Sunday, August 14, 2022

Mencecap Sepenggal Champa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Perempuan pemilik dua kantong kresek itu saya jumpai saat mengantre naik pesawat di bandara Kota Hue, ibukota Provinsi Thua Thien Hue, yang terkenal dengan  bangunan  kuno dengan arsitektur menawan  itu.  Dompolan  menteng yang menyembul dari  kantong kresek yang dibawanya sungguh menggoda:  ukuran buah sedikit   lebih besar daripada duku palembang dengan kulit kuning tua bersemburat merah canik sekali. Buah menteng Baccaurea racemosa yang kerap dijajakan di beberapa sudut kota Bogor, Jawa Barat, umumnya hanya berkulit kuning.

Saya mencoba membeli sebagian menteng yang akan dijual pria itu di Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam. Lelaki itu menolak. Namun, tak diduga ia kemudian membuka kantong kresek, mengambil dua tangkup tangan terbuka buah menteng, dan memberikannya gratis untuk saya!

Saya dengan sukacita mencicipi buah  yang  namanya  diabadikan  sebagai kawasan elite di Jakarta Pusat itu. Rasa  manisnya kuat, meski tetap ada sedikit asam. Catatan Plant Resources of South East Asia (PROSEA), penyebaran menteng meliputi Semenanjung Malaysia, Singapura, dan Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan). Di Vietnam justru tumbuh burmese grape Baccaurea ramiflora alias giau gia dat. Ciri-ciri buahnya oval, berdiameter 2,5—3,5 cm dengan kulit kuning bersemburat merah muda sampai ungu, mirip yang dibawa perempuan asal Hue tadi. Daging buahnya putih dengan biji berwarna merah keunguan.

Delta Mekong

Boleh jadi buah yang saya makan itu memang burmese grape. Untuk mengidentifikasinya perlu mendatangi pohonnya langsung yang tidak mungkin dilakukan saat itu. Namun, buah-buah lain yang saya jumpai selama empat malam lima hari di Vietnam pada awal September 2011 itu menunjukkan negeri Champa—namanya di abad ke-10 Masehi—kaya beragam buah eksotis. Di tepi jalan dalam perjalanan dari Hoi An menuju Hue terlihat pohon-pohon kesemek dataran rendah berbuah lebat.

Saya sebut kesemek dataran rendah karena pohon-pohon itu tumbuh di dekat makam para raja di Hoi An yang terletak di tepi pantai Laut China Selatan, Vietnam bagian tengah. Pada masa silam Hoi An merupakan kota pelabuhan penting di Asia Tenggara tempat para pelayar singgah. Pemandu memintakan izin agar saya bisa memetik buahnya yang berkulit kuning. Saat dicicip rasa kesemek dataran rendah Diospyros roxburghii itu manis, tekstur daging buahnya lembut, dengan aroma lembut.

Menurut ahli botani di Bogor, Gregori Garnadi Hambali, Vietnam salah satu sentra penyebaran genus Diospyros. Saat saya mampir di pasar tradisional Bentanh Central Market, Ho Chi Minh City, di sana dijual kesemek asal daerah pegunungan di Vietnam Utara. Japanese persimmon Diospyros kaki yang berkulit jingga cerah itu juga bercitarasa manis, tanpa rasa sepat.

Berbicara tentang Bentanh Central Market saya punya kesan tersendiri. Pasar utama Ho Chi Minh City itu ibarat show case kehebatan pertanian Vietnam selatan. Vietnam Selatan dengan delta Sungai Mekong-nya merupakan kawasan agribisnis utama negara beribukota di Hanoi itu. Beragam komoditas hortikultura dan tanaman pangan dikembangkan di kawasan subur itu.

Buah premium

Di Bentanh pula saya membeli lengkeng xhan xiang com vang, di Indonesia namanya lengkeng pingpong. Harga untuk sekilo buah sebesar bola tenis meja itu Rp40.000, paling mahal dibanding buah-buah lain yang dijual di Bentanh. Dengan harga premium itu sepertinya xhan xiang com vang buah kelas atas. Tak terlihat jenis lengkeng lain dijajakan di sana.

Buah lain yang patut diacungi jempol, cempedak berbentuk bundar dengan bobot sekitar 1 kg per buah. Ini ideal untuk buah meja yang habis sekali santap oleh keluarga kecil. Buah naganya berkualitas prima. Mafhum Vietnam salah satu negara yang pertama kali mengembangkan dragon fruit. Pun sawo berukuran jumbo, sekilo berisi       3 buah; durian lokal berdaging kuning, hingga kedondong. Pendek kata hampir semua buah komersial yang dikembangkan di tanahair dijumpai di sana.

Buah yang disebut terakhir, sangat mudah ditemukan dijajakan di mana-mana. Potongan kedondong Spondias pinnata yang dimakan bersama sambal terbuat dari cabai, ebi, dan garam,  menu makan siang favorit gadis-gadis Vietnam. Konon itu rahasia mereka terlihat langsing.

Yang mengejutkan di Bentanh juga dijajakan jambu air berwarna merah nan menyala dengan bentuk khas seperti lonceng terbalik. Memang kualitas buahnya bukan yang terbaik menilik ukuran buahnya yang agak kecil. Di Thailand ia dinamakan thongsamsi, sebuah bisa sebesar kaleng susu kental manis. Aslinya ia dulu berasal dari sebuah pohon induk di Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Lagi-lagi kita ketinggalan. Sementara di Thailand dan Vietnam citra jadi komoditas andalan, di tanahair baru segelintir pekebun yang serius mengembangkan. Seperti Thailand, Vietnam pintar mengemas komoditas pertaniannya. Itu yang kita perlu belajar dari mereka. (Dr Ir Moh Reza Tirtawinata MS, ahli buah di Bogor, Jawa Barat)

 

  1. Menteng berona merah, rasa manisnya kuat
  2. Salah satu sudut Bentanh Central Market di Ho Chi Minh City
  3. Cempedak bulat yang cocok buat konsumsi keluarga kecil
  4. Pir (kiri) dikembangkan di Vietnam Utara yang subtropis
  5. Lengkeng pingpong (paling depan). Dengan harga Rp40.000 per kg buah premium di Vietnam
  6. Jambu citra asal Indonesia juga dikembangkan negeri Champa
  7. Kesemek daratan rendah Diospyros roxburghii dari pohon di makam raja di Kota Hoi An
  8. Kesemek dataran tinggi Diospyros kaki asal Vietnam Utara yang subtropis
Previous articlePacu Buah Gincu
Next articleLebat Kristal Tiada Tara
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img