Wednesday, August 17, 2022

Nafas Baru untuk Bandeng dan Udang Panen Lebih Cepat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sejak 2003 kendala itu ditepis dengan teknik guba. Persentase bandeng yang hidup 90—95%. Kelebihan lain, bandeng yang dipanen bebas bau lumpur.

Kelebihan teknik guba bukan hanya memperbaiki tingkat kelulusan hidup bandeng. Panen Chanos- chanos itu menjadi lebih cepat, hanya 2,5—3 bulan sejak glondongan—bibit bandeng berumur 1,5—2 bulan—ditebar. Lazimnya pembesaran bandeng berlangsung 3—4 bulan tergantung musim.

Bagi Achmad Sujianto hal itu merupakan keuntungan luar biasa. Tengok saja, pendapatan yang dikeruk dari tambak seluas 3,8 ha pada Februari silam. Alumnus Kedokteran Universitas Airlangga itu memanen 5 ton bandeng dari 5 rean—setara 25.000 bibit—yang ditebar. Dengan harga Rp6.000 per kg, kepala Puskesmas Kedungpring, Lamongan, itu mengantongi Rp30-juta. Padahal, biaya produksi hanya Rp12-juta.

Keuntungan peternak kian berlipat pada panen berikutnya. Lantaran tak perlu mengolah tambak lagi dan kondisi air telah stabil. Laba mencapai 200% dan 300% pada panen kedua dan ketiga. Itu baru dari 1 tambak. Achmad masih mempunyai 9 ha tambak lain di Lamongan, dan beberapa petak di Tuban.

Teknik guba

Di kalangan peternak bandeng di Lamongan, teknik guba diterapkan sejak awal 2003. Cara itu diperkenalkan oleh tim riset Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerjasama dengan Bina Agro Konsultan (BAK), lembaga yang bergerak di bidang konsultasi perikanan.

Menurut Among Kurnia Ebo, direktur BAK, guba singkatan dari tiga unsur utama bertambak, yaitu: dasar tambak, air, dan ikan. Apabila semua unsur dikondisikan optimal, peternak akan memperoleh hasil panen tinggi. Teknik guba memanfaatkan probiotik alias koloni mikroba yang mengoptimalkan proses biologi dan kimia dalam pemeliharaan ikan.

Mikroba itu diambil dari isolat asli perairan Indonesia, sehingga spesifi k lokasi. Untuk memacu pertumbuhan dipakai kombinasi mikroba kelompok Lactobacillus, Acetobacter, dan Yeast. Sedangkan penstabil dasar tambak dan air ditambahkan lagi kombinasi mikroba kelompok Bacillus dan Azotobacter.

Penerapan teknik guba pada bandeng di Lamongan selangkah lebih maju dibanding cara serupa yang dipakai pada lele. (baca: Guba Genjot Produksi Lele, Trubus November 2004, hal 128—129). Musababnya, 2 unsur lain yaitu dasar tambak dan air sudah diterapkan.

Bandeng dan windu

Berkah teknik guba juga dirasakan oleh Khafi d Ismail. Selama 1 tahun pada 2001—2002 peternak windu dan bandeng di Gresik, Jawa Timur, itu gagal membesarkan udang windu. Padahal, sejak 1994—2000 ia dikenal sebagai petambak sukses. Usut punya usut, pemberian pupuk anorganik dan pestisida berlebih merusak ekosistem tambak.

Maklum, saat itu di Gresik petambak gemar menambahkan pestisida untuk merangsang cacing keluar dari dasar tambak sebagai pakan alami windu. Pun petambak bandeng, menggunakan pestisida jenis lain untuk membunuh udang kecil, pesaing bandeng memakan plankton.

Kegagalan yang dialami oleh Khafi d berubah menjadi sukses setelah menerapkan teknik guba pada 2003. Ia memperbaiki kondisi air dan dasar tambak dengan menyetop pemakaian pupuk anorganik, diganti pupuk organik guano. Probiotik ditambahkan untuk memperkaya mikroorganisme.

Lambat laun, ekosistem mulai pulih sehingga windu dan bandeng hidup dengan baik. Saat Trubus berkunjung ke Gresik, Khafi d baru saja memanen 1,3 kuintal windu, 5 kuintal bandeng, dan 4 kuintal tawas dari tambak seluas 1 ha. “Tak terlihat lagi tambak itu pernah mati,” kata ayah 5 anak itu.

Mudah diterapkan

Aplikasi teknik guba sangat mudah. Untuk tahap persiapan 1 ha tambak, sediakan 2—5 l air tambak. Tambahkan 1,5 kg gula pasir atau tetes tebu dan campurkan dengan 3 l kombinasi mikroba penstabil dasar tambak yang berbentuk cair. Aduk sampai benar-benar rata dan diamkan selama 1 jam agar mikroba aktif. Berbarengan dengan itu olah tambak seperti biasa dengan mengurangi pemberian pupuk setengah dari dosis yang biasa diberikan. Masukkan air hingga 5—10 cm dari dasar tambak.

Larutan yang telah didiamkan diaduk 2—3 kali, lalu disebarkan merata dengan cara disemprot. Biar lebih rata, larutan diencerkan menjadi 1 tabung semprot. Biarkan lahan 7—10 hari agar proses dekomposisi bahan organik dan pertumbuhan biologi tambak sempurna. Pada hari ke-7 atau ke-10 masukkan air setinggi 60—100 cm, lalu tebarkan lagi 1—2 l kombinasi mikroba penstabil dasar tambak yang telah diaktifk an pada 5—10 l air. Biarkan kembali tambak terisi air tanpa ikan selama 7 hari agar mikroorganisme merugikan berkurang. Setelah 7 hari benur atau glondong ditebarkan.

Setelah dasar tambak siap, proses selanjutnya merawat air. Caranya hampir mirip, aktifk an 1—2 l kombinasi mikroba penstabil dasar tambak dan air pada 5 l air, lalu tebarkan secara merata seminggu sekali. Selama 2,5 bulan pemeliharaan bandeng dibutuhkan sekitar 15 l kombinasi mikroba penstabil dasar tambak. “Biar jumlahnya sesuai, diselang-seling saja. Minggu ini 1 l, berikutnya 2 l, begitu seterusnya,” kata Muwaff aqin, manajer distribusi Bina Agro Jawa Timur.

Terakhir adalah cara memacu pertumbuhan bandeng dan udang. Campurkan 5—10 tutup botol atau setara 20—25 ml kombinasi mikroba pemacu tumbuh ke dalam 1 l air, lalu tambahkan 1 sendok makan gula pasir atau tetes tebu. Semprotkan pada 1 kg pakan, aduk hingga menjadi adonan yang rata. Biarkan adonan itu minimal 6 jam untuk pakan buatan sendiri dan maksimal 1 jam untuk pakan pabrik. Tebarkan pakan itu sehari 3 kali atau sesuai kebiasaan. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img