Trubus.id—Penggunaan teknologi modern dapat meningkatkan padat tebar udang vannamei. Di tangan tim peneliti ultrafine bubble (UFB) Nano Center Indonesia, pada kolam bundar berdiameter 30 meter dan bervolume 650 m3 bisa memuat 350 vannamei per m3.
Lazimnya pada ukuran kolam yang sama hanya menampung 100—120 udang vannamei per m3. Artinya ada peningkatan populasi udang hingga lebih dari 300%.
“Tambak udang reguler umumnya sudah ada indikasi kehadiran penyakit dan virus sehingga terpaksa dipanen total pada hari ke-50,” ujar Vice Business Director-CoE Applied Nanotech, Nano Center Indonesia, Syahnada Jaya Syaifullah, S.Si,, M.Sc., P.hD.
Dengan kata lain ada tambahan 30 hari untuk mengoptimalkan pertumbuhan udang. Apa rahasia yang dilakukan tim UFB dan Jaya sehingga populasi meningkat dan bobot udang lebih maksimal?
Tim UFB dan Jaya menempatkan 1 pompa aerasi dan dua alat generator penghasil partikel oksigen UFB. Tingginya kadar oksigen dari UFB memberikan keuntungan ekologis bagi budidaya tambak yakni padat tebar yang meningkat. Rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR), serta tingkat kematian lebih rendah.
“Perbedaan sangat mencolok, FCR mencapai 1,2 dan survival rate 99,9%,” kata Jaya.
Menurut Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Material Maju, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng, Ph.D. menjelaskan bahwa teknologi UFB memanfaatkan oksigen dalam ukuran partikel 100 nano.
Artinya dengan partikel oksigen yang sangat kecil, distribusi oksigen lebih efisien dan merata. “Kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen, DO) yang bisa dihasilkan untuk tambak 10—15 ppm,” ujar Nurul.
Menurut Nurul efisiensi dan dan efektivitas penggunaan kincir dan aerator kurang baik. Alasannya secara teknis oksigen terlarut yang dihasilkan tidak optimal.
“Metode kincir berusaha memasukkan oksigen dengan cara air dipukul dan terpercik. Harapannya ada udara masuk dengan oksigen,” kata ketua umum Masyarakat Nano itu.
Hitungan Nurul cara konvensional itu hanya mampu menyumbang oksigen terlarut 20% setara 4—6 ppm. “Sangat kecil sekali,” ujar Nurul.
Sementara aerator menghasilkan gelembung udara dengan ukuran mikro yang mudah naik ke permukaan air dan pecah. Sistem itu hanya mampu melarutkan oksigen maksimal. Kadar oksigen terlarut yang dihasilkan hanya 6—7 ppm.
“Jadi, percuma kita masukkan ke dalam air lalu udaranya ke atas lagi,” kata Nurul.
Ia pun menyoroti bahwa kedua cara itu menggunakan daya listrik yang cukup besar karena menyala secara terus-menerus selama 24 jam. Menurut salah satu peneliti UFB, Raden Ayu Nurul Khotimah S.Pi., dalam kondisi situasional penggunaan UFB mentolerir kejadian yang bersifat darurat.
“Saat eksekusi kemarin di lapangan, ditemukan keadaan mati lampu, hujan deras, dan tanah longsor. Namun tidak ada perubahan perilaku udang,” ungkap perempuan yang akrab disapa Bunga itu.
