Produksi telur puyuh sangat ditentukan oleh keseimbangan nutrisi dalam ransum harian, khususnya kadar protein kasar (crude protein). Dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan Indonesia dijelaskan bahwa ransum dengan kandungan protein 20—22% menghasilkan tingkat produksi telur paling stabil dibanding pakan dengan protein kurang dari 18%.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa protein berperan dalam pembentukan kuning telur, massa albumin, serta stimulasi hormon reproduksi. Dengan kata lain, semakin tinggi kualitas protein, semakin cepat pula siklus bertelur terjadi.
Pakan fermentasi menjadi alternatif yang semakin banyak dikaji karena mampu meningkatkan kecernaan serta efisiensi ransum. Dalam Jurnal Ilmu Peternakan Terapan, bahan baku seperti dedak, jagung giling, dan bungkil kedelai yang difermentasi menggunakan bakteri fermentor menunjukkan pola konsumsi pakan yang lebih teratur serta menurunkan konversi pakan.
Proses fermentasi menurunkan serat kasar dan meningkatkan ketersediaan nutrien sehingga saluran pencernaan puyuh mampu menyerap energi dan protein secara lebih optimal tanpa meningkatkan biaya produksi.
Dari perspektif ekonomi, penerapan pakan fermentasi dapat mengurangi ketergantungan pada pakan komersial yang harganya fluktuatif. Berdasarkan Jurnal Agripet, penggunaan pakan fermentasi berbasis dedak dan limbah pertanian menurunkan biaya produksi hingga 30% per siklus produksi tanpa menurunkan performa bertelur.
Efisiensi ini memberi peluang peternak skala kecil untuk tetap mempertahankan profit ketika harga pakan tinggi. Strategi terbaik dalam optimasi nutrisi puyuh adalah mengombinasikan pakan tinggi protein dengan fermentasi terkontrol agar produksi telur meningkat, kualitas telur terjaga, dan biaya tetap minimal. (Naya Maura Denisa)
