Belakangan ini, prediksi mengenai kemarau panjang yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) cukup menyita perhatian publik. Namun di lapangan, kita justru masih sering menjumpai rintik hujan deras yang membasahi sejumlah wilayah Indonesia. Lantas, mengapa hujan masih saja turun di tengah santernya isu El Nino, bahkan yang berjuluk “Godzilla” sekalipun?
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, S.S., M.Si. mengatakan, dinamika iklim semacam ini sebenarnya sangat wajar karena wilayah Indonesia saat ini memang tengah berada di masa peralihan musim. “Karena ini masih pancaroba, dan awal musim juga tidak seragam di semua wilayah Indonesia,” ujar Sonni.
Turunnya hujan hari ini bukan berarti prediksi soal kemarau panjang itu keliru. Indikasi menuju musim kering tetap terlihat jelas dari adanya tren peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. “Iya, karena suhu muka air laut di Samudra Pasifik tengah dan timur kawasan tropis cenderung meningkat,” kata Sonni.
Kondisi memanasnya perairan Pasifik inilah yang menjadi sinyal awal berkembangnya fenomena El Nino. Merujuk pada informasi BMKG, musim kemarau tahun ini diproyeksikan bakal lebih awet. “Diprediksi demikian, dengan durasi sekitar enam bulan,” ucap Sonni.
Tak hanya lebih lama, tamu tak diundang bernama kemarau ini juga berpotensi datang lebih cepat. Khususnya untuk wilayah Pulau Jawa yang biasanya baru memasuki fase kering pada bulan Juli.
Percepatan ini sangat berkaitan erat dengan memanasnya lautan di Pasifik tengah dan timur yang dibahas sebelumnya. “Kenaikan suhu muka laut ini berdampak pada pengurangan formasi awan-awan di Indonesia,” ujar Sonni.
Sebagai informasi, siklus El Nino dan La Nina biasanya berulang tiap 4 sampai 5 tahun sekali. Pada dasarnya kedua fenomena ini merupakan produk fenomena interaksi skala besar antara laut dan atmosfer. Interaksi inilah yang kemudian memicu pergeseran pada Sirkulasi Walker. “Sirkulasi Walker adalah sirkulasi arah barat–timur, di mana udara naik di atas benua dan turun di atas samudera,” kata Sonni.
Lalu, bagaimana dengan istilah “El Nino Godzilla” yang belakangan ramai diperbincangkan? Istilah tersebut rupanya digunakan untuk menggambarkan level super dari fenomena El Nino. Alasannya karena intensitas El Nino tergolong sangat kuat bila dibandingkan dengan kejadian normalnya.
“El Nino Godzilla mengacu pada super El Nino saat suhu muka laut di Pasifik bisa naik sekitar 2,5°C. Bahkan lebih di atas kenaikan suhu muka laut pada kejadian El Nino biasa. El Nino Godzilla ini biasanya berlangsung rata-rata selama satu tahunan ,” tutur Sonni.
Bencana iklim dengan dampak global berskala besar ini tercatat pernah memicu kekeringan ekstrem dan karhutla pada 1982, 1997, dan 2015. Syukurnya, untuk saat ini posisinya belum sampai ke tahap yang mengkhawatirkan. Kekuatannya masih lemah ke moderat.
Meski begitu Sonni menemukan kaitan menarik antara potensi kemunculan El Nino Godzilla dengan aktivitas sunspot atau bintik hitam pada matahari. “Berdasarkan data sunspot dan data curah hujan di 72 stasiun di Pulau Jawa selama 35 tahun menunjukkan bahwa intensitas El Nino dapat diperkuat oleh sunspot.
Fakta lainnya, data menunjukkan bahwa kejadian super El Nino alias Godzilla ini selalu mengekor setelah sunspot mencapai titik puncaknya. “Sunspot maksimum tahun 2025 berpotensi diikuti El Nino kuat pada 2026,” kata Sonni.
Walaupun kajian ilmiah ini masih membutuhkan pendalaman data jangka panjang dan ruang yang lebih luas, masyarakat diimbau untuk tidak lengah. Tetap ikuti informasi resmi yang ada dan pahami bahwa anomali cuaca yang kita rasakan saat ini hanyalah bagian dari proses transisi musim yang kompleks.
