Sunday, November 27, 2022

Menanti Petuah Abah

Rekomendasi

Kapan menanam padi? Kapan pula panen? Bagaimana mengatasi sakit? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu ada di Abah.

 

Ruang 9 m2  itu amat sederhana. Di dinding kayu praktis tanpa hiasan, selain kaneron atau tas terbuat dari benang kulit batang tarap Artocarpus odoratissimus. Sebuah piagam penghargaan yang memudar dari Gubernur Jawa Barat Yogie S Memet tertanggal 6 Agustus 1987, tergantung pula di dinding itu. Pemimpin Kasepuhan Cicarucub, Enjay, duduk bersila di atas kasur tipis di dalam ruangan itu. Di hadapannya, Suwanda, takzim mengisahkan bahwa adik laki-lakinya, Sunardi, 10 hari terakhir sakit.

Sunardi tak dapat menelan makanan dan berbicara. Kerongkongannya nyeri bukan kepalang. Ia sakit setelah tanpa sengaja menebang sebuah pohon di hutan larangan di kawasan Kasepuhan Cicarucub. Mafhum, ia bekerja pada seseorang yang memerintahkan Sunardi untuk menebang pohon. Lahan orang itu bersebelahan dengan hutan larangan. Sunardi, seperti dikutip Suwanda, menduga pemilik lahan telah memperoleh restu dari kasepuhan sebelum penebangan pohon. Keesokan hari, Sunardi sakit.

Meski telah berobat ke dokter, sakit itu tak kunjung sirna. Keluarga Sunardi menghubungkan penyakit itu dengan kesalahan menebang pohon di hutan terlarang. Itulah sebabnya, Suwanda menemui  Enjay, pemimpin tertinggi di Kasepuhan Cicarucub. Setelah menerima informasi itu, Enjay bangkit, menapaki lantai rumah berupa pelupuh alias papan dari bambu, menuju dapur. Ia kemudian kembali sembari membawa bara dalam sebuah wadah keramik, dan menyelinap ke kamar. Lokasi kamar, persis di sisi tempat duduk semula.

Di kamar itu, Enjay mendaraskan doa dalam bahasa Sunda hampir 10 menit. Bacaannya relatif keras. “… Sing waras ti luhur sausap hulu, ka handap sausap dampal,” ujar Enjay. Intinya semoga Sunardi selamat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Setelah itu, Enjay keluar kamar, kembali mendaraskan doa di atas kasur itu, dan menyerahkan sebuah bungkusan kepada Suwanda. Isi bungkusan itu berupa potongan getah pohon kemenyan Styrax sp dan rimpang bangle Zingiber cassumunar.

Enjay berpesan jika dalam perjalanan pulang, seseorang bertanya dari mana, Suwanda  terlarang untuk berterus terang. Begitulah antara lain peran pemimpin kasepuhan dalam masyarakat, membantu menyembuhkan warga yang sakit. Peran lain pemimpin kasepuhan sangat kental, terutama dalam bidang pertanian dan kehidupan sehari-hari. Hari itu, 7 Maret 2012, misalnya, ia juga memimpin sidang para rendangan atau perwakilan kasepuhan di berbagai wilayah. Jika pemimpin kasepuhan itu presiden, maka rendangan adalah gubernur.

Pertemuan itu intinya menentukan waktu terbaik panen padi. Enjay-lah yang bakal memutuskan hari terbaik untuk panen setelah berkomunikasi dengan karuhun alias leluhur. Penentuan waktu panen itu juga antara lain berdasarkan kondisi padi dan cuaca untuk penjemuran. Usai pertemuan, para rendangan akan menyampaikan pesan itu kepada incu putu atau masyarakat anggota kasepuhan. Masyarakat patuh pada keputusan Abah atau Olot-sebutan untuk pemimpin kasepuhan. Tanggal dan hari apa pun, petani tunduk pada keputusan Kasepuhan Cicarucub.

Kasepuhan Cicarucub berpusat di Desa Neglasari, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Wartawan Trubus mencapai wilayah itu dari Cibubur, Jakarta Timur, melalui jalan tol hingga Serang, Pandeglang, Rangkasbitung, Malingping, Bayah, dan Cibeber sejauh 305 km dalam 9 jam. Sebetulnya terdapat jalur lebih singkat, hanya  140 km, melalui Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Jalur itu yang akhirnya Trubus tempuh ketika pulang dari Lebak. Meski lebih jauh, jalur Rangkasbitung dipilih karena jalur tersebut merupakan sentra beberapa buah tropis seperti duku, durian, dan rambutan.

