Lou han kategori free marking A meraih best of best. Pehobi menawar ikan kampiun itu Rp150 juta.

Apakah Anda akan melepas seekor ikan ketika ada yang membeli Rp150 juta? Simon Chin menolak harga fantastis itu. Ikan berumur 1,5 tahun itu mengikuti kontes lou han di Mall Seasons City, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, pada 26 September 2018 dan meraih gelar best of the best. Sebelumnya ikan lou han itu menjadi yang terbaik di kelas free marking A. Juri kembali mengadu juara setiap kelas untuk menentukan gelar bergengsi itu.
Simon Chin, pehobi lou han asal Singapura, mempertahankan koleksinya yang pernah meraih gelar serupa di Singapura dan Malaysia. Pehobi asal Tiongkok menawar ikan kampiun itu US$10.000 setara Rp150 juta. Menurut juri asal Surakarta, Jawa Tengah, Agus Triono, lou han jawara kelas free marking A itu layak mendapat best of best. Musababnya, selama kontes performanya konsisten dan paling bagus.
Terbaik
Agus mengatakan, “Mulai tahun ini ada penghargaan best of best, berarti juara tiap kelas bisa diadu. Ikan muda pun bisa dapat best of best tidak berarti kelas besar saja.” Penilaian ikan kini lebih transparan. Poin dan hasil penilaian terpampang di setiap akurium ikan juara. Beberapa kriteria yakni kesan secara keseluruhan mempengaruhi 12,5% dari total penilaian, kepala 17,5%, wajah 5%, bentuk tubuh17,5%, taburan mutiara17,5%, warna 15%, dan sirip 15%.

Adapun jika terdapat cacat bisa mengurangi poin. Ikan peraih best of best itu mendapat total poin dari 3 juri sebesar 22.988,75 dengan poin rata-rata 7.662,92. Salah satu penyumbang poin terbanyak yakni dari penilaian mutiara mencapai 1493,33 poin dari penilaian 3 juri. Ikan lain yang juga mendapat gelar bergengsi young champion adalah lou han milik pehobi dari tim Aries, Jeffry Tanadi.
Ikan muda bernomor akuarium 187 itu sebelumnya menjadi juara ke-1 di kelas chin hwa B. Menurut Agus syarat menjadi champion adalah juara ke-1 di kelas tertentu dan tanpa minus atau cacat. Menurut panitia acara, Nelsen Hartono, acara Indonesia Lou han Competition Liga rutin digelar 4—5 kali saban tahun. Total 323 ikan mengikuti kontes. Para pehobi dari kota-kota besar dari seluruh Indonesia berpartisipasi.
Bahkan, pehobi dari Singapura pun turut serta. Tiga juri dari Perhimpunan Pencinta Lou han Indonesia (P2LI) menilai kontes. Gelaran liga ke-3 pada 2018 diselengarakan di Season City, Jakarta Barat. Lazimnya kontes lou han diselenggarakan di WTC Manggadua, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Rawat Jawara
Lou han peraih gelar best of best koleksi Simon Chin hasil tangkaran pehobi di Surabaya, Jawa Timur. Simon kerap mengikuti kontes lou han di berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Adapun perawatan rutin ganti air 2 kali tiap pekan. Pehobi di Singapura itu mengganti hingga 80% air per sekali ganti air. Namun, Simon mewanti-wanti perlakuannya hanya cocok jika kondisi air di suatu tempat stabil. Di Singapura rata-rata pH stabil pada nilai 7. Pergantian hingga 80% pada kondisi air yang tidak stabil berbahaya bagi ikan. Kondisi air di Indonesia cukup fluktuatif sehingga kurang disarankan melakukan pergantian air rutin hingga 80%.
Simon memberikan campuran pakan daging salmon pada pagi, pelet (siang), dan cacing beku (malam). Menurut Simon berikan pakan dengan porsi sedikit dan frekuensi sering. Rata-rata 3—4 kali sehari. Pemberian pola makan seperti itu baik untuk membantu proses pencernaan ikan. Pakan memang menunjang kualitas ikan. Pemilik ikan young champion, Jeffry Tanadi, pun mengoptimalkan pakan sejak 10 hari menjelang kontes.
Pehobi di Jakarta Utara itu memberikan kombinasi pakan pabrikan asal Thailand dan pakan racikan sendiri. Pakan berupa pelet diaplikasikan sehari sekali. Rata-rata 15—20 butir per sekali makan. Adapun pakan racikan udang dicampur pewarna pigmen untuk ikan. “Kalau udang racikan diberikan secukupnya. Kalau perut ikan sudah kelihatan gemuk hentikan pemberian pakan,” kata Jeffry. (Muhamad Fajar Ramadhan)
