Friday, January 16, 2026

Mantan Dosen UNY Buat POC dari Urine Sapi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Mantan dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) asal Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sujati memanfaatkan urine sapi menjadi pupuk organik cair (POC) untuk aneka tanaman.

Menurut Jati—sapaan akrabnya—urine sapi mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman diantaranya mengandung Nitrogen 1%,Phospor 0,5%,Carbon 1.1%, air 92% dan berbagai zat yang berguna bagi kehidupan tanaman.

“Setelah urine tersebut diolah atau difermentasi selama 28—31 hari kandungan unsur hara tersebut meningkat unsur Nitrogen menjadi 2,7%, Phospor bertambah 2.4% dan unsur kalium menjadi 3.8 %,” kata Jati, dilansir dari laman infopublik.id.

Jati juga telah mempraktikkan pengolahan urine sapi dengan menggunakan tong plastik yang diisi berbagai bahan diantaranya urine sapi 20 liter, gula merah 1 kg, berbagai jenis empon-empon (lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur) masing-masing 0,5 kg ,EM4, air 5 liter.

“EM4 merupakan bahan yang membantu mempercepat proses pembuatan pupuk organik dan meningkat kualitas hasil pupuk organik,” terangnya.

Setelah proses pembuatan selama satu bulan baru pupuk cair tersebut bisa dimanfaatkan. Ia telah memanfaatkan pupuk cair untuk memupuk tanaman buah-buahan di antaranya tanaman nangka, durian, alpukat dan mangga.

Penampilan tanaman setelah diberi pupuk organik cair tampak daun hijau, berbunga lebat dan sehat. Karena penggunaan pupuk cair hasil ramuan tersebut selain dapat meningkatkan kesuburan tanah juga dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama.

Sebagai catatan penggunaan pupuk organik cair juga dianggap lebih minim patogen dibandingkan dengan menggunakan kotoran atau faeses sebagai pupuk organik.

Berdasarkan fakta tersebut ternyata pupuk organik cair yang berasal dari urine sapi juga memiliki peluang yang sama untuk meningkat kesuburan tanah. Hal itu menarik perhatian dan apresiasi dari mantan Kepala Dinas Pertanian Blora Bambang Sulistya ketika bersilaturahmi ke rumah Sujati.  

Diungkapkannya, alangkah hebatnya kalau gerakan penggunaan pupuk organik di Kabupaten Blora tidak hanya terbatas  mengolah kotoran atau feses sapi saja akan tetapi juga bisa memanfaatkan air kencing sapi yang selama ini masih belum mendapatkan perhatian istimewa sebagai bahan pupuk organik cair.

“Termotivasi sebuah ungkapan bijak, tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina dan sesungguhnya menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap orang,” ungkap Bambang Sulistya yang juga mantan Sekda Blora.

Di samping itu, saat ini Bupati Blora Arief Rohman dalam rangka memperbaiki kesuburan tanah dan menangkal ketergantungan petani terhadap pupuk unorganik menggelorakan gerakan penerapan pertanian organik.

Mengingat Kabupaten Blora merupakan gudangnya sapi Jawa Tengah. Dinas Pangan Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten (DP4) Blora menginformasikan populasi ternak sapi di Blora saat ini mencapai lebih dari 220.718 ekor sapi.

Sementara seekor sapi akan menghasilkan kotoran hewan atau feses sebanyak 8—10 kg dan air kencing sapi atau urine sebanyak 10 liter per hari. Hal itu menggambarkan bahwa ketersediaan  bahan utama untuk pembuatan pupuk organik sangatlah melimpah.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img