Sunday, January 25, 2026

Laba Besar Bisnis Mangga

Rekomendasi
- Advertisement -

Mengawali bisnis mangga nyaris tanpa modal. Kini memasok 2—5 ton buah mangga setiap 2—3 hari.

Trubus — Muhamad Yunus menyortir satu per satu mangga arumanis klon 21. Ia memilah-milah buah Mangifera indica sesuai tingkat kematangan, bobot, dan kemulusan kulitnya. “Kalau masak pohon cirinya bagian ujung mangga sudah empuk,” ujar pemuda 25 tahun itu. Hari itu ia kebanjiran permintaan dari berbagai daerah di tanah air seperti Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, Pekanbaru (Riau), dan Jakarta.

“Saat panen raya saya bisa menjual sekitar 3 ton mangga per dua hari,” ujar pebisnis di Desa Oro-oro Ombo Wetan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu. Ia tak membudidayakan sendiri tanaman mangga. Yunus bersama rekannya Mamad, mengumpulkan mangga dari masayarakat di sekitar rumahnya yang terkenal sebagai penghasil mangga berkualitas. “Dari desa saya tinggal masih kurang, sehingga saya juga mencari dari desa lain,” ujar Yunus.

Bermitra dengan petani

Muhamad Yunus memulai bisnis mangga sejak 2017. (Dok. Bondan Setyawan)

Yunus bekerja sama dengan 50-an petani mangga di Pasuruan, Jawa Timur, untuk memenuhi permintaan pasar. Syaratnya buah berbobot minimal 350 g untuk kualitas super plus masak pohon. Sementara bobot di bawahnya 250—349 g termasuk mangga ceri. “Di bawahnya lagi masuk sortir, tetapi tetap laku dengan harga lebih rendah,” ujarnya. Yunus menerima semua mangga dari petani.

“Bahkan kalau ada buah yang dimakan codot, tetap saya terima sebagai penghargaan kepada petani. Tinggal nanti harganya kami sepakati dengan petani,” ujarnya. Dari perniagaan itu, Yunus mengambil keuntungan bersih sekitar Rp1.000 rupiah per kg untuk mangga masak pohon dan Rp3.500 per kg untuk mangga tua pohon. “Kalau masak pohon tingkat kematangan sudah 95%, kalau tua pohon tingkat kematangan sekitar 80%,” ujarnya.

Selama ini Yusuf memasarkan rata-rata 1—2 ton mangga masak pohon dan 2—3 ton mangga tua pohon per 2—3 hari saat musim buah pada September—Maret. Namun, ketika sedang tidak musim, kemampuan pasok Yusuf hanya rata-rata 500—1.000 kg per dua hari. Ia berhenti memasok buah mangga pada Mei—Juli karena keterbatasan buah.

Mangga masak pohon untuk memenuhi pasar swalayan di Jakarta, sedangkan tua pohon untuk pasar luar pulau seperti Medan, Provinsi Sumatera Utara, Pontianak (Kalimantan Barat), Pekanbaru (Riau), dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Harap mafhum, pengiriman mangga ke luar pulau membutuhkan waktu 2—3 hari. Sementara mangga tua pohon butuh 2—3 hari untuk matang sempurna. “Ketika sampai dikonsumen luar pulau, mangga itu sudah siap jual,” ujarnya.

Yunus memasok beberapa pengepul. Pengepul mangga langganan Yunus yang mengirim ke pasar swalayan di Jakarta. Menurut Yunus, banyak pemasok buah yang mau menerima ketika stok buah sedikit, tetapi undur diri ketika banjir buah. “Yang penting pengepul itu mau menerima berapa pun buah yang saya kirim. Itu sudah sangat membantu. Soal harga tinggal kesepakatan saja,” ujarnya.

Ketika stok mangga sedikit, pengepul itu mampu membeli mangga kiriman Yunus Rp33.000 per kg. Namun ketika banjir buah, harga mangga itu turun hingga separohnya atau Rp15.000 per kg. “Saya tetap senang meski harga jual turun. Karena tinggal main kuantitas saja,” ujarnya. Yunus berharap, pengepul itu tetap mau bekerja sama ketika stok sedikit maupun saat panen raya.

Beragam pekerjaan

Kardus untuk pengemasan keluar
daerah. (Dok. Bondan Setyawan)

Yunus menekuni bisnis mangga pada 2017. Ia memulai bisnis itu tanpa modal karena pembeli mentransfer terlebih dahulu uangnya. Semula pekerjaan anak pertama dari dua bersaudara itu berubah-ubah. Pada 2013 ia berjualan sandal di Bangil, Kabupaten Pasuruan. Namun, ia menghentikan perniagaan itu pada pertengahan 2013 karena untungnya tipis. Ia kemudian membuka hiburan odong-odong untuk anak pada 2014. Yunus akhirnya menjual odong-odong untuk modal membangun rumah.

Untunglah Yunus tak patah semangat. Setahun berselang, ia banting setir membuka warung kopi di desanya. Ia memanfaatkan lahannya yang berukuran 8 m x 7 m. Di kedai itu Yunus menyediakan beragam menu kopi dan mi rebus. Usaha itu masih berjalan hingga sekarang. Lulusan SMK Yadika itu mencoba peruntungan di kumbung jamur dengan membudidayakan jamur tiram.

Semula hanya menumbuhkan 1.000 baglog pada 2015. Yunus juga menyudahi agribisnis jamur tiram karena kerumitan proses budidayanya. Ia cepat beralih ke bisnis buah mangga pada 2017 karena tingginya permintaan pasar. Desa tempat ia tinggal merupakan sentra arumanis. Yunus menjaga kualitas buah dengan mensyaratkan buah matang pohon atau buah tua pohon. Itulah sebabnya permintaan terus meningkat.

Sebagai gambaran, ketika memulai bisnis ia hanya memasok 300 kg per dua hari. Namun, saat itu kemampuan pasoknya hingga 3 ton per 2 hari. Menurut Yunus sebetulnya permintaan lebih besar lagi, hingga 20-an ton per 2 hari. Namun, ia belum sanggup memenuhi permintaam itu akibat keterbatasan pasokan. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img