Monday, August 8, 2022

Nikon Cup Robocop Kian Mencorong di Ancol

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Prestasi Robocop memang sedang mencorong. Sejak di tangan H Sunara, anis merah itu kian melijit dengan merebut berbagai juara. Di kontes Emerald Cup, Pluit, Jakarta Utara, awal Mei, ia merebut kampiun di kelas eksklusif. Volume besar, gaya teler, dan suara isian menjadi kunci kemenangannya. “Doyong (gaya teler, red)-nya penuh ke kanan dan ke kiri,” kata manajer UPJ PLN Bandung, Jawa Barat, itu.

Di kontes itu, keandalan Robocop kembali terbukti. Bertanding di babak penyisihan A, burung yang sudah ditawar Rp100-juta itu terus mengeluarkan gaya telernya. Kepala bergerak ke kanan dan kiri, seiring kicauannya yang nyaring. Enam juri pun dibuat terkesima mendengar cerecetnya yang khas. Dengan mengantongi poin 320, ia masuk ke putaran fi nal bersama 8 burung lain.

Di babak fi nal, Robocop harus bersaing ketat dengan 38 anis merah lain, pemenang di babak penyisihan B dan C. Saingan beratnya ada di gantangan 10. Tak heran, bila juri terus memantau keduanya. Begitu berakhir, Robocop melenggang ke puncak dengan merebut mahkota jawara di kelas anis merah nikon, disusul Wellnes milik Nabil asal Jakarta.

Terbaik

Kelas anis merah nikon menjadi ajang paling bergengsi karena diikuti 39 kontestan yang diseleksi 3 babak penyisihan. Tak heran, bila H Sunara bangga atas prestasi Robocop. Kemenangan itu memperkokoh kekuatan Bandung Team dalam pengumpulan poin untuk merebut juara di kategori tim.

Tak hanya Robocop, burung-burung jagoan klub burung asal Bumi Parahyangan banyak yang mengukir prestasi. Juara I di kelas murai ring direbut Jugala milik Irawan Saviola. Di kelas murai nikon, Misteri GLG dan Marsekal pun menempati posisi ke-1 dan ke-2. Di kelas pentet dan cucak hijau, ada Zena dan Extra yang berjaya di urutan ke-2. Dengan seabreg prestasi itulah, tim yang dikomandoi Aay Mulyana itu akhirnya dinobatkan sebagai juara tim.

Sebagai juara perorangan Edhi SK asal Purwokerto, Jawa Tengah. Predikat itu direbut setelah 4 burung jagoan silih berganti mengukir prestasi. Di kelas tledekan dan poksay, Killer dan Endang Genit merebut juara I. Sementara Robot Gedek hanya menempati urutan ke-2 di kelas anis merah bintang PBI C. Di kategori burung penangkaran, Suzuki Team asal Jakarta Timur berhasil merebut mahkota juara setelah Genjring menang di kelas anis kembang.

Bergengsi

Selain anis merah, ajang bergengsi juga terjadi di kelas anis kembang nikon, muraibatu, kacer, hwa mey, kenari, cucak hijau, dan pentet. Burung yang masuk ke kelas itu harus melewati babak penyisihan terlebih dulu. Di kelas kacer, Elang Putih milik Suwandi asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, berhasil merebut kampiun setelah mengempaskan 19 rivalnya. “Tak sia-sia datang ke sini (Jakarta, red),” katanya.

Sukses mengukir prestasi juara juga dialami Rangsangan, kenari jagoan Yoyok S asal Malang, Jawa Timur. Burung yang acap juara di berbagai kontes itu maju ke babak fi nal setelah menang di babak penyisihan A. Keandalan burung berumur 3 bulan itu dibuktikan setelah menundukkan 28 saingan di babak fi nal. Sayang, di kontes itu, Gempar dan Fokus—nama kenari lain—gagal mengukir prestasi.

Persaingan ketat terjadi di kelas anis kembang. Sejak digantung di tiang setinggi 2,5 m, burung di gantangan 8, 17, dan 1 bersaing ketat dalam perolehan nilai. Tak heran, bila 6 juri langsung memberi  bendera bunyi di bawah gantangannya. Burung digantangan 8 akhirnya merebut juara I. Itulah Matahari milik Malwani asal Cilegon, Serang, Banten. Runner up disabet Kopral andalan Iksan dari Bintaro, Tengerang, di gantangan 1, disusul Mozart jagoan Achun Owen asal Tangerang.

Di kelas itu, dewi fortuna seolah menjauh dari Laurens Prawira, ketua Dewa Rutji Bird Club yang menjagokan Baginda. Anis kembang jawara di gantangan 14 itu gagal mengukir prestasi. Setali tiga uang dengan Ucrit milik Ismail. “Begitu digantung, kondisinya melorot,” kata pria berkacamata minus sambil menenteng sangkar jagoannya.

Bertabur hadiah

Kedatangan H Ciut, asal Binuang, Kalimantan Selatan, di kontes itu tidak siasia. Kelana, pentet milik bos perusahaan tambang batubara itu menyabet juara I di kelas pentet nikon dan bintang PBI A. Kebanggaan ketua tim Emas Hitam itu semakin lengkap ketika anis merah bernama Walisongo dan Raider masingmasing meraih juara ke-3 di kelas bintang PBI A dan B. “Prestasi itu sudah sangat bagus, apalagi di kontes burung berskala besar,” katanya.

Kontes besar itu diikuti 1.750 burung. Peserta datang dari berbagai kota di tanah air, seperti Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Bali, Palangkaraya, Banjarmasin, dan Lampung. Mereka bertanding di 38 kelas yang dibagi dalam 3 arena untuk memperebutkan berbagai hadiah. Sebanyak 6 unit sepeda motor dan kamera digital disediakan panitia untuk memeriahkan acara. “Even ini sudah 2 kali digelar sejak 2004 dan menjadi agenda kontes nasional,” kata Rusdi Latief, bos Nikon Indonesia sebagai sponsor tunggal.

Kontes hasil kerjasama 3 PBI (Pelestari Burung Indonesia), yaitu PBI Tangerang, Jakarta, dan Bandung itu berlangsung sukses. Sejak dimulai pukul 09.00 hingga selesai pada 17.30, setiap peserta tertib mengikuti jalannya acara. “Kolaborasi ini sekaligus menumbuhkan keakraban sesama hobiis,” kata Joko Irianto dari PBI Bandung. (Nyuwan SB)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img