Trubus.id — Melalui dorongan pemerintah dan berbagai pihak, diharapkan petani dan komoditas kopi Indonesia dapat naik kelas. Selain itu, kopi lokal Indonesia ke depan bisa menjadi menu wajib di seluruh dunia sehingga mendongrak nilai ekspor dan kesejahteraan petani.
Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian, berkomitmen ingin memajukan kopi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki 18 jenis kopi dengan rasa yang berbeda-beda. Dari beragam jenis kopi itu, banyak masyarakat tertarik menikmatinya.
Apalagi, komoditas kopi saat ini tengah naik daun. Syahrul berharap ke depan kopi Indonesia tidak hanya dinikmati di lokal, tetapi di kafe-kafe besar di seluruh dunia juga dipenuhi menu kopi dari Indonesia.
“Tahun lalu kita buat One Day With Coffee Indonesia dan bisa mendapat kontrak miliaran melalui acara tersebut. Upaya ini tentu perlu kita dorong lebih kuat lagi,” kata Syahrul seperti dilansir dari laman Kementerian Pertanian.
Lebih lanjut, Syahrul menyebutkan Indonesia merupakan negara produsen biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, dengan produksi rata-rata sekitar 786 ribu ton per tahun atau sekitar 9 persen dari produksi kopi dunia.
Menurutnya, pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk menggenjot produksi kopi nasional. Di antaranya melalui berbagai program seperti peningkatan produksi, nilai tambah agroindustri kopi, mutu produk olahan kopi, perluasan pasar domestik dan ekspor, pemberian insentif dan dukungan sarana berusaha, serta peningkatan kualitas SDM pelaku usaha kopi.
“Saya sedang mempersiapkan kurang lebih 10 juta bibit kopi di seluruh Indonesia, 10 juta bibit kelapa. Dengan begitu, 2 tahun ke depan Indonesia memiliki stok kopi dengan varietas unggul yang bisa siap diolah dan dikonsumsi oleh dunia,” papar Syahrul.
Selain itu, Syahrul juga menjelaskan sektor pertanian memegang peran penting dalam penyediaan pangan masyarakat. Tantangan penyediaan pangan ke depan juga semakin berat.
Mulai dari dampak perubahan iklim dan iklim ekstrem yang sangat sulit diprediksi, serta terjadinya tekanan geopolitik dunia yang menyebabkan harga pangan semakin mahal dan menyebabkan terjadinya krisis pangan global.
“Siapa pun bisa apa tanpa pertanian. Bisa hebat politikmu, bisa kaya harta tapi kalau tidak makan, bisa apa kita?” tutur Syahrul.
