Friday, May 24, 2024

Liukan Blackmoor Membungkam Singapura

Rekomendasi
- Advertisement -

Namun, ketika menerima piala, senyum mengembang di wajahnya. Perihnya luka seperti tak dirasakan saat blackmoor koleksinya merebut gelar grand champion kontes bergengsi Fancy Goldfish Competition 2004 di Singapura.

Harsono pantas bangga. Selain blackmoor, 2 maskoki lainnya—oranda dan ryukin—pun merebut juara pertama di kelasnya. Kontes maskoki itu diselenggarakan oleh Qian Hu Fish Farm (secara harfiah berarti seribu danau, red). Farm yang didirikan oleh Yap Tik Huai pada 1985 itu bermarkas di Sungeitengah Agrotechnology Park, kirakira 30 menit perjalanan dari Bandara Changi. Kini generasi kedua—duet Kenny Yap dan Yap Hey Cha—mengendalikan perusahaan yang mengekspor 500 spesies ikan hias ke 60 negara.

Peserta kontes membeludak. Menurut catatan panitia adu molek itu diikuti oleh 300 maskoki. “Sepanjang pengalaman saya itulah lomba maskoki dengan peserta terbanyak,” ujar YB Hariantono, salah satu juri. Harsono satu-satunya hobiis Indonesia yang menyertakan ikannya. Peserta mancanegara juga datang dari Cina dan Malaysia. Hobiis maskoki tuan rumah Singapura, tampak mendominasi di berbagai kelas.

Ketat

Adu bagus-bagusan itu dibagi 6 kategori, yakni dragon eye, mutiara, oranda, ranchu, ryukin, dan varietas langka. Setiap kategori terdiri atas 2 kelas, masing-masing kurang dari 14 cm dan lebih dari 14 cm. Rata-rata kualitas maskoki cukup bagus, terutama di kategori ryukin.

Sayang, beberapa ikan di kelas mutiara <14 cm sirip ekor dan dorsal kurang bagus. Namun, secara umum mutu ikan amat baik. Pantas bila persaingan ketat tak terelakkan. Tiga juri masing-masing YB Hariantono dari Indonesia, Patrick Tan (Malaysia), dan Louis Chan (Guangzhou, Cina) tetap objektif memberi penilaian.

Penjurian kontes yang berlangsung di bilangan Sungeitengah, Singapura, itu dimulai pukul 09.00 waktu setempat atau 08.00 WIB hingga tengah malam. Pada

tahap pertama, setiap juri memilih 5 nominasi di masing-masing kelas. Ikanikan terpilih itu barulah dinilai.

Berbagi 3

Di kelas ranchu >14 cm, mahkota jawara direbut black ranchu koleksi hobiis tuan rumah. Red ranchu menyusul di belakangnya. Yang harus dicatat, black demekin kampiun ke- 2 di kelas dragon eye berkualitas sangat prima. Meski belum sebaik juara pertama, ia berpotensi menjadi ikan bermutu.

Peserta kelas oranda >14 cm amat variatif. Selain maskoki bertipe tubuh pendek, ada pula tipe tubuh panjang yang dinilai secara top view. Sangat disayangkan kampiun kelas varietas langka >14 cm—lionhead merah putih berpompom—, justru bukan ikan yang benar-benar langka. “Ikan langka misalnya black egg fish mungkin jarang dipelihara orang,” ujar Hariantono.

Para jawara pertama di setiap kelas >14 cm lalu bertarung kembali untuk memperebutkan gelar prestisius: grand champion. Jadi ada 6 kandidat peraih gelar bergengsi itu masing-masing mewakili kriteria dragon eye, mutiara, oranda, ranchu, ryukin, dan varietas langka. Indonesia dan tuan rumah masing-masing menempatkan 3 ikannya.

Menang mutlak

Prestasi luar biasa ditorehkan oleh hobiis maskoki Indonesia, Harsono Harjadi. Tiga jenis maskoki miliknya—blackmoor, oranda, dan ryukin—maju ke babak grand champion setelah mengatasi rival-rivalnya di masing-masing kelas. Sebelum melaju ke babak grand champion, balckmoor, misalnya, menyingkirkan 19 ekor lawannya. Dibilang luar biasa karena selama ini maskoki Indonesia dipandang sebelah mata oleh hobiis Singapura.

Namun, ikan yang dibawa Harsono menepis pesimisme hobiis maskoki negeri jiran itu. Buktinya, ketiga juri sepakat memilih blackmoor sebagai sang kampiun. Itulah sebabnya penjurian untuk memilih peraih grand champion relatif cepat dan praktis tanpa perdebatan berarti.

Apa keistimewaan ikan sepanjang 26 cm? “Belum pernah saya menemukan ikan seperti itu. Ikan itu sempurna. Kalau kalangan juri bilang, ikan itu muscular (berotot, red), kekar seperti binaragawan,” kata Hariantono. Hobiis di Pulomas, Jakarta Timur, itu meraih sejumlah uang dan 3 buah akuarium sebagai hadiah.

