Menolak saran ayah menjadi pegawai negeri, lalu beternak patin yang memberikan laba bersih puluhan juta rupiah sebulan.

Setelah lulus kuliah, hubungan Bangun Adi Wahono S.Pi. dan sang ayah, Ridwan, mendingin. Bukan karena nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) Bangun rendah. Musababnya Bangun bertekad menjadi peternak ikan dan memajukan usaha budidaya lele dan gurami yang dirintis Ridwan. Sementara Ridwan menginginkan Bangun menjadi pegawai negeri sipil atau bekerja di perusahaan.
“Kami saling diam selama sebulan,” kata sulung dari 2 bersaudara itu. Bangun pun berusaha meyakinkan sang ayah agar merestui keputusannya. Sikap Ridwan melunak setelah Bangun menjadi mitra peternak pabrik filet atau irisan daging tipis dari ikan patin. Pembudidaya lele dan gurami sejak 1994 itu pun mendukung penuh Bangun dan menyerahkan pengelolaan kolam ikan kepada Bangun.
Omzet besar
Bangun mengatakan, “Saya senang orang tua mendukung. Artinya saya juga meringankan beban orang tua.” Sejak medio 2016 Bangun mengelola semua kolam ikan rintisan sang ayah. Peternak di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu membuat terobosan besar. Bangun berhasil meyakinkan sang ayah untuk beternak patin serta meninggalkan gurami dan lele.

“Saat itu harga gurami dan lele anjlok, sedangkan tren patin tengah bagus,” kata pria berumur 24 tahun itu. Apalagi ada program kemitraan dengan pabrik filet patin sehingga pemasaran hasil panen Pangasius hypophthalmus jelas. Ketika Bangun memelihara gurami dan lele tidak ada kepastian pasar karena tengkulak membeli hasil panen. Kini omzet Bangun Rp145 juta dari perniagaan10 ton patin saban bulan. Setelah dikurangi ongkos produksi Rp10.000/kg ia mengantongi laba Rp45 juta per bulan.
Sementara profit penjualan 1,5 ton patin setiap hari minimal Rp375.000 atau Rp9,3 juta per bulan. Ia mengutip laba minimal Rp250 per kg ikan. Bangun menggunakan perusahan miliknya dan rekan—PT Fajar Samudera Abadi—sebagai pemasok patin ke pabrik filet. Oleh karena itu, keuntungan penjualan dibagi dua sehingga ia memperoleh keuntungan Rp4,6 juta. Total jenderal rekening tabungan Bangun bertambah Rp49,6 juta saban bulan.
Laba bersih itu keruan saja lebih besar daripada gaji karyawan yang baru masuk ke perusahaan atau pegawai negeri sispil seperti harapan ayahnya. Semula Bangun menjadi petani mitra pabrik filet di Tulungagung, PT Delta Mina Perkasa. Waktu itu ia memanen sekitar 14 ton patin dari 4 kolam setiap 6 bulan. Kapasitas produksi Bangun perlahan meningkat. Kini pria kelahiran Tulungagung itu mengurus 25 kolam patin.

Ia mengatur penebaran benih sehingga bisa panen 10 ton ikan anggota famili Pangasiidae itu setiap bulan. Berkat peningkatan produksi status Bangun pun berubah. Ia tidak lagi menjadi petani mitra pabrik filet, tapi tetap menjual patin ke tempat pengolahan itu. “Sejak Juni 2018 saya menjadi pemasok patin ke pabrik filet,” kata alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu.
Modal sendiri

Bangun menggunakan modal sendiri untuk mengelola kolam. Sebelumnya pabrik filet memasok pakan menjelang panen. Bangun pun mesti menyetor 1,5 ton patin setiap hari atau sekitar 30 ton per bulan. Patin produksi kolam sendiri belum mampu memenuhi pasokan itu. Oleh karena itu, Bangun menjalin kemitraan dengan peternak lain. Ada sekitar 10 peternak patin siam yang bekerja sama dengan anak pasangan Srimiatin dan Ridwan itu.
Keberhasilan Bangun mengembangkan patin tidak semudah membalik telapak tangan. Pada Juni—Agustus 2018 Bangun kehilangan lebih dari 100 kg patin yang mati karena peralihan cuaca. Kondisi cuaca ekstrem pada Juni—Agustus setiap tahun salah satu kendala beternak ikan bernilai ekonomis tinggi itu. Kondisi serupa juga dialami peternak ikan lainnya seperti lele dan gurami. Solusinya pastikan betul kualitas air terjaga.
Jika air bagus kematian ikan komoditas unggulan budidaya di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi itu dapat dikurangi. Sebagai pemasok baru, Bangun pun kesulitan mesti menemukan peternak yang bersedia menjual hasil panen ke Bangun. Harap mafhum mayoritas peternak sudah memiliki pemasok langganan. Untuk mengatasinya ia mencari peternak baru yang belum memiliki pemasok.

Bangun pun rela hanya memperoleh laba Rp250 per kg patin hasil penjualan ke pabrik filet. Semestinya ia bisa memperoleh laba Rp500 per kg. Lebih lanjut ia menuturkan pasar patin masih luas. “Industrialisasi patin berpeluang besar berkembang karena tingkat konsumsi ikan di Indonesia meningkat,” kata Sekretaris 2 Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia Tulungagung (APCITA) itu. Buktinya Bangun dan rekan bersama investor membuka lahan 1 hektare untuk memenuhi permintaan patin. (Riefza Vebriansyah)
