Lima varietas anggur prospektif untuk budidaya skala kebun.

Trubus — Adi Triyanto mewujudkan impian berkebun anggur di Dusun Rejopuro, Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Sejak 2018 Adi menanam anggur di lahan 8.000 m². Jenisnya transfiguration dan manicure finger. Keduanya anggur asal Ukraina. Transfiguration masuk ke Indonesia pada 2010. Jenis manicure finger merupakan anggur baru.
Populasi manicure finger di lahan Adi berketinggian 400 meter di atas permukaan laut mencapai 350 tanaman. Ia menanam berjarak 1,5 m x 2 m. Pertumbuhan anggur baru itu amat vigor. Pada umur sebulan saja, tinggi tanaman mencapai 50 cm. Bandingkan dengan anggur ternsfiguration, pada umur sama tingginya hanya 30 cm. Magori atau panen perdana pada Januari—Maret 2020 ketika tanaman berumur 2 tahun.
Tahan pecah

Produktivitas manicure finger cukup baik, yaitu 4 kg per tanaman. Padahal, ketika berbuah cuaca tak mendukung akibat curah hujan tinggi. Menurut Adi idealnya produksi manicure finger pada panen perdana mencapai 10 kg per tanaman. Adi mengatakan, buah manicure finger agak lonjong. Bagian ujung mengecil. Boleh jadi karena sosok itulah ia disebut manicure finger. Karakter itu lebih disenangi konsumen.
“Menurut yang sudah menyicipi kedua buah dari kebun saya, manicure finger manis, segar sedikit masam, dan kres. Kalau transfiguration manisnya tidak membuat nagih,” kata Adi. Buah manicure finger kuat dan tidak mudah pecah meskipun tanaman terserang penyakit. Biasanya anggur yang terjangkit penyakit akan pecah buahnya.

Selama merawat manicure finger Adi belum pernah menemukan pecah buah. “Pasar sangat senang dengan buah yang mulus dan cantik,” kata Adi yang pensiun dini agar dapat berkebun anggur. Di pasaran ekspor dan domestik, masih terbatas buah anggur manicure finger. Itu karena yang mengebunkan manicure finger masih terbatas. Adi mengatakan, Jepang, Ukraina, dan Vietnam baru mengebunkan manicure pada 2017.
Menurut pria berumur 35 tahun itu kekurangan manicure finger daunnya sangat rentan cendawan dan bakteri seperti kresek, blast, dan hawar daun. Adi menyemprotkan fungisida berbahan zat aktif mankozeb 64% dan mefenoksam 4%, mengandung belerang, serta mengandung tembaga. “Selama kita bisa menanggulangi jamurnya, manicure finger sangat layak menjadi varietas yang dikebunkan,” kata Adi.
Sudah teruji
Pekebun di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ir. Tatag Hadi Widodo, M.M., memgatakan, tiga fase anggur baru yang diintroduksi ke Indonesia. Fase pertama sejak 1970-an yang hingga kini dikembangkan melalui kultur jaringan. Fase kedua adalah varietas-varietas yang diintroduksi sejak 2010-an, kerap disebut varietas “jadul”. Fase ketiga anggur-anggur impor terbaru seperti shince muscat, sonaka, dan manicure finger.
Tatag Hadi lebih memercayai varietas-varietas yang sudah lama untuk dikebunkan, yaitu varietas-varietas yang diperbanyak secara kultur jaringan karena lebih terjamin bebas penyakit. “Kalaupun bukan dari kuljar, untuk betul-betul mengetahui adaptivitas dan ketahanan anggur impor di Indonesia, setidaknya harus dilihat pertumbuhannya pada jangka waktu 10 tahun,” kata Tatag.

Menurut Tatag beberapa jenis seperti varietas laura, angelica, dan oscar memiliki performa bagus untuk dikebunkan. Ketiganya diintroduksi pada era kedua. Ketiga jenis anggur yang masing-masing ditanam sebanyak 20—30 tanaman oleh Tatag telah berbuah dua kali. Ketiganya memiliki kualitas buah yang baik seperti ukuran beri besar, buah keras, kemanisan minimal 20 briks, dan tidak mudah pecah.
Tanaman genjah, magori atau panen perdana pada 6—8 bulan setelah tanam. Umur produktif tunas aktif sekitar 1,5 tahun dan dapat dipanen setidaknya 2 kali dalam setahun. “Ketiga varietas itu kompatibel dengan batang bawah varietas lokal isabella,” ujar Tatag. Laura varietas yang paling rajin berbuah. Tatag menyandingkan produktivitas laura dengan jupiter. Angelica dan oscar juara di cita rasa buah.
Rasa buah angelica eksklusif dan banyak penggemarnya secara global. Adapun buah oscar memiliki kadar masam yang sangat rendah meskipun kematangan buah baru mencapai 60—70% sehingga masih sangat layak dikonsumsi. Biasanya buah baru terasa manis ketika tingkat kematangan 80% atau waktu panen. Menurut alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya itu sifat oscar mirip varietas jupiter.
Di Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Rio Aditya, mengembangkan varietas terbaru dari Kementerian Pertanian. Nama varietas itu satria tamansari. Ia menanam 20 tanaman satria tamansari. Rio mengatakan anggur satria tamansari layak dijadikan varietas perkebunan. Musababnya satria tamansari tahan terhadap perubahan cuaca.
Selain itu, buah satria berwarna merah, rasa manis dengan tingkat kemanisan 20o briks, dan ukuran buah cukup besar setara diameter 3—3,5 cm. Rio mengatakan satria tamansari sempat dikomentari perwakilan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro). Dibandingkan dengan salah satu varietas ungulan Balitjestro, prabu bestari, satria tamansari dinilai lebih unggul performa buahnya.
“Tekstur dagingnya seperti jeli, kenyal,” ungkap pria berumur 35 tahun itu. Buah akan matang setelah 135 hari setelah pemangkasan. Ketika buah matang sempurna, rasa masam buah akan menghilang. Satria tamansari lebih bagus ditanam on root atau bersama dengan akarnya ketimbang menggunakan batang bawah atau grafting. Bila ingin menggunakan batang bawah, harus meneliti batang yang cocok untuk satria tamansari.(Tamara Yunike)
