Friday, December 2, 2022

Padi Gogo Wangi

Rekomendasi

Agus Budiono kini mengebunkan kembali padi gogo di Desa Tegalpingen, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sejak 2008. Sejak 1980 Agus berhenti bercocok tanam padi gogo dan beralih menanam jagung. “Karena hasil panen padi gogo rendah dan mutu beras jelek,” kata Agus. Selama ini beras padi gogo yang ditanamnya pera sehingga konsumen kurang suka. Produktivitas pun rendah, 2—3 ton per hektar. Padi gogo merupakan padi yang ditanam di lahan kering atau dikenal padi ladang karena ditanam di ladang, bukan di sawah. Kebutuhan air untuk pertumbuhan padi bergantung pada curah hujan.

Agus membudidayakan padi gogo galur baru bernama unsoed G136. Pemulia padi itu, Prof Ir Totok Agung DH MP PhD, dosen di Galur itu merupakan hasil silangan padi mentikwangi dan poso. Mentikwangi, jenis padi dalam, mewariskan sifat wangi dan rasa pulen. Sedangkan poso, jenis padi gogo, menurunkan sifat toleran kekeringan dan produktivitas tinggi.

Galur unsoed G136 diuji di beberapa daerah, seperti Sumbawa, Lombok, Bali, Cilacap, Kulonprogo, Sleman, Banjarnegara, Banyumas, Purbalingga, Banten, dan Jember. Hasil uji multilokasi itu menunjukkan padi gogo unsoed G136 berproduktivitas tinggi. Di Banjarnegara galur baru itu menghasilkan 5,23 ton; Kulonprogo, 5,9 ton; Purbalingga, 6,24 ton gabah kering per hektar.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img