Perawatan meningkatkan produksi kapulaga.
Pekebun menempuh banyak cara untuk meningkatkan produksi kapulaga. Periset Balai Penelitian Teknologi Agroforestri (BPTA) Ciamis, Jawa Barat, Dian Diniyati, M.Si menyebutkan, terjadi pergeseran jenis kapulaga yang ditanam petani. Para pekebun antara lain Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya, keduanya di Provinsi Jawa Barat, kini banyak membudidayakan kapulaga sabrang Elettaria cardamomum.

Produksi kapulaga sabrang lebih tinggi, yakni 4—6 kg per tanaman. Samsuludin M.Psi di Cikunir, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pernah mengebunkan 3.000 rumpun kapulaga sabrang dan menghasilkan 6 ton buah kapulaga segar. Produksi itu hampir dua kali lipat produksi kapulaga lokal Amomum cardamomum. Produksi kapulaga lokal rata-rata 1—1,5 kg per tanaman. Di mancanegara kapulaga lokal itu berjuluk false cardamom atau kapulaga palsu.
Penaung kardamon
Samsuludin baru meraih titel sarjana Psikologi dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ketika mengajak ayahnya, Iskandar, menanam kapulaga sabrang. Pada musim hujan 2012, mereka menanam kapulaga di sela tanaman pisang. Jarak tanam pisang 3 m x 3 m. Mereka menanam dua bibit kapulaga sabrang berjarak 0,75 cm dari tanaman pisang. Bibit itu membentuk barisan memanjang dengan jarak antarbaris 1 m.
Mereka menanam kapulaga 3—4 bulan setelah penanaman pisang. Tujuannya agar bibit kapulaga ternaungi oleh daun pisang. Sebelum menanam, Iskandar membenamkan 10 kg per m² pupuk kandang. Samsuludin mengulangi pemberian pupuk itu setiap tahun menjelang berbunga. Pekebun di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Nur Ali melakukan hal serupa. Nur memberikan 25—30 kg pupuk kandang kotoran kambing terfermentasi untuk 20 rumpun.
Menurut Samsuludin, pisang adalah naungan ideal. Begitu panen pisang dengan menebang tanaman, maka anakan Musa paradisiaca itu menjadi pengganti sebagai penaung. Setelah panen pisang, Samsuludin mencacah batang lalu menyebar cacahan itu di sekitar rumpun kapulaga “Batang pisang membantu mempertahankan kelembapan tanah, terutama saat kemarau,” kata Samsuludin.

Maklum, kapulaga memerlukan naungan untuk meredam intensitas sinar matahari, Menurut periset ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor, Prof. Dr. Ir. Rosihan Rosman, intensitas matahari berlebih merusak daun sehingga mengganggu fotosintesis. Gangguan fotosintesis menghambat pembentukan atau pembesaran buah. “Idealnya naungan menghambat 70—80% sinar matahari,” kata Rosihan.
Lima tahun
Meski mendukung produktivitas, pohon penaung bisa berbalik menghambat kardamon alias kapulaga. Terutama pohon anggota famili Fabaceae (polong-polongan) seperti sengon, turi, lamtoro, atau petai. Pengalaman Samsuludin, pohon jenis itu menggugurkan daun pada kemarau sehingga mengurangi naungan. Padahal saat itu, intensitas dan fotoperiode sinar matahari meningkat.
Sudah begitu, guguran serasah yang jatuh di sela tandan bunga memicu pembusukan yang merusak bunga atau buah. Untuk mencegahnya, “Pekebun harus rutin menyiangi tanaman,” kata Samsuludin. Penyiangan sekalian membersihkan rumput yang muncul di sela rumpun untuk mengurangi kompetisi penyerapan hara tanah. Meski demikian tanaman tetap memerlukan sinar matahari.

Oleh karena itu, Dian Diniyati menyarankan pekebun mengikat tangkai daun kapulaga agar sinar matahari mencapai pangkal rumpun. Pengikatan juga mencegah daun menaungi tandan bunga. “Tandan yang terkena sinar matahari lebih optimal menghasilkan buah ketimbang yang ternaungi,” kata Magister Ilmu Kehutanan alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.
Pekebun juga harus memperhatikan aliran air hujan. Kapulaga menyukai tanah lembap tapi tidak tergenang. “Genangan menyebabkan rimpang membusuk,” kata Samsuludin. Solusinya, pekebun kapulaga perlu membuat parit agar drainase lancar. Parit itu juga mempermudah pemupukan lantaran pekebun tidak perlu menggali lubang lagi untuk memasukkan pupuk padat.
Pembuatan parit sekaligus menjadikan tanah tetap gembur. Menurut Dian tanah gembur mempermudah pertumbuhan tunas anakan. Makin banyak tunas berarti jumlah tanaman bertambah sehingga produksi meningkat. Jumlah tunas mempengaruhi masa peremajaan tanaman. Dian menganjurkan penanaman ulang setelah umur tanaman 15 tahun.
Samsuludin malah menganjurkan peremajaan ketika tanaman berumur 5 tahun. Pertimbangannya, “Perakaran kapulaga dangkal karena akarnya serabut. Pada umur lebih dari 5 tahun, produksi menurun,” kata ayah 1 anak itu. Dengan berbagai perlakuan itu, produktivitas kapulaga bisa melejit lebih dari 6 ton rimpang basah seperti pengalaman Iskandar. (Argohartono Arie Raharjo)
