
Apel manalagi berbuah di dataran rendah Kabupaten Gianyar, Bali.

Trubus — Warga Desa Sanding, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, tercengang melihat kebun Ketut Suryadi Putra. Di kebun seluas 0,3 hektare itu tumbuh 350 pohon apel manalagi yang berbuah besar. Masyarakat menyebutnya apel malang. Warga menganggap aneh karena daerah itu dataran rendah berketinggian hanya 500 meter di atas permukaan laut (dpl). Varietas apel manalagi lazimnya tumbuh di dataran tinggi 700—1.200 meter dpl dpl.
Selain itu tanah di kebun Ketut juga tanah sawah yang keras, tidak seperti tanah perkebunan. Tanah perkebunan apel lazimnya mengandung bahan organik tinggi dan gembur. Jero mangku Ketut Suryadi—panggilan Ketut Suryadi Putra—menanam ratusan bibit apel manalagi pada September 2017. Ia menanam bibit apel di sawah yang hanya memiliki kedalaman 1,5 m tanah gembur.
Lebih manis

Pohon-pohon apel di kebun Ketut Suryadi mulai berbuah ketika tanaman berumur 1,5 tahun. Ia magori atau panen perdana pada tahun ke—2 setelah tanam. Bandingkan dengan tanaman apel manalagi di di perkebunan di Kota Batu, baru mulai berbuah setelah 2 tahun ditanam. Saat panen perdana pada Januari 2020, rombongan Pemerintah Kabupaten Gianyar, termasuk Bupati Gianyar yaitu Made Mahayastra, mengunjungi kebun Ketut Suryadi.
“Semua yang mencicipi apel saya bilang rasanya lebih renyah dan lebih manis daripada apel manalagi yang biasanya, meskipun saya sendiri belum sempat mencoba rasa apel saya sendiri,” Kata pria berumur 51 tahun itu sambil terkekeh. Menurut penelitian Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika apel manalagi memiliki nilai briks rata-rata 13,2.
Ukuran buah Malus sylvestris varietas manalagi di kebun Ketut Suryadi juga lebih besar ketimbang apel manalagi yang biasa beredar. Ketut Suryadi mengatakan, apel manalagi yang beredar di Bali kebanyakan berukuran 9—10 buah per kg dengan harga Rp16.000. Satu kilogram apel manalagi dari kebun Ketut Suryadi 5—6 buah, sudah termasuk ukuran buah apel manalagi yang besar.

Ketut Suryadi merontokkan buah-buah apel manalagi yang masih berukuran 2—3 cm hingga tersisa setengahnya saja dari satu batang. Biasanya satu batang akan memunculkan 5—6 buah, sehingga Ketut Suryadi akan merontokkan 2—3 buah supaya pembesaran buah menjadi lebih optimal. Ketut Suryadi menyayangkan apel lokal manalagi masih kalah pamor dengan apel impor.
“Perbandingan jumlah apel impor dengan apel lokal di pasaran Bali masih sekitar 3:1, lebih banyak apel impor karena konsumen sudah terbiasa,” kata alumnus Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang itu. Padahal, permintaan apel secara umum sangat tinggi di Bali. Apel menjadi komoditas penting untuk keperluan adat seperti sesajen dan kebutuhan industri hotel, restoran, dan kafe.
Menurut Ketut produktivitas pohon apel di kebunnya masih rendah. Harap mafhum, pohon apel berumur 2 tahun masih belajar berbuah. “Saat ini satu pohon hanya menghasilkan 3—7 kg apel, belum seragam dan belum optimum. Biasanya 1 pohon apel manalagi menghasilkan sekitar 20 kg buah,” ungkap Ketut.
Jerami padi
Ketut Suryadi nekad membudidayakan apel di kebunnya meski banyak orang mencibir. Ia berguru kepada petani apel dari Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Rudy Mardiyanto. Berbeda dengan budidaya apel di Kota Batu, Ketut tidak menggunakan larutan-larutan kimiawi untuk memacu pertumbuhan apel. Ketut Suryadi membudidayakan apel manalagi secara organik dan memanfaatkan limbah-limbah organik.

Contohnya, ia menggunakan jerami di tanah sekitaran pohon apel sebagai penjaga kelembapan supaya tidak tergenang air. “Pohon apel itu tidak boleh kekurangan air dan juga tidak boleh kelebihan air,” kata pria kelahiran Singaraja itu. Menurut penelitian Prof. Ir. Sumeru Ashari, M.Agr.SC., Ph.D. dari Universitas Brawijaya, kelembapan relatif yang optimal untuk apel 75%—85%.
Ketut Suryadi juga memanfaatkan limbah peternakan yang difermentasikan dengan enzim, sisa-sisa panen buah nanas, pelepah pisang, dan kelapa. Ketut Suryadi tidak berniat memproduksi apel manalagi untuk dijual buahnya. Pria yang kini tinggal di Denpasar, Bali, itu justru lebih tertarik dengan konsep agrowisata. Oleh karena itu, Ketut Suryadi juga memiliki kebun pir singku, pepaya, hidroponik sayuran, ladang padi, dan kentang. Kelak bukan hanya Batu atau Malang yang menjadi kota apel, tetapi juga Gianyar. (Tamara Yunike)
