Trubus.id—Warga di Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, Kukuh Budi Jatmiko, S.T. memilih berbisnis ayam kampung karkas dan olahan. Ia dapat mengantongi omzet Rp150—Rp200 juta dari berniaga ayam kampung.
“Laba sekitar 15— 20% dari omzet,” ujar Kukuh.
Kukuh memanen rata-rata 1.700 ekor ayam kampung dari populasi 2.000 ekor (mortalitas sekitar 5%) saban bulan. Ia beternak di kandang dua lantai pada lahan seluas 125 m2 yang bisa menampung hingga 4.000 ekor.
Ia memelihara ayam kampung di kandang yang terletak di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat itu secara bertahap agar panen berkelanjutan. Masa pemeliharaan selama 70 hari saat bobot ayam 0,9—1 kg.
Kukuh memiliki tiga produk yakni karkas ayam kampung dengan penjualan 1.200 ekor per bulan, olahan ayam kampung (200 porsi per bulan), dan sisanya ayam hidup (300 ekor per bulan). Selain itu Kukuh memasarkan 1.600 telur ayam kampung setiap bulan.
“Pasokan telur dari peternak mitra yang menjalankan budi daya sesuai standar operasional prosedur seperti penambahan probiotik,” ujar pemilik Kampoeng Chicken—nama produk—di bawah PT Anugerah Agri Niaga Sejahtera itu.
Ia menjual karkas ayam kampung utuh dan per bagian seperti paha, sayap, dan tulang sesuai permintaan. Ada juga permintaan seperti filet dan daging giling. Sementara untuk olahan ayam kampung memiliki varian seperti ayam ungkep sebagai olahan terpopuler, bakar madu, dan bakar rujak.
Uniknya Kampoeng Chicken berasal dari ayam kampung probiotik yang diberi air minum dengan campuran mikrob baik seperti Lactobacillus casei serta racikan herbal (kencur, lengkuas, dan kunyit). Ramuan itu untuk meningkatkan fungsi pencernaan ayam.
“Daya serap bagus sehingga tidak banyak pakan terbuang menjadi kotoran dan ayam sehat,” ujar Kukuh.
Anda dapat membaca selengkapnya pada Majalah Trubus edisi September 2024. Akses pembelian majalah pada google playbook (klik di sini) yang mengupas tuntas mengenai Peluang Besar UMKM Pertanian Indonesia.
