Di tengah dorongan pemanfaatan energi terbarukan, limbah agroindustri mulai dilirik sebagai sumber bahan bakar alternatif. Salah satunya limbah penyulingan rimpang jahe (Zingiber officinale) yang berpotensi diolah menjadi biobriket bernilai guna.
Peneliti dari Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Prof. Anny Sulaswatty, mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah tersebut menjadi biobriket berkualitas. Inovasi itu sekaligus mendukung transisi energi bersih dan penerapan ekonomi sirkular.
Peningkatan produksi minyak atsiri seperti akar wangi, sereh wangi, kayu manis, cengkeh, jahe, hingga kayu-kayuan menghasilkan limbah padat melimpah. Limbah itu berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket untuk mendukung energi berbasis biomassa.
Menurut Anny, banyak limbah biomassa dapat diolah menjadi biobriket dengan syarat memiliki nilai karbon minimal 40%. Persyaratan itu menjadi faktor penting agar bahan dapat menghasilkan energi optimal.
Pemanfaatan limbah rimpang jahe dinilai menjanjikan karena masih mengandung lignoselulosa. Komponen tersebut dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat melalui proses karbonisasi dan pencetakan.
Limbah padat rimpang jahe memiliki kandungan lignin tinggi mencapai 45,98%. Melalui proses pirolisis, kualitas bahan dapat ditingkatkan sehingga layak menjadi biobriket.
Penelitian ini berfokus pada pengembangan biobriket berbasis biochar dari limbah penyulingan jahe. Evaluasi berbagai jenis perekat dilakukan untuk memperoleh karakteristik produk yang optimal.
Perbedaan jenis perekat memengaruhi sifat fisik, mekanik, dan termal biobriket. Parameter yang diamati meliputi kadar air, abu, zat terbang, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, dan nilai kalor.
Optimasi jenis perekat bertujuan menghasilkan biobriket sesuai standar mutu bahan bakar padat. Produk diharapkan memiliki performa pembakaran stabil dan ramah lingkungan.
Proses pembuatan dimulai dari pengeringan limbah penyulingan jahe. Bahan kemudian dikarbonisasi menjadi biochar sebelum dicampur perekat dan dicetak.
Biobriket yang dihasilkan diuji karakteristiknya melalui berbagai parameter. Analisis fisikokimia juga dilakukan untuk melihat perubahan struktur dan sifat material.
Hasil penelitian menunjukkan proses karbonisasi meningkatkan kandungan karbon dan membentuk struktur lebih berpori. Pemilihan perekat yang tepat menghasilkan biobriket dengan densitas dan kekuatan mekanik lebih baik.
Penelitian ini memberikan solusi pemanfaatan limbah penyulingan jahe yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan. Limbah kini dapat diubah menjadi bahan bakar padat bernilai ekonomi lebih tinggi.
Hasil riset diharapkan menjadi dasar pengembangan teknologi pemanfaatan biomassa. Penerapannya berpotensi dilakukan di industri minyak atsiri, herbal, dan UMKM.
Pengembangan biobriket dari limbah pertanian menjadi alternatif menjanjikan di tengah kebutuhan energi terbarukan. Teknologi ini juga membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Selain itu, pemanfaatan limbah biomassa mampu menekan emisi karbon dan meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah. Nilai tambah bagi sektor pertanian dan agroindustri pun ikut meningkat.
Melalui penelitian ini, limbah biomassa tidak lagi dipandang sebagai residu yang harus dibuang. Limbah justru menjadi sumber daya terbarukan bernilai ekonomi tinggi.
Pendekatan tersebut diharapkan mendorong pemanfaatan limbah secara optimal. Hal ini sekaligus memperkuat ekonomi sirkular dan mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia.
