
Pupuk organik hayati meningkatkan panen cengkih.
Ketut Jadiasa bahagia bukan kepalang pada Agustus 2016. Pekebun di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, itu memanen 39 kuintal bunga cengkih segar dari 250 tanaman berumur 25 tahun. Pekebun menikmati panen raya dua tahun sekali. Jika panen raya berlangsung pada Juli—September 2016, maka pada 2017 pekebun panen biasa.
Ketut memprediksi mendapatkan 16,5 kuintal bunga cengkih segar pada Agustus 2017. “Hasil panen biasa lebih sedikit daripada panen raya,” kata Ketut. Sejatinya hasil panen raya dan panen biasa dari kebun Ketut lebih tinggi ketimbang pekebun lain dengan lahan, jumlah, dan umur tanaman sama. Pada panen raya pekebun lain paling banter menuai 24 kuintal bunga cengkih segar, panen biasa 4,5 kuintal bunga cengkih segar.
Organik
Dengan kata lain produktivitas kebun cengkih Ketut 63% lebih tinggi dibandingkan dengan pekebun lain saat panen raya dan melonjak 267% saat panen biasa. Pekebun menjual bunga kering ke pengepul. Menurut Ketut perbandingan bunga segar dan kering 3:1. Artinya ia mendapat 13 kuintal bunga cengkih kering pada 2016. Saat itu pengepul menghargai Rp105.000 per kg sehingga omzet Ketut Rp136,5-juta.

Sementara pekebun lain menangguk omzet Rp84-juta dari hasil perniagaan 8 kuintal bunga cengkih kering. “Saya sangat senang dengan hasil panen itu,” kata pria berumur 42 tahun itu. Apa rahasia cengkih Ketut berproduksi lebih tinggi daripada pohon di kebun lain? Sejak 2007 Ketut menggunakan pupuk organik hayati atas anjuran teman. Sebelum menggunakan pupuk organik hayati produktivitas cengkih di kebun Ketut sama dengan pekebun lain. Ia hanya menuai 24 kuintal cengkih segar pada panen raya, dan 4,5 kuintal cengkih segar ketika panen biasa. Boleh dibilang budidaya cengkih ala Ketut organik dan ramah lingkungan.
Sebab ia memanfaatkan limbah pertanian seperti sekam padi, jerami, serbuk kayu gergajian, dan kotoran ayam sebagai sumber organik. Ketut memperoleh bahan organik itu di sekitar kebun. Pekebun itu memfermentasi limbah organik itu dengan pupuk berisi mikrob pefermentasi seperti Lactobacillus sp., