Tuesday, November 29, 2022

Padi Hibrida Produksi Menjulang yang Diharapkan

Rekomendasi

Setelah dikurangi upah menuai padi, ia memperoleh 7,5 ton padi/ha. Jumlah itu lebih tinggi ketimbang produksi padi nonhibrida yang rata-rata 5-6 ton/ha. Dengan harga jual Rp2.000/kg, Haryono memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp2-juta-Rp3-juta/ha.

Bagi Haryono, hasil panen itu penebus kegagalan ketika pertama kali menanam padi hibrida pada 2002. Saat itu di lahan 2,5 ha, ia cuma memanen 7 ton. Volume itu jauh lebih rendah ketimbang padi inbrida-sebutan padi bukan hibrida-yang biasanya 5-6 ton/ha. Musababnya, serangan tikus merajalela.

Padahal, biaya yang telah digelontorkan Haryono amat banyak. Harga benih padi hibrida Rp30.000/kg. Untuk sehektar lahan membutuhkan 15 kg benih sehingga perlu Rp450.000. Bandingkan dengan harga benih inbrida yang rata-rata Rp4.000/kg. Bahkan, biasanya Haryono mendapatkan benih padi biasa dari hasil panen musim tanam sebelumnya. Tak mau kegagalan berulang, Haryono pun berhenti membudidayakan padi hibrida.

Namun, 4 tahun berselang, produsen benih padi hibrida kian ramai. ‘Banyak produsen yang menawarkan benih ke saya,’ ujar Haryono. Oleh sebab itulah Haryono tergelitik untuk kembali mencoba menanam padi hibrida. Pada Oktober 2006, ia menanam dua varietas padi hibrida masing-masing di lahan 2,5 ha dan 1 ha, total 3,5 ha. Ketika panen pada Febuari 2005, ia tak menyangka bakal memperoleh hasil rata-rata 7,5 ton padi per ha. ‘Padahal, musim tanam kemarin sawah saya diserang hama penggerek batang. Kalau tidak, hasilnya mungkin lebih tinggi lagi,’ kata pria 67 tahun itu.

Tren

Haryono boleh jadi satu-satunya petani yang membudidayakan padi hibrida di Desa Parakanmulya, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang. Maklum, para petani di sana masih enggan menanam padi hibrida lantaran harga benih dianggap mahal. Harga benih di pasaran berkisar Rp30.000-Rp50.000 per kg.

Menurut Haryono, harga benih mahal, tetapi pemakaian lebih sedikit. Sehektar lahan hanya perlu 15 kg. Padi inbrida mencapai 25-30 kg/ha. Itu lantaran setiap lubang tanam hanya perlu satu bibit. Padi inbrida 2-3 bibit per lubang tanam. Meski demikian, ‘Benih hibrida dijamin 100% tumbuh,’ kata Sidi Asmono, Indonesia BioScience Manager PT Bayer Indonesia, produsen benih padi hibrida di Jakarta. Sebab, secara genetik benih diciptakan berdaya tumbuh tinggi.

Jumlah pupuk yang diberikan juga sama dengan padi inbrida. Untuk satu musim tanam Haryono menghabiskan 300 kg NPK dan 200 kg Urea per hektar. Ia juga menambahkan pupuk organik berupa kompos hasil fermentasi larutan effective microorganisms berdosis 1 ton per hektar.

Berdasarkan pengalaman Haryono, biaya produksi padi inbrida Rp4-juta/ha, di luar biaya sewa lahan. Bila membudidayakan padi hibrida, biaya produksi bertambah sekitar Rp450.000/ha atau rata-rata 10% dari total biaya produksi padi biasa. Jumlah itu tak seberapa ketimbang pertambahan pendapatan. ‘Pendapatan bertambah hingga Rp2-juta-Rp3-juta per hektar,’ ujar pria yang juga pemilik toko saprotan itu. Artinya petani masih memperoleh selisih pendapatan Rp2-juta per ha.

Untung

Nun di Desa Kebonmoro, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Suharjo turut meraup laba dari padi hibrida. Ia membudidayakan padi hibrida di lahan 1,5 ha. Pria 37 tahun itu juga membudidayakan padi IR-64 di sisa lahan seluas 1,5 ha. ‘Saya ingin membandingkan apakah benar padi hibrida itu hasilnya lebih baik?’ ujarnya. Suharjo sengaja memberi pupuk berdosis sama: 150 kg SP-36, 300 kg Urea, 110 kg KCl, dan 100 kg ZA.

Ketika panen pada Februari 2007 Suharjo memanen hasil 16,5 ton padi hibrida atau rata-rata 11 ton/ha. Bandingkan dengan hasil IR-64 yang rata-rata hanya 8,4 ton/ ha. Artinya, Suharjo meraih tambahan hasil 2,6 ton/ha. Dengan harga jual gabah di tingkat pekebun Rp2.000/kg, Suharjo memperoleh tambahan pendapatan Rp5,2- juta/ ha. Cerita sukses itu juga milik banyak petani seperti Jejen di Karawang, Entis di Subang, Suryanto di Ngawi, dan Sahri di Tulungagung.

Keuntungan yang menggiurkan itulah yang mendorong petani di berbagai daerah turut membudidayakan padi hibrida. Pada 2005, Ivan Hartono, distributor padi hibrida di Bekasi, Jawa Barat, mendistribusikan benih di 3 lokasi di Jawa Barat, 2 lokasi di Nusa Tenggara Barat, serta masing-masing 1 lokasi di Jawa Tengah, Riau, dan Sumatera Barat. Dua tahun berselang, penyebaran benih padi hibrida terus meluas. Kini Ivan memasarkan benih di 27 kabupaten dan di 9 provinsi.

Salah satu provinsi yang gencar mengembangkan padi hibrida adalah Gorontalo. Saat menyaksikan hamparan padi hibrida di pesawahan Pulubala, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, berujar, ‘Bila pertanamannya seperti ini jelas sangat prospektif untuk dikembangkan. Kita akan kembangkan di seluruh Gorontalo.’ Fadel mencanangkan 3.000 ha sawah untuk padi hibrida. Ia juga berencana menganggarkan subsidi benih padi hibrida sekitar Rp1-miliar dari APBD. (Imam Wiguna/Peliput: Vina Fitriani).

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img