Para petani di Kasepuhan Cicarucub umumnya menanam padi lokal seperti gajah, srikuning, atau seksek (kedua huruf e dibaca keras seperti pada kata tempe) yang merupakan padi dalam. Menurut para petani, padi lokal lebih unggul dalam citarasa dan awet, tahan simpan dalam leuit alias lumbung hingga lima tahun. Bandingkan dengan padi nonlokal yang hanya mampu bertahan setahun dalam penyimpanan.

Mantan peneliti di Balai Penelitian Tanaman Padi, Dr Ir Agus Setyono, mengatakan kasepuhan turut menjaga kelestarian plasma nutfah padi. Faedahnya antara lain sebagai bahan untuk merakit varietas unggul. Agus mengatakan padi lokal biasanya bersosok tinggi, daun lebat, malai panjang, masa panen yang lama, hingga delapan bulan, dan jumlah anakan sedikit, hanya 5-7 per rumpun. Banyak pula padi lokal yang citarasanya enak.

Bagi para petani di kasepuhan menunggu  waktu panen lebih lama dua bulan dibanding padi nonlokal, bukan masalah. Saat menuai padi, pemanen menyatukan tangkai-tangkai padi menjadi sebuah  ikatan agar mudah menjemur. Saat panen raya tiba, di seantero kasepuhan tampak padi-padi dijemur dalam tiang bambu. Selama hampir sebulan penjemuran, belum pernah terjadi pencurian meski tanpa penunggu. “Mencuri itu pamali (tabu, red),” kata Eman Suherman, pemuda di Cibeber yang kini menjadi penyuluh pertanian.

Meski telah menuai hasil, para petani belum bisa mengolah padi hasil panen itu hingga Abah menetapkan waktu nganyaran alias menanak padi hasil panen untuk kali pertama. Petani dapat langsung mengolah padi yang bukan dari lahan sendiri, tetapi pare babon atau padi yang diperoleh sebagai jasa membantu panen di lahan petani lain. Setiap memperoleh lima ikat padi, petani yang membantu panen, berhak atas seikat. Produktivitas  padi varietas lokal rata-rata 400 ikat per ha masing-masing berbobot kira-kira tujuh kilogram.

Waktu olah tanah dan tanam pun mesti serempak, juga setelah memperoleh keputusan dari Olot. Hingga kini para petani patuh pada keputusan pemimpin kasepuhan. Melanggar berarti pamali yang akan berdampak negatif bagi diri dan keluarga. Bahkan, warga di Cicarucubgirang hingga kini hanya sekali tanam padi dalam setahun. Dahulu memang kasepuhan menetapkan aturan begitu.

Menurut ahli entomologi alumnus University of Wales, Inggris, Prof Dr Ir Nur Tjahjadi, “Secara ilmiah telah terbukti bahwa penanaman serentak dapat mengurangi serangan hama. Tanam padi sekali setahun juga dapat mengurangi serangan hama karena ada siklus hama yang terputus. Penanaman dua kali atau tiga kali per tahun memang memerlukan perhatian yang khusus utamanya dari segi pengendalian hama.”

Bakri, warga Cicarucubgirang berusia 75-an tahun, patuh benar pada aturan itu. Bertahun-tahun, ia hanya sekali menanam padi selama setahun. Ia menanam padi varietas lokal selama enam bulan. Setelah itu, ia membudidayakan ikan mas di lahan sama selama empat bulan. Bakri membiarkan sawah pada dua bulan tersisa dan beraktivitas membuat atap dari daun kirai. Sebuah atap sepanjang dua meter dan lebar semeter ia jual Rp2.500. Selain di Cicarucubgirang, pola tanam sekali setahun juga berlaku di Kasepuhan Citorek di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak-30 km dari Kasepuhan Cicarucub.

Menurut Salim Tisna SST, penyuluh pertanian di Cibeber, luas sawah di Citorek 1.300 ha dan hanya sekali tanam padi. Adapun, petani pendatang yang mengolah 50 ha sawah, dua kali membudidayakan padi dalam setahun. Persis masyarakat di luar Cicarucubgirang yang dua kali menanam  padi dalam setahun. Menurut petani di Ciherang-termasuk wilayah kasepuhan Cicarucub-Muharam Muchtar, perubahan frekuensi tanam itu terjadi pada 1982.

Muchtar yang juga pensiunan guru Sekolah Dasar mengatakan, saat itu ia terdorong untuk dua kali menanam karena kebutuhan kian besar. Harap mafhum, Muchtar mesti menghidupi 7 anak. Ayah mertuanya, Jamhari, yang termasuk petinggi kasepuhan hanya menasehati, “Silakan tanam dua kali, tetapi jangan mengajak orang lain,” ujar Jamhari seperti diulangi Muchtar yang berasal dari Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Kehadiran Muchtar di Cicarucub banyak membawa perubahan.

