

Itu karena Wawan memperbanyak miracle fruit Synsepalum dulcificum dengan setek. “Tingkat keberhasilannya mencapai 70%,” kata Wawan. Pekebun lain, justru mengalami sebaliknya. “Tingkat keberhasilan dengan setek hanya 20–30%,” ujar Ricky Hadimulya dan Gunawan Widjaja keduanya penangkar di Bogor, Jawa Barat, sepakat. Mereka pun lebih memilih memperbanyak beri manis itu dengan biji. Padahal, miracle fruit asal biji baru berbuah setelah berumur 2 tahun.
Boleh jadi perawatan lebih intensif jadi kunci keberhasilan Wawan menyetek si buah ajaib. Ricky misalnya, memilih pucuk, mengoleskan sebentar dengan pasta zat pengatur tumbuh, lalu ditanam dalam oasis–busa tanam–yang basah, dan diletakkan dalam ruang kabut. Setek dibiarkan tanpa pemupukan.
Batang lidi
Wawan memilih batang tanaman seukuran batang lidi sebagai bahan setek. Biasanya Wawan menggunakan setek dengan panjang berkisar 5–10 cm. Batang dipotong dengan posisi miring. Tujuannya agar penampang melintang batang lebih luas sehingga jumlah akar yang dihasilkan banyak. Dengan begitu penyerapan nutrisi lebih optimal sehingga tanaman hasil setek tumbuh subur. Wawan memotong setengah dari daun yang ada agar bahan tanaman itu masih bisa berfotosintesis.
Batang yang sudah dipotong lalu direndam dalam zat penumbuh akar berdosis 3 cc dicampur 1 liter air selama 15 menit agar pertumbuhan akar lebih cepat. Air dapat digantikan dengan air kelapa yang dapat mempercepat tumbuhnya tunas baru. Setelah itu tancapkan setek ke dalam media campuran cocopeat dan pupuk organik dengan perbandingan 1:2 yang sudah disiram hingga basah.
Saat ditancapkan batang setek harus tegak lurus dengan kedalaman 2,5–5 cm atau ½ dari panjang setek supaya tidak goyah. Kemudian bakal tanaman itu disimpan di tempat teduh seperti di bawah pohon atau jaring peneduh. Paparan sinar matahari langsung menyebabkan setekan kering dan akhirnya mati.
Modal telaten
Selama pembibitan, setek disiram setiap seminggu sekali atau ketika media tanam sudah tampak kering. Penyiraman juga dibarengi dengan pemberian vitamin B1 dengan dosis 2 cc/liter yang dilarutkan dalam air untuk menyiram. Pemberian vitamin B1 dilakukan sampai muncul tunas baru pada setek.
Setekan biasanya mulai berakar 2 pekan setelah tanam. Daun-daun baru mulai bermunculan setelah 3 pekan. Setelah 2 bulan tanaman siap dipindahkan ke media baru. AF Margianasari, kepala produksi buah Taman Wisata Mekarsari (TWM), Cileungsi, Bogor, mengacungi jempol keberhasilan menyetek miracle fruit ala Wawan. “Menyetek miracle fruit itu sulit sekali,” kata Riris, sapaannya.
Menurutnya keberhasilan menyetek si buah ajaib sangat dipengaruhi oleh keterampilan dan kemahiran si penangkar. Misal zat perangsang akar dan vitamin B1 yang dipakai memang lazim digunakan dalam cara perbanyakan dengan metoda kultur jaringan untuk memacu pertumbuhan akar dan tunas. Selain itu vitamin B1 juga meningkatkan respon tanaman terhadap pemupukan.
Pemilihan media cocopeat memang pas dipakai dalam pembibitan karena porous dan menyimpan air. “Media penanaman setek harus lembap,” kata Riris. Jika media kering, tunas pucuk langsung mengering begitu muncul. Namun, media juga tidak boleh terlalu basah karena berisiko setek busuk.
Artinya, penangkar juga harus telaten melihat kondisi setekan setiap hari. Saat mengambil bahan setekan pun ia harus bergerak cepat memotong lalu menanam supaya setek tidak terkontaminasi penyakit. Alat potong yang digunakan pun mesti steril. Terbukti, dengan perawatan intensif ala Wawan, 9 bulan kemudian si buah ajaib hasil setek mulai berbuah. Jadi, tak perlu menunggu 2 tahun untuk mencicipi keajaiban rasa miracle fruit. (Pranawita Karina)
|
Setek ala Wawan
|
|
Berbuah di Dataran Rendah Miracle fruit yang tumbuh di halaman belakang rumah milik Bob Nainggolan SH, hobiis tanaman buah di Bandung, Jawa Barat, yang berketinggian 700 m dpl itu berbuah lebat. Hampir seluruh tajuk ditaburi buah mungil berwarna merah. Menurut Ricky Hadimulya, penangkar buah di Bogor, Jawa Barat, si buah ajaib biasanya rajin berbuah di dataran menengah hingga tinggi. Itulah sebabnya banyak hobiis yang mengeluh miracle fruit sulit dibuahkan di Jakarta yang merupakan dataran rendah. Toh di kebun Wawan K Syarief, penangkar buah di Karawang, Jawa Barat, berketinggian 20 m dpl, miracle fruit ternyata rajin juga berbuah. Kuncinya, tanaman diberi asupan pupuk kandang sebanyak 1 kg dan NPK berkomposisi 16:16:16 sebanyak 15 g setiap bulan. Selain itu si buah ajaib rutin mendapat penyiraman 2 kali sehari. Buahnya memang tak selebat di dataran menengah tinggi, tapi beri manis itu bisa dinikmati di dataran rendah. (Pranawita Karina) |
