Wednesday, August 10, 2022

Louhan Bongsor Beradu Elok

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Louhan jenis chin hwa B milik Yohanes meraih young champion. (Dok. Trubus)

Dua ikan bongsor berebut juara. Dewan juri justru mencari kelemahan mereka.

Pehobi louhan di Jakarta, Jeffry Tan, memegang piala grand champion. (Dok. Trubus)

Trubus — Empat juri termenung saat menentukan ikan peraih juara adika atau grand champion (GC). Dua ikan jawara kelas chen cu A dan chin hwa A sama-sama menarik. Menurut juri asal Kota Tangerang, Provinsi Banten, Miat Talim, jika dua ikan sama baik juri mencari kekurangannya. ”Ikan chen cu A tampil angin-anginan, kadang lemas kadang aktif. Sementara pesaingnya terdapat kutil pada bagian ekor,” kata Miat.

Akhirnya dewan juri melakukan pemungutan suara untuk menentukan ikan peraih juara adika. Hasilnya 3 suara untuk ikan jenis chen cu A dan 1 suara untuk ikan jenis chin hwa A. Ikan chencu A kemudian mendapat gelar juara adika atau grand champion. Pemilik ikan juara adika, Jeffry Tan, mengatakan bahwa itu gelar perdana bagi ikan berumur 1,5 tahun itu. “Banyak ikan pesaing yang tak kalah bagus,” kata Jeffry.

Pakan dan air

Apalagi ikan bertubuh bongsor juga mendominasi kontes. Menurut Jeffry gelar juara adalah bonus dari perawatan intensif, terutama pemilihan pakan dan pergantian air. Jeffry menggunakan pakan cacing darah beku dan pelet. Cacing darah beku berwarna merah darah. “Tidak harus cacing hidup,. Namun, cacing dibekukan dalam kondisi hidup,” kata pehobi ika hias di Jakarta itu.

Louhan Free Marking C milik Henry Sulistyo meraih baby champion. (Dok. Trubus)

Adapun kondisi cacing tidak berwarna merah segar atau kecokelatan indikasi pakan kurang segar atau ada cacing mati ketika dibekukan. Menurut Jeffry mengenal pola makan ikan amat penting. Pasalnya, penanganan setiap ikan akan berbeda.

Memberi pakan terlalu banyak bisa menyebabkan masalah pencernaan, terutama untuk ikan berukuran bongsor. “Kebetulan klangenan saya termasuk tipe ikan yang tak terlalu senang makan banyak. Namun, ada juga yang memang rakus,” kata Jeffry.

Louhan jenis chen cu A milik Jeffry Tan meraih juara adika atau grand champion Liga 2 Louhan 2020. (Dok. Trubus)

Pehobi louhan sejak 2003 itu memberi pakan pada pagi hari dan malam menjelang tidur. Selain pakan, Jeffry memperhatikan air. Ia rutin mengganti air setiap 3—4 hari. Jeffry mengganti separuh air dan menambahkan air baru. Selain pakan dan air, genetik menentukan karakter ikan juara. Menurut Jeffry hal terpenting pehobi memahami kriteria kontes dan penampilan indukan dan kualitas penangkar ikan.

Menurut ketua panitia acara, Wahid Supriyadi, animo para pehobi ikan justru meningkat meskipun sedang pandemi. Peningkatan hingga 15% dibandingkan dengan Liga Louhan 1 2020 pada Maret 2020 terdiri atas 416 ikan. Kini jumlah peserta mencapai 470 ikan. Perbedaan lainnya ikan kelas bongsor, yakni kelas A dan B, mendominasi Liga Louhan 2020. Kelas A ukuran ikan di atas 23 cm dan kelas B 16,1 cm—23 cm.

Peserta kelas A hingga 134 ikan dan kelas B mencapai 150 ikan. Artinya ikan bongsor hampir setengahnya total peserta. Wahid menduga para pehobi terus memelihara ikan saat pandemi, meski belum ada kontes. Pehobi datang dari berbagai kota seperti Samarinda, Provinsi Kalimatan Timur, Pontianak (Kalimantan Barat), dan Palembang (Sumatera Selatan). Panitia kontes mengecek suhu tubuh para pehobi. Selain itu panitia mewajibkan para pehobi menjaga jarak serta menggunakan masker dan pelindung wajah. (Muhamad Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img