Trubus.id—Ikan lele kaya akan gizi. Masalahnya tidak semua orang suka ikan. Lagi pula tidak ada orang mengudap ikan lele sambil menonton televisi atau mengakses ponsel pintar bukan?. Namun Anda dapat olah lele menjadi tepung untuk bahan pembuat camilan seperti biskuit. Tepung lele juga praktis sebagai bahan pembuatan camilan.
Penyajian sebagai biskuit menjadikan konsumsi lele mudah dan praktis ketimbang dalam bentuk ikan, yang terbatas sebagai lauk. Guru besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. drh. Clara Meliyanti Kusharto, M.Sc mematenkan tepung lele.
Untuk membuat biskuit, Clara menggunakan campuran tepung daging lele, tepung kepala lele, dan terigu. “Tepung daging kaya protein, sedangkan tepung kepala kaya mineral,” ujar alumnus program doktor Human Nutrition dari University of Philippines, Filipina itu.

Tepung kepala berasal dari kepala lele, tulang kepala, dan duri tubuh. Untuk membuat tepung, ia membersihkan lele segar dari jeroannya, mengukus lalu membuat filet. Daging dan bagian kepala beserta tulangnya diproses dengan pengepresan terpisah.
Hasil pengepresan itu lantas dikeringkan menjadi tepung berukuran partikel 60 mesh. Proses sejak lele segar hingga menjadi tepung—detailnya rahasia karena merupakan paten—memerlukan sekitar 6 jam dengan produk sampingan berupa minyak ikan.
Kolesterol, yang ditakuti banyak orang, terbawa dalam minyak ikan itu. Hasilnya tepung bebas kolesterol, hanya mengandung protein atau mineral. Sekilogram tepung memerlukan kirakira 7,5 kg bahan segar.
Selain minim kolesterol, juga bebas rasa amis khas ikan. Dengan demikian, tepung itu bisa mensubstitusi terigu untuk membuat berbagai olahan. Clara membuktikannya dengan memproduksi biskuit menggunakan tepung itu. Dari setiap 10 kg tepung dari 75 kg bahan segar.
Pembuatan tepung memerlukan lele berdaging tebal, Clara memproyeksikan tepung lele sebagai solusi bagi peternak yang ikannya terlalu besar untuk dijual di kelas konsumsi. “Dengan demikian, kebutuhan untuk membuat tepung tidak bersaing dengan kelas konsumsi,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor itu.
Periset di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Prof. Ir. Made Astawan, menyatakan kandungan protein lele 17,7%. Tepung lele bisa menjadi solusi masalah malnutrisi balita yang terjadi di beberapa daerah.