Buktinya, setelah ia menerapkan pola tanam dua kali setahun, warga lain kini banyak yang mengikuti. Padahal, pria 65 tahun itu memenuhi saran ayah mertua, tak pernah mengajak incu putu alias masyarakat untuk mengikuti jejaknya. Ia juga yang pertama-tama mengubah atap rumahnya dari daun kirai menjadi genteng. Bertahun-tahun masyarakat kesepuhan Cicarucub memanfaatkan daun kiray Metroxylon sago sebagai atap dan menabukan genteng atau seng. Mereka percaya hidup di rumah beratap genteng seperti telah mati.

Sebab, genteng terbuat dari tanah liat, di bagian bawah rumah juga tanah liat. Artinya, atas dan bawah berupa tanah liat. Itu ibarat liang lahat.  Muchtar pula yang mengubah dinding anyaman bambu dengan tembok dan jendela kaca-keduanya juga semula tabu. Kini masyarakat di luar Cicarucubgirang banyak yang mengubah bangunan rumahnya. Namun, di rompok atau rumah adat yang ditempati Enjay dan keluarga, atap berupa daun kiray alias rumbia dan ijuk dari pohon aren Arenga pinnata. Di dalam rumah itulah Enjay menentukan waktu olah tanah, tanam padi, hingga panen. (Sardi Duryatmo)

 

  1. Suwanda (membelakangi kamera) menemui Enjay untuk mengobati kerabat yang sakit
  2. Selain budidaya padi sebagian masyarakat Cicarucub menambang emas
  3. Salim Tisna, masyarakat Cicarucub pertahankan tanam padi sekali setahun
  4. Deretan leuit atau lumbung di Kasepuhan Cicarucub. Setiap kepala keluarga harus memiliki lumbung
  5. Semua bangunan di pusat Kasepuhan Cicarucub berdinding bambu, atap ijuk atau daun rumbai
  6. Menganyam daun kiray untuk atap rumah
  7. Muharam Muchtar warga Kasepuhan Cicarucub kini dua kali tanam padi dalam setahun

 

 

Rawat Padi

Kasepuhan turut melestarikan padi-padi lokal. Para petani di wilayah kasepuhan tertentu lazimnya membudidayakan padi lokal yang tahan simpan hingga delapan tahun tanpa mengubah citarasa. Di Kasepuhan Ciptagelar-lokasinya di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat-misalnya masyarakat menyimpan hingga 125 padi lokal-semua termasuk padi dalam. Kepala adat Kasepuhan Ciptagelar, Abah Ugi Sugriyana Rakasiwi, mengatakan dari jumlah itu 10 di antaranya merupakan padi ketan. Produktivitas padi 4-7 ton per ha.

Yoyoyogasmana juru bicara Kasepuhan, mengatakan bahwa kasepuhan memang menentukan hanya sekali tanam padi dalam setahun. “Warga yang ingin terdaftar di Kasepuhan Banten Kidul harus tinggal dan menanam padi dengan jangka waktu minimal 3 tahun,” tutur Yoyo. Produksi pada tahun 2011 mencapai 18.000 ton padi dengan cadangan 40.000 ton gabah kering sehingga warga Ciptagelar tak pernah kekurangan pangan.

Juru bicara lain, Umi Kusumawati, menuturkan produksi padi tiap tahun di Kasepuhan Ciptagelar selalu bertambah. Padahal, sawah untuk budidaya padi tidak pernah bertambah luas. Indikasi peningkatan produksi itu sederhana, pertambahan 4 leuit alias lumbung per tahun. Saat ini terdapat 162 leuit di kasepuhan itu. Lazimnya tiap keluarga memiliki minimal sebuah leuit yang mampu menampung 500-1.000 ikat padi. Bobot per ikat 3-7 kg gabah kering.

Menurut Umi setiap kepala keluarga wajib menyimpan padi di lumbung. Selain lumbung milik perorangan, di Kasepuhan Ciptagelar juga terdapat leuit jimat atau lumbung induk berkapasitas 8.700 ikat padi. Lumbung itu sebagai cadangan bila ada warga yang membutuhkan padi. Usai panen, para petani menyisihkan 10% dari total panen untuk mengisi leuit jimat. Di sana, padi serta produk turunannya terlarang untuk dijual. Namun, warga boleh membeli padi di luar kasepuhan. Setelah itu, para petani menanam beragam sayuran, palawija, atau ikan. (Sardi Duryatmo/Peliput: Tri Istianingsih)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img