Sunday, August 14, 2022

Nirwana di Tiga Loka

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kondisi alam di kawasan Tanatoraja di dominasi bukit-bukit batuWarna bunga anggrek bermahkota putih dengan warna kuning pada bagian pangkal lidah atau labellum itu tampak mencolok di tengah remangnya naungan pohon nan rindang. Tanaman anggota famili Orchidaceae itu tumbuh di lantai hutan pada ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut (m dpl) di salah satu bukit di kawasan Toraja, Sulawesi Selatan. Daunnya tampak mengilap karena terbasahi hujan yang mengguyur sejak sore. Eureka! “Itu Phaius stenocentron!” ujar Frankie Handoyo seraya bergegas mempersiapkan kamera untuk mengabadikan anggrek itu.

 

Pertemuan Frankie dengan Phaius stenocentron ibarat pelipur lelahnya perjalanan setelah menapaki bukit cadas nan terjal selama 4 jam di tengah guyuran hujan. “Ini temuan istimewa,” ujarnya. Pasalnya, penjelajah anggrek ternama asal Inggris, Peter O’Byrne, yang pernah mondar-mandir ke hutan-hutan di Pulau Sulawesi selama 7 tahun, belum pernah menemukan anggrek itu.

Selama ini deskripsi tentang P. stenocentron hanya tercatat dalam buku berjudul Die Orchidaceen von Deutsch-Neu-Guinea yang disusun ahli taksonomi asal Jerman, Friedrich Richard Rudolf Schlechter. Buku itu terbit pada 1911. “Buku itu masih ditulis dengan bahasa Jerman lama dicetak hitam putih,” ujar Frankie. Hingga kini belum ada publikasi ilmiah di tanahair yang menyebutkan anggrek itu pernah ditemukan di Pulau Selebes—sebutan Sulawesi. Temuan Frankie itu ibarat menemukan harta karun yang terpendam selama seabad.

Frankie menemukan anggrek Phaius stenocentron dalam perjalanan eksplorasi anggrek untuk menyusun buku Orchid of Sulawesi. Buku itu akan diterbitkan Dewan Pengurus Pusat Perhimpunan Anggrek Indonesia (DPP PAI). “Kami memilih Pulau Sulawesi karena publikasi tentang keragaman anggrek di sana masih minim,” ujar Frankie. Padahal, berdasarkan catatan Schlechter di pulau yang bentuknya menyerupai huruf K itu terdapat sekitar 600 jenis anggrek. Menurut perkiraan O’Byrne dan Frankie jumlah spesies anggrek di sana masih banyak yang belum teridentifikasi. “Kemungkinan jumlah spesies yang tersebar di Pulau Sulawesi mencapai                900—1.000 spesies,” kata ayah satu anak itu.

Perjalanan menjelajah anggrek di Pulau Sulawesi itu berawal dari Makasar, Sulawesi Selatan. Bersama Ramadani Yudha Prasetya—anggota lain PAI, Frankie lalu beringsut  ke arah utara melewati Parepare dan Enrekang. Di sepanjang jalan kedua pasang mata Frankie dan Rama selalu awas mengamati pepohonan dan rumah-rumah penduduk. Menurut Frankie kehadiran anggrek di rumah warga dapat menjadi indikator habitat anggrek. “Kalau penduduk desa di rumahnya ada anggrek, pasti mereka ambil dari hutan di sekitar rumah,” ujar pria yang telah menulis beberapa buku tentang anggrek itu.

Rombongan pun akhirnya berhenti di Kota Makale, Kabupaten Tanatoraja, Sulawesi Selatan. Hutan di sana tidak selebat di hutan hujan kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, misalnya. Di Tanatoraja vegetasinya cenderung homogen, kebanyakan hutan pinus. Di sanalah Frankie berjumpa dengan Tampang, seorang kolega yang berprofesi sebagai pemasok dan pemburu anggrek spesies untuk menjadi pemandu.

