Thursday, August 18, 2022

Mari Tertawa Bersama Manu Gaga

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Agar bersuara maksimal, Tisna memberikan gula jawa dan beras merah sebagai menu wajib

T his is isna Sukandi paham benar pada adagium itu. Oleh karena itu, pengusaha udang windu itu kerap ikut tertawa bila mendengar ayam ketawa koleksinya berkokok. “Suara kokoknya seperti orang tertawa, saya sering ikut terpancing untuk tertawa. Kalau ada tamu datang, malah ikut terbahak-bahak karena suaranya aneh,” kata Tisna yang rutin mencari ayam ketawa di Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan, setiap bulan.

Kokok ayam itu memang mirip orang tertawa. Rata-rata ayam itu berkokok 10 detik tanpa putus dan terus menyambung dengan kokok berikutnya. Ia mengatakan memelihara ayam ketawa bagai menonton acara lawak di stasiun televisi. Saat kokok manu gaga-sebutan di Sulawesi Selatan-itu terdengar, senyum pun mengembang. Pengusaha itu benar-benar terhibur oleh 13 ayam ketawa jantan yang menghuni farm-nya di Anyer, Provinsi Banten.

Hiburan

Hobi ayam ketawa pun menurun pada sang anak, Rudi Sukandi yang berdomisili di Makassar, Sulawesi Selatan. Rudi mengoleksi tak tanggung-tanggung, 100 ayam ketawa. Unggas lucu itu menjadi penghibur Tisna usai seharian bekerja. Seketika letih pun hilang jika Tisna menyambangi farm-nya. Pria yang gemar memelihara ayam sejak kecil itu merasakan betul faedah mengoleksi ayam ketawa. Itulah sebabnya, Tisna tak sungkan-sungkan membeli ayam ketawa juara kontes.

“Saya selalu beli ayam ketawa juara di sana,” kata kolektor sejak awal 2011 itu. Pantas bila harga seekor ayam ketawa bisa setara harga sebuah sepeda motor baru. Pria flamboyan itu bukan sekadar mendengar kokok ayam, tetapi juga merawat sendiri. Tisna yang acap berplesiran ke mancanegara itu rutin memberikan gula jawa setiap hari, selain pakan utama beras merah. Tujuannya untuk menjaga kokok ayam nyaring dan panjang. Ia juga memberikan beberapa potongan daging kambing untuk pejantan yang akan dijadikan indukan.

Kolektor ayam ketawa lainnya adalah Prof Koentjoro MBSc PhD, guru besar Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. “Selain terhibur, mendengarkan suara ayam ketawa dapat menyelaraskan keseimbangan hidup lewat jalur hobi selain agama, karier, keluarga, dan ke masyarakat,” kata Koentjoro. Doktor Psikologi Sosial alumnus Universitas La Trobe, Australia itu mengenal ayam ketawa pada 2010 setelah melihat iklan di internet.

“Saya langsung teringat istilah digeguyu pitik-peribahasa Jawa yang berarti perbuatan konyol seseorang sehingga seolah ayam pun menertawakan,” kata pria kelahiran 27 Februari 1955 itu. Setelah datang ke penjual dan melihat langsung sang ayam benar-benar bisa tertawa, Koentjoro yang terhibur pun memutuskan membeli sepasang anakan seharga Rp1,2-juta. Sayang, ayam-ayam itu yang saat ini berumur 10 bulan belum bisa berkokok tertawa.

“Mungkin saya dibohongi,” tutur Koentjoro. Belajar dari kasus itu sulung dari 8 bersaudara itu membeli ketawa dewasa berumur 4 bulan yang dapat berkokok tertawa. Total jenderal saat ini Koentjoro mengkoleksi 20 ayam ketawa.

Kuntilanak

Cuncun Wijaya juga ketagihan mendengar cekikikan ayam ketawa. Pengusaha real estate di Bandung, Jawa Barat, itu jatuh hati pada kokok ayam tertawa ketika seorang teman menyodorkan rekaman ayam ketawa. “Saat itu tidak percaya ada ayam yang bisa menirukan suara ketawa, jangan-jangan rekayasa komputer,” kata Cuncun. Setelah yakin bahwa itu asli, ia pun langsung jatuh cinta. Apalagi ada beberapa koleksinya yang berkokok mirip suara hantu.

Sejak 2010 Cuncun rajin berburu ayam ketawa hingga ke tempat asalnya di Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. “Saya meminta tolong seorang teman untuk mencari ayam ketawa berkualitas,” kata Cuncun. Saat ini ayah 2 anak itu mengoleksi 200-an ayam. Beberapa ayam di antaranya, berharga hingga puluhan juta per ekor. Pokoknya bagi Cuncun tak ada waktu tanpa suara kokok ayam ketawa. Pagi sebelum berangkat kerja, siang, bahkan sore ia dapat menikmati kokok unik itu. Harap mafhum, ia juga memelihara ayam ketawa di kantornya yang rindang.

Menurut Cuncun, suara unik ayam ketawa itu kerap memancing keingintahuan tamu yang bertandang ke rumah. “Mereka penasaran dengan suaranya, bahkan ada yang ketakutan saat mendengar kokok ayam yang mirip kuntilanak,” kata Cuncun terkekeh. Bahkan, pembantu di rumahnya pun kerap bercerita merasa ketakutan saat mendengar suara ayam itu saat malam menjelang. Ayam ketawa bagi Cuncun, Koentjoro, dan Tisna memang telah memberikan hiburan menyenangkan. (Faiz Yajri/Peliput: Tri Susanti)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img