Wednesday, January 28, 2026

Menjaga Produksi Liur Emas

Rekomendasi
- Advertisement -
Tren membangun gedung walet anyar sudah lewat, terutama di daerah sentra. (Dok. Trubus)

Upaya menjaga produksi sarang walet dengan menjaga lingkungan agar ketersediaan pakan melimpah.

Trubus — Setiap tahun Indonesia mengekspor rata-rata 1.500—1.600 ton sarang burung walet. Produksi itu dari sekitar 100.000 rumah walet tersebar di seluruh Indonesia. Kini di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dipenuhi gedung walet. Artinya kapasitas produksi sarang walet sudah optimal. Bahkan, jika digambarkan dalam bentuk kurva, kondisi produksi sarang di tanah air melewati titik tertinggi mengarah ke penurunan.

Pakar walet di Jakarta,
Dr. Boedi Mranata. (Dok. Trubus)

Pakar walet di Jakarta, Dr. Boedi Mranata mencontohkan, kualitas sarang di sentra lama seperti Jawa rata-rata makin tipis dan waktu pembentukan sarang makin lama. Itu ciri-ciri satu sentra mulai turun. “Jawa sudah turun dan Kalimantan pun mulai mengalami gejala itu,” katanya. Oleh karena itu, menurut Boedi pada 2020 momentum membangun gedung walet sudah lewat. Kecuali di daerah baru yang betul-betul asri dan potensial sebagai habitat walet.

Ketersediaan pakan

Kota besar di Sulawesi seperti Kendari, Palu, dan Manado pun penuh gedung walet. Menurut doktor Biologi alumnus Hamburg University, Jerman, itu walet adalah bisnis yang ramah lingkungan. Musababnya pengembangan walet menghendaki lingkungan asri sebagai habitatnya. Lingkungan asri menunjang ketersediaan pakan sehingga produksi sarang optimal. Menurut Boedi tren gedung walet di suatu sentra rata-rata 7—10 tahun.

Itu terkait dengan populasi walet dan ketersediaan pakan di suatu daerah. Boedi mencontohkan, pertumbuhan populasi walet daerah di sentra amat pesat. Sebelum menjadi sentra, populasi serangga pakan walet jauh di atas populasi walet. Seiring bertambahnya gedung walet, populasi walet kian meningkat. Kemudian sampai pada titik populasi walet di atas populasi serangga yang menjadi pakannya.

Pembentukan sarang pada sentra mulai menurun. Durasi pembentukan sarang makin lama. (Dok. Trubus)

Akibatnya ketersediaan pakan pun berkurang, populasi walet akan menurun mengikuti ketersediaan pakan alami. Menurunnya populasi walet tentu berimbas pada menurunnya pula produksi sarang. Mampukah sentra bangkit setelah terpuruk? Menurut Boedi hal itu relatif sulit. Sebab, serangga sebagai pakan alami sulit berkembang, karena populasi walet yang lebih banyak.

“Pertumbuhan populasi serangga tertahan oleh walet sebagai predator karena populasinya lebih banyak, sehingga sulit bagi serangga pakan walet untuk berkembang,” kata Boedi. Menurut penelitian mahasiswa Program Studi Biologi, Universitas Lambung Mangkurat, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Taufik Noor, jika populasi serangga di daerah perburuan terdekat menurun, walet dapat melakukan perburuan mencapai kisaran 50 km.

Lestari

Lingkungan sekitar gedung walet perlu dijaga demi ketersediaan pakan alami. (Dok. Trubus)

Menurut pemilik gedung walet di Kabupaten Rokanhilir, Provinsi Riau, Muhammad Haris, jenis serangga yang dimakan walet sangat beragam. Ketersediaannya sangat bergantung pada kelestarian alam. Kegiatan perusakan lingkungan salah satunya pembakaran hutan bisa menyebabkan populasi walet menurun. Bahkan, walet bermigrasi mencari lingkungan anyar yang lebih mendukung.

Boedi menuturkan, kebakaran hutan setiap musim kemarau permasalahan klise. Imbasnya berkaitan dengan pemanasan global. Kerugian akibat pemanasan global tidak hanya merugikan bidang walet. Namun, merugikan segala sektor terutama pertanian secara umum. Menurut Boedi perlu kesadaran dari semua pihak untuk menjaga lingkungan agar Collocalia fuciphaga tetap lestari.

Pihak pemerintah betul-betul melaksanakan aturan tegas. Adapun dari masyarakat turut aktif menjaga lingkungan. Salah satu upaya nyata yang dilakukan Boedi dan kolega dengan mengelola Hutan Harapan di lahan 101.355 hektare di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Harapannya agar lingkungan tetap lestari. Dengan lingkungan lestari, tentu produksi sarang walet sebagai sumber devisa juga akan lestari. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img