Hutan pinus sebetulnya bukan habitat yang baik bagi pertumbuhan anggrek. Namun, hal itu tak menyurutkan Frankie dan Rama untuk melanjutkan perjalanan mengeksplorasi anggrek selebes. “Mencari anggrek itu tidak perlu harus blusukan di hutan. Bisa juga di halaman rumah atau kebun-kebun warga,” ujarnya.

Benar saja. Saat menyambangi salah satu rumah warga, pria yang hobi mengoleksi anggrek sejak sekolah menengah pertama itu menjumpai Phalaenopsis venosa yang tumbuh di permukaan batang mangga di halaman rumah. Frankie juga menjumpai Phalaenopsis javanica yang tumbuh di permbukaan cabang kopi. Di sana anggrek juga tumbuh di jembatan-jembatan kayu untuk menyeberang sungai.

Di Tanatoraja rombongan menuju sebuah bukit berketinggian sekitar 1.300 m dpl dengan berjalan kaki. Pada ketinggian 900 m dpl populasi anggrek mulai terlihat. Menurut Frankie, kehadiran anggrek di sana tergolong istimewa karena mudah dijumpai di pohon-pohon pendek yang tingginya 2—4 m.

Menurut ahli anggrek di Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, Ir Chairani Siregar MS, pada hutan dengan tajuk yang tidak terlalu rapat memang lebih mudah menjumpai anggrek di pohon pendek. Tajuk yang renggang membuat sinar matahari mampu menembus hingga ke lantai hutan. Pada hutan dengan tajuk rapat, anggrek cenderung tumbuh di pohon tinggi yang terpapar sinar matahari.

Namun, kondisi sebaliknya justru terjadi saat Frankie melewati kawasan hutan yang gelap akibat terhalang tajuk pepohonan. Ia memperkirakan cahaya matahari yang masuk hingga ke lantai hutan hanya 5%. Di sana pria yang gemar fotografi itu menjumpai Coelogyne celebensis. Padahal, anggrek hitam sulawesi itu dikenal sebagai anggrek dataran rendah yang menyukai sinar matahari, meskipun tidak terpapar langsung. Ia mampu bertahan hidup di dataran tinggi dan kondisi kekurangan cahaya. Chairani menuturkan, fenomena itu membuktikan daya adaptasi sang anggrek sangat baik. Di sana juga ditemukan Dendrobium macrophyllum var ternatense yang memang menyukai naungan.

Kekhasan bukit di Tanatoraja yang bercadas vertikal membuat Frankie kerap kesulitan mengamati habitat anggrek dari dekat.  Salah satunya ia alami saat mencoba mengamati populasi anggrek di kawasan pemakaman adat yang menyimpan jenazah di dinding-dinding cadas atau tao-tao. Di kawasan itu Frankie menjumpai gerombolan Cleisostoma sp, Eria sp dan Dendrobium sp. Anggrek–anggrek itu tumbuh lestari lantaran tak seorang pun yang berani mengambil karena menghormati adat.

Frankie juga gagal menjangkau hamparan Vandopsis lissochiloides yang tumbuh masif di puncak bukit cadas dengan lereng vertikal berketinggian 800—1.000 m dpl. Masyarakat menyebutnya Gunung Batu. Penampilan anggrek itu tergolong istimewa karena bersosok cantik. Mahkota berbentuk seperti bintang dengan totol cokelat yang merata di seluruh mahkota yang berwarna kuning.

Untuk mencapai ke sana Frankie mesti menginjak perakaran dan batang tanaman semak yang merambat sehingga membentuk jalinan satu sama lain. Saking rapatnya jalinan itu  sehingga cukup kokoh untuk dipijak. “Walaupun saat dipijak kaki sedikit melesak sehingga kerap merasa ngeri begitu melangkahkan kaki,” ujarnya. Sayangnya langkah Frankie mesti terhenti saat menjelang puncak. “Tidak ada lagi bagian yang bisa dipijak, padahal gerombolan anggreknya sudah terlihat,” katanya.

