Friday, January 16, 2026

Mentan Amran Fokuskan Hilirisasi Pertanian Nasional untuk Tingkatkan Nilai Tambah Petani

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan arah baru pembangunan pertanian nasional yang kini berfokus pada hilirisasi sektor pertanian. Langkah strategis ini diambil setelah pemerintah menilai target pangan nasional telah tercapai dengan hasil yang optimis.

Dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Mentan Amran menyampaikan bahwa setelah ketersediaan pangan dinilai aman, pembangunan pertanian ke depan akan diarahkan pada hilirisasi sektor perkebunan, hortikultura, dan peternakan. Menurutnya, strategi ini penting agar Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tinggi.

“Rencana kita hilirisasi, seperti kelapa ini tidak boleh dijual gelondongan ke luar negeri. Dari kelapa yang kita ekspor 2,8 juta ton per tahun dengan nilai Rp24 triliun, jika diolah menjadi produk turunan seperti coconut milk, nilainya bisa meningkat hingga 100 kali lipat. Itu bisa menghasilkan 2.400 triliun. Katakanlah separuh saja, bisa menghasilkan 1.200 triliun,” jelas Mentan Amran dilansir pada laman Kementan.

Sebagai bagian dari upaya hilirisasi yang lebih luas, Kementan juga mulai mengembangkan berbagai komoditas unggulan lain yang memiliki potensi besar di pasar global. “Itu baru kelapa. Ada yang menarik, gambir juga kita rencana hilirisasi, kita mensuplai dunia 80 persen gambir. Bisa jadi tinta untuk pemilu, bisa untuk siri, bisa untuk sampo dan seterusnya,” lanjutnya.

Program hilirisasi ini juga dirancang untuk membuka lapangan kerja baru serta mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah. Melalui program Anggaran Belanja Tambahan (ABT) senilai Rp9,95 triliun, Kementan menyiapkan bantuan benih dan bibit gratis untuk petani di seluruh Indonesia, mencakup 800 ribu hektare lahan perkebunan yang diproyeksikan mampu menyerap 1,6 juta tenaga kerja baru dalam dua tahun.

Selain itu, kebijakan hilirisasi juga akan terintegrasi dengan program biofuel dan bioethanol nasional. Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia dengan produksi 46 juta ton per tahun akan mengalihkan sebagian ekspor menjadi bahan baku B50 (biodiesel) guna memperkuat ketahanan energi nasional.

“Jika 5,3 juta ton CPO dialihkan untuk B50, kita bisa menghentikan impor solar dan sekaligus menghemat devisa. Selain itu, kita dapat mengendalikan harga CPO dunia, karena 60 persen produksinya ada di Indonesia,” paparnya.

Mentan Amran juga menegaskan visinya terhadap hilirisasi menyeluruh di sektor pertanian. “Mimpi kita adalah seluruh bahan baku yang kita ekspor ke seluruh dunia, termasuk CPO, kita hilirisasi. Khusus CPO dikuasai pemerintah. Dari tandan buah segar menjadi FAME atau biofuel, kemudian menjadi minyak goreng, kemudian menjadi margarin atau mentega. Edit value-nya harus ada di Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pencapaian besar ini tidak terlepas dari dukungan Presiden RI serta penyederhanaan regulasi yang selama ini menghambat distribusi dan produksi. Regulasi pupuk yang sebelumnya melibatkan 145 aturan kini disederhanakan menjadi tiga tahap: dari produsen langsung ke petani.

Mentan Amran menutup pernyataannya dengan penuh optimisme terhadap cita-cita kemandirian pangan dan energi nasional. “Ini mimpi terbesar kita, Indonesia menjadi lumbung pangan dunia. Insya Allah mudah-mudahan tiga tahun jadi kenyataan,” ujarnya.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img