Sunday, June 16, 2024

Mapel Merah Mencuri Hati

Rekomendasi
- Advertisement -
Mapel merah asal Tiongkok tumbuh adaptif di Indonesia.

Pehobi tanaman hias kini menggandrungi mapel. Perubahan warna tanaman amat seronok memikat hati pehobi.

Puluhan pot mapel merah Acer pseudosieboldianum tersusun rapi di atas rak besi setinggi 50 cm di lantai atas Viola Florist di Kelapa gading, Jakarta Utara. Penampilannya menarik lantaran setiap daun di satu ranting memiliki warna yang berbeda. Daun muda berwarna hijau lalu akan berubah menjadi jingga setelah 2—3 pekan mendapatkan perawatan yang tepat.

“Perubahan warna daun akan terus terjadi setiap 2—3 pekan,” ujar pehobi tanaman langka, Arya Vandana. Pemandangan dari sisi lain rimbunnya daun menampakkan kekompakan yang sangat menawan, terutama saat angin mengembuskan daun berwarna-warni itu. Acer pseudosieboldianum memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi terhadap perubahan musim yang ditandai dengan perubahan warna daun.

Sinar matahari

Daun mapel melambangkan keharmonisan dan kesetiaan. Keharmonisan ditandai dengan transformasi warna daun seiring dengan perubahan musim. Dari musim semi sampai musim gugur warna daun mapel berubah dari hijau, kuning, jingga, lalu menjadi merah. Keharmonisan itu terjadi antara alam dan pohon mapel. Kesetiaan ditandai dengan luruhnya daun dari ranting pohon pada musim gugur.

Arya Vandana (kiri) dan Benny Wirya, kolektor tanaman langka asal Kelapagading, Jakarta Utara.

Maple merah memang berasal dari negara subtropis seperti Australia, Rusia, dan Tiongkok. Namun, kini beberapa pehobi di tanah air sukses membudidayakan tanaman anggota famili Sapindaceae itu. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah pemenuhan kebutuhan sinar matahari untuk berfotosintesis. Arya menempatkan koleksi barunya itu di tempat yang mendapatkan penyinaran matahari yang cukup.

Sinar matahari membantu daun mapel mengubah warna dari hijau menjadi jingga lalu merah. Penampilan mapel tentu akan berbeda di tumbuh di bawah naungan atap jaring 60%. Pria kelahiran Jakarta itu membandingkan warna daun yang sangat signifikan. Daun tanaman mapel di bawah naungan berwarna dominan hijau, hanya 2—3 daun yang berwarna jingga. Adapun mapel yang terkena sinar matahari cukup menunjukkan perubahan warna signifikan.

Selain itu dilihat dari pertumbuhan tanaman dan penambahan daun pun berbeda. Arya mengamati, penambahan daun mapel yang mendapatkan matahari cukup setelah sebulan didatangkan dari Tiongkok. Bandingkan dengan pertumbuhan tanaman di bawah naungan cukup lambat, mengeluarkan daun baru setelah 6—7 pekan setelah tiba di tanah air. Menurut Arya perawatan tanaman kerabat rambutan itu cukup mudah.

Selain mendapatkan sinar matahari yang cukup, Arya rutin menyiram 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari agar kelembapan terjaga. Namun, jika hari mendung, Arya hanya menyiram sekali pada pagi hari. Kunci sukses merawat mapel adalah media tanam. Importir tanaman hias di Jakarta Barat, Frans menggunakan media berupa campuran sekam mentah, tanah merah, dan pupuk kandang kotoran kambing dengan perbandingan 1:2:1.

Pehobi antusias

Setelah berhasil membudidayakan mapel, Frans mendatangkan lagi sekitar 2.000 tanaman berukuran 50—70 cm. Frans mendatangkan mapel merah itu dari Tiongkok pada 2017. Ia membawa sekitar 10 tanaman subtropis itu berupa bibit setinggi 20—30 cm tanpa media karena baru ingin mencoba membudidayakannya di tanah air. “Setelah kurang lebih 5 bulan ternyata saya berhasil menanamnya di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Frans mapel merah itu akan lebih cocok ditanam di daerah dataran tinggi karena warna merah pada daun akan bertahan lebih lama, yaitu 2 bulan. Sebaliknya daun tanaman mapel di dataran rendah hanya bertahan 4—6 pekan. Pehobi lain asal Kelapagading, Jakarta Utara, Benny Wirya, menggunakan media berupa campuran kompos dan tanah lembang (jenis tanah andosol) dengan perbandingan 1:1 (50% kompos : 50 % tanah lembang).

Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan perubahan warna daun yang lambat.

Tingkat porositas sangat penting untuk media tanaman asal Rusia itu agar akar tidak busuk. Untuk mempertahankan kebutuhan nutrisi, pria kelahiran Jakarta, 12 Agustus 1990 itu menyemprotkan larutan pupuk cair B1 asal Thailand ke daun dan batang tanaman. Ia melarutkan setengah tutup botol pupuk cair ke dalam 4 l air. Penyemprotan nutrisi sepekan sekali.

Perawatan lain berupa pemupukan susulan. Beny memanfaatkan pupuk larut seperti NPK 20:20:20. Frekuensi pemupukan setiap 2 pekan. Perlakuan itu niscaya membuat tanaman cepat tumbuh dan kompak. Kini mapel merah asal Negeri Tirai Bambu itu bisa tumbuh subur. Para pehobi tanaman hias di tanah air pun berpeluang menanam mapel merah. Harga bibit setinggi 30—40 cm mencapai Rp850.000. Adapun harga bibit setinggi 50 cm dan memiliki gradasi warna Rp1,2 juta per tanaman.

Menurut Arya dan Benny pehobi sangat antusias untuk menanam mapel merah. Arya melayani permintaan bibit dari para pehobi di Jakarta dan sekitarnya, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Ketika pameran Flona 2008, Arya menjual hingga 20 bibit. Memiliki tanaman subtropis yang semula belum pernah dibudidayakan di Indonesia menjadi kepuasan tersendiri bagi para pehobi. (Tiffani Dias Anggraeni)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berniaga Bibit Buah Naga, Pekebun di Subang dapat Cuan Puluhan juta

Trubus.id—Dedi Sumardi selalu kebanjiran pesanan ribuan bibit buah naga. Total sekitar 2.480 batang bibit yang terjual dalam sebulan.  Ia...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img