Antiklimaks

Di kategori < 14 cm, ikan dilombakan dalam pasangan. Sebuah akuarium diisi 2 ekor dari jenis yang sama. Oleh karena itu keseragaman pasangan juga diperhitungkan.

Seperti umumnya dalam kontes-kontes maskoki, peserta terbanyak kategori itu adalah kelas ranchu. Setidaknya 30 akuarium terisi ranchu <14 cm. Sepasang ranchu merah putih berukuran kecil akhirnya meraih juara. Moor triwarna yang mutunya tak setara, justru merebut takhta di kelas dragon eye < 14 cm.

Mereka mengalahkan pasangan black demekin dan red demekin yang  masing masing harus puas di urutan ke-2 dan ke-3. Antiklimaks terjadi di kelas oranda <14 cm yang hanya diikuti oleh 3 pasang ikan. Juri pun langsung menentukan jawara ke- 1 sampai ke-3 tanpa melalui babak penyisihan. Hal serupa terjadi di kelas varietas langka < 14 cm.

Kontes di Singapura setidaknya mengubah citra maskoki Indonesia yang selama ini dicap kurang bermutu oleh hobiis negeri jiran itu. “Orang Singapura tak bisa memandang kita rendah,” ujar Harsono. Pamor ikan hias kelangenan itu pun terdongkrak seiring maraknya tren di tanah air. (Sardi Duryatmo)

Ke Tumasik Tanpa Target

Saat berangkat ke Singapura, tak terbersit di benak Harsono Harjadi bakal menang besar. Harsono membawa masing-masing seekor oranda dan blackmoor, serta 2 tossa yang dikemas dalam kantong terpisah. Mereka dipilih lantaran kondisinya prima. Pria 43 tahun itu berangkat ke Tumasik–nama lama Singapura—tanpa target apa pun. Meski demikian ia bukannya tanpa persiapan.

Harsono memantau koleksinya—total berjumlah 200 ekor—2 bulan sebelum kontes. Lalu 2 pekan prakontes, ia mempersiapkan koleksinya. Mula-mula ikan dipindahkan dari kolam ke akuarium. Ayah 3 anak itu membangun 9 kolam di atas garasi rumahnya.

Sebuah akuarium 100 cm x 60 cm x 40 cm dihuni satu ekor. Tujuannya agar ikan beradaptasi. “Ikan jadi tak kagetan. Di akuarium kan seolah-olah ada cerminnya,” kata Harsono.

Ikan potensi

Pemindahan itu juga bermanfaat agar ia gampang memantau kesehatan ikan. Separuh air akuarium diganti setiap hari—biasanya sepekan sekali—untuk menjaga ikan tetap prima. “Delapan puluh persen penyakit ikan bisa dihindari dengan air yang bagus,” katanya. Pakan diberikan sekali sehari dengan volume satu sendok makan. Pembersihan akuarium dan pemberian pakan dilakukan pada pagi hari.

Selain itu Harsono juga memberikan conditioner water supaya ikan tak mudah luka. Volumenya 5 cc per 40 liter. Tiga hari sebelum berlaga maskoki kebanggaannya dipuasakan. Karena lapar, begitu turun kontes ikan tampak lincah dan agresif.

Ikan-ikan terseleksi kemudian dikemas dalam plastik terpisah. Selasa 2 Februari 2004 pukul 06.30, hobiis di Pulomas, Jakarta Timur, itu terbang ke Singapura. Di sana untuk sementara maskoki dititipkan di kolam sahabatnya, Alvin Liem. Baru pada Kamis—sehari sebelum penjurian—koleksinya diantar ke arena kontes.

Pelipur lara

Pada hari yang sama ia terbaring di sebuah kamar National University Hospital untuk menjalani operasi. Pengusaha besi konstruksi itu mendengar kabar soal kemenangan koleksinya dari YB Hariantono, salah satu juri. Di mata Hariantono, Harsono hobiis yang piawai mengendus potensi seekor ikan.

“Ada 2 tipe hobiis. Orang yang beli ikan bagus supaya menang kontes. Harga ikan berapa pun tak masalah, yang penting menang. Orang-orang seperti itu yang marah kalau ikannya kalah kontes. Ada juga orang yang beli ikan berpotensi saat masih kecil, dipelihara, dan setelah besar dipersiapkan untuk lomba. Harsono tipe hobiis yang kedua,” papar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu.

Para peraih jawara itu dibeli saat berumur 7—8 bulan. Kelahiran Malang 3 Maret 1961 itu membeli blackmoor via importir di Jakarta pada November 2002; oranda, April 2003. “Membeli ikan kecil kepuasannya lebih besar,” kata alumnus Teknik Industri Michigan State University itu.

Kepuasan itulah yang kini dirasakan penggemar jalan kaki. Blackmoor grand champion sebelumnya meraih gelar serupa di Aquavagansa 2003 dan Gadjah Mada Fishlook. Itu bukti pilihan Harsono tak keliru. (Sardi Duryatmo Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Panen Cuan dari Berbisnis Domba Menjelang Hari Raya Idul Adha

Trubus.id—Peternak asal Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur, Mohammad Huda Khairon dapat menjual 4.000 domba menjelang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img