sebutan anggur di Jerman—Rp100.000/kg sehingga menerima omzet Rp12 juta.

Menurut Yusuf laba bersih penjualan buah itu sekitar 30% sehingga ia menangguk untung Rp3,6 juta. Jadi, sebetulnya ia bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak jika semua hasil panen kedua dijual. Meski begitu pendapatan berkebun anggur lebih menguntungkan daripada menanam tebu. Sebelumnya Yusuf hanya mengandalkan tebu sebagai pendapatan utama. Padahal, ia hanya menerima omzet Rp9 juta setiap tahun dari hasil perniagaan tebu.
Itu yang menyebabkan Yusuf mencari komoditas lain yang lebih menguntungkan. Setelah mengumpulkan informasi, ia memilih anggur. Alasannya, “Anggur hanya satu kali tanam, tapi panen seterusnya. Selain itu harga buah anggur juga relatif tinggi,” kata pekebun anggur sejak 2018 itu. Keputusan Yusuf menanam anggur tepat. Rencananya ia menjual semua anggur di panen ketiga pada musim hujan 2020.
Jika hasil panen 400 kg, ia mendapatkan profit Rp12 juta selama budidaya 4 bulan. Jumlah itu jauh lebih banyak ketimbang membudidayakan tebu. Untungnya anggur pun dapat dipanen 3 kali setahun jika pertumbuhannya optimal. Fafa, Tri, Yusuf, dan Danang memang tidak asal berkebun. Mereka juga memperoleh laba dari penjualan buah segar. Mereka sepakat menanam viiniköynnös—sebutan anggur di Finlandia—menguntungkan (Baca Anggur Bikin Makmur halaman 14—15).
Permintaan belum terpenuhi
Fafa mengatakan, “Berkebun anggur tidak harus di lahan 1 hektare. Di kebun seluas 1.000 m² saja sudah menguntungkan.” Ia menghabiskan biaya produksi Rp50.000 per tanaman setiap panen. Jika ia memiliki 120 tanaman di plot produksi, ongkos produksi Rp6 juta. Setiap tanaman diatur memproduksi 2 kg anggur sehingga satu kebun menghasilkan 240 kg. Harga jual anggur Rp100.000/kg sehingga rekening tabungan Fafa bertambah Rp18 juta.
“Anggur merupakan komoditas buah tahunan yang dalam 8 bulan sudah berbuah dan menghasilkan,” kata pencinta anggur sejak 2012 itu. Saat ini hasil panen selalu habis di kebun. Bahkan, produksi belum memenuhi permintaan konsumen yang datang. Danang mengatakan pesanan anggur yang belum terlayani di kebunnya mencapai sekitar 1 ton buah sejak medio 2019 hingga September 2020.
Pekebun anggur sejak 2017 itu mengatakan, “Saya tidak menyangka masyarakat sangat antusias.” Namun, bukan berarti pasar anggur hanya untuk agrowisata. Ada pengepul buah yang meminta pasokan berapa pun jumlahnya kepada Danang. Ia belum bisa memenuhi permintaan itu. Fafa belum sanggup memenuhi permintaan 6 kuintal anggur per pekan dari seorang distributor buah.

Yusuf pun setali tiga uang dengan Danang dan Fafa. Ada permintaan hingga 100 kg per pekan yang belum dipenuhi. Yusuf pun meyakini lima tahun mendatang buah anggur pun masih habis di kebun. Belum menyentuh pasar. Dengan kata lain ia percaya budidaya anggur pada masa mendatang masih menjanjikan. Yusuf menyiapkan kebun seluas 6.000 m2 berpopulasi sekitar 2.000 tanaman yang ditanam secara bertahap sejak 2019.
Fafa pun berencana membuka lahan baru seluas 2.000 m² pada 2021. Danang juga membuka kebun baru 3.000 m2 pada 2021. Semua kebun baru itu dibangun untuk meningkatkan kapasitas produksi kebun. Dengan begitu permintaan yang belum terlayani bisa terpenuhi. Keberhasilan Fafa, Tri, Danang, dan Yusuf mengebunkan anggur menjadi inspirasi. Oleh karena itu, banyak kebun anggur baru hadir di sekitar kebun mereka.
Terdapat 5 kebun anggur baru masing-masing seluas sekitar 1.000 m² di Rembang. Fafa mengatakan, “Ada lebih dari 10 orang yang ingin berkebun anggur seluas 1.000 m². Lokasinya Jawa Tengah, Batam, dan Sumatera Utara.” Keberadaan kebun anggur skala mini tidak hanya di Jawa. Kebun anggur bemunculan di luar Pulau Jawa seperti di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Anggur menjanjikan
Yusuf pernah mengirimkan sekitar 400 bibit anggur ke Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Bahkan Fafa berniat membuka kebun baru 1 ha di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Ir. Emi Budiyati, pengembangan buah anggur di Indonesia sangat strategis. Alasannya sumber bibit ada, agroklimat mendukung, dan pasarnya tersedia.
Pekebun bisa menghasilkan anggur yang menyaingi buah impor jika menanam varietas unggul di tempat sesuai dan teknik budidaya yang baik. Produktivitas anggur di Indonesia lebih rendah daripada di negeri subtropis. Produkstivitas anggur di negara 4 musim mencapai 20 ton per hektare, sedangkan di Indonesia hanya 10 ton per ha. Namun, pekebun di Indonesia bisa 3 kali memanen anggur setahun. Total jenderal pekebun di tanah air berpotensi mendapatkan hasil panen 30 ton anggur per ha.

Business Development Manager PT Laris Manis Utama, Vendi Tri Suseno, mengatakan, pasar anggur di Indonesia tidak terbatas. “Anggur termasuk buah dengan permintaan tinggi di Indonesia,” kata Vendi. Badan Pusat Statistik mencatat impor anggur Indonesia cenderung meningkat (lihat tabel). Harap mafhum produksi anggur dalam negeri masih terbatas.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 luas kebun anggur di Indonesia hanya 237 hektare. Itu belum mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri. Konsumsi per kapita anggur di Indonesia mencapai 2,3 kg per kapita. Adapun jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta jiwa yang membutuhkan 61. 504 ton anggur. Oleh karena itu, produksi dalam belum mencukupi sehingga harus mendatangkan buah dari mancanegara.
Kriteria vínber—sebutan anggur di Islandia—kesukaan konsumen Indonesia yaitu bercita rasa manis dan tanpa biji. Warna bukan pertimbangan utama. Masyarakat tertentu lebih menyukai anggur berwarna hitam lantaran dianggap berantioksidan lebih tinggi. Vendi mengatakan perlu penelitian dan waktu untuk membuktikan budidaya anggur impor memang menguntungkan.
“Jika cost ratio budidaya anggur dalam negeri bisa bersaing dengan impor, prospeknya baik,” kata Vendi. Keberhasilan Fafa dan pekebun lain menanam anggur tidak semudah membalik telapak tangan. Hujan salah satu momok pekebun anggur karena memicu cendawan sehingga kebun mesti beratap (Baca Aral Berkebun Anggur halaman 16-17).
Kepada reporter Majalah Trubus, Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol, Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Dr. Tomy Perdana, S.P., M.M., mengatakan, pekebun juga mesti memikirkan pasar anggur sehingga dapat diketahui hasil produksi dijual ke mana. Jangan hanya berfokus pada produktivitas. Jika sudah ada kebun contoh yang baik, maka harus dipikirkan aspek pemasaran. Jika budidaya dan pemasaran berjalan beriringan, pekebun pun memperoleh keuntungan. (Riefza Vebriansyah)
