Mengebunkan avokad cukup prospektif karena menghasilkan keuntungan tinggi.

Satu-dua pohon avokad tumbuh di halaman rumah-rumah di Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat. Menurut penangkar avokad di Kelurahan Kukusan, Marjuni, karena hanya tumbuh 1—2 pohon di halaman rumah, warga pun merawat seadanya. Para pemilik pohon biasanya hanya menyiram bibit Persea americana dengan air cucian beras atau air cucian ikan saat usai memasak. “Hanya beberapa warga yang rutin memberikan pupuk,” ujarnya. Meski hanya mendapat perawatan ala kadarnya, pohon miki di kawasan itu tetap tumbuh subur.
Budidaya intensif
Pemilik pohon avokad di depan rumah Marjuni bahkan dapat berbuah lebat. Kualitas buah juga bagus, berdaging buah kuning, rasa legit dan sedikiti manis. Itulah sebabnya saat sedang musim berbuah banyak pengepul keliling ke rumah warga yang memiliki avokad untuk memborong buah. “Saya juga kerap kesulitan mendapatkan buah untuk memenuhi pesanan pelanggan karena harus berebut dengan pengepul,” tutur Marjuni.
Selain menangkarkan bibit tanaman buah, Marjuni juga pemasok buah avokad miki itu. Meski merawat avokad relatif mudah, bukan berarti perawatan sekadarnya juga diterapkan saat mengebunkan avokad di lahan yang lebih luas. Menurut pekebun avokad di Kaliurang, Yogyakarta, Gun Soetopo, pemupukan mesti rutin agar tanaman tumbuh optimal. Gun memberikan 20 kg pupuk kandang dan 2 kg NPK berimbang per pohon setiap 4 bulan.
Pekebun avokad di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Eflin Sirait, bahkan rutin menyemprot tanaman dengan fungisida yang juga mengandung zat pengatur tumbuh. Frekuensi penyemprotan setiap dua pekan saat musim hujan dan sebulan sekali saat kemarau. Dengan perawatan yang lebih intensif pun avokad masih menjanjikan keuntungan tinggi. (Imam Wiguna)