Perjalanan selanjutnya menuju kawasan  Danau Poso, Sulawesi Tengah, melalui jalan trans Sulawesi. Kali ini penelusuran tanpa disertai pemandu. Kawasan itu dikenal kaya dengan habitat anggrek. Benar saja. Frankie dengan mudah menjumpai beberapa jenis anggrek. Salah satunya Phaius sp yang tumbuh hanya 30 cm dari tepi jalan beraspal. Ia juga menjumpai  Paphiopedilum celebensis yang tumbuh di permukaan tebing dekat jalan. Sayang, anggrek kantong itu sedang tidak berbunga.

Penjelajahan anggrek di seputar Danau Poso diawali dari area di sekitar salah satu pabrik nikel di kawasan Malili. Di sebelah kanan pintu gerbang pabrik terdapat dinding cadas. Di sana tim menemukan Dendrobium lancifolium, Spathoglottis plicata, dan Spathoglottis vanvuurenii. Saat singgah di salah satu lahan parkir, Frankie dikejutkan dengan kehadiran Notheria diaphana yang berbunga putih menempel di pohon berketinggian 1,5 m. Anggrek itu unik karena merupakan satu-satunya spesies dari genus Notheria.

Perjalanan selanjutnya menyusuri kawasan Pendolo yang berbatasan dengan Sulawesi Tengah. Di sana Frankie menemukan anggrek bulan Phalaenopsis amabilis tumbuh di sisi selatan Danau Poso. Puspa bangsa itu menempel di permukaan batang pohon sejenis ara. “Karena terpapar sinar matahari penuh, daun anggrek itu mengecil,” kata pengurus DPD PAI DKI Jakarta itu.

Perjalanan menyusuri kawasan Danau Poso terhenti setelah terhalang jalan longsor. Rombongan akhirnya kembali ke Makassar. Dari sana tim langsung terbang ke Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Di Kota Bunga itu rencana mereka menelusuri kawasan Gunung Lokon. Sayang, gunung berapi itu tengah erupsi. Penelusuran anggrek akhirnya menunju Minahasa bersama seorang pemandu. Namun, rupanya si pemandu khawatir rencana Frankie itu berujung penjarahan habitat anggrek. Oleh karena itu si pemandu justru membawa tim ke daerah yang tidak ada anggrek.

Mencium gelagat yang kurang baik, Frankie akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan tanpa pemandu. Tujuan eksplorasi adalah   kawasan yang dekat dengan sumber air. “Daerah yang dekat air biasanya memiliki kelembapan yang cukup untuk pertumbuhan anggrek,” ujarnya. Terbukti  saat menyusuri sebuah sungai ia menemukan Vanda arcuata dan Ascocentrum aurantiacum. Saat mencoba mencari lokasi baru, Frankie menemukan sebuah bukit yang kerap dikunjungi turis mancanegara untuk melihat matahari terbit bernama Gunung Mahawu. Di sana ditemukan Dendrobium furcatum di kiri dan kanan jalan.

Perjalanan berakhir setelah gagal menjumpai habitat Phalaenopsis amboinensis di kawasan paling selatan Sulawesi Selatan. Habitat kerabat anggrek bulan itu sudah tidak ada karena terjadi pengambilan dalam jumlah besar sebanyak     2.000 tanaman setiap minggunya. Wilayah selatan Pulau Sulawesi cukup panas sehingga sulit menjumpai anggrek.

Dari perjalanan selama 20 hari itu Frankie dan Rama berhasil mendokumentasikan 170 jenis anggrek. Jumlah itu masih sedikit dibandingkan hasil identifikasi Schlechter dan O’Byrne. “Karena itu penjelajahan anggrek di Pulau Sulawesi itu belum berakhir. Kemungkinan akan ke sana lagi dalam waktu dekat,” ujar Frankie. (Imam Wiguna)

Previous articleKenali Pohon Inang
Next articleKutu Batok
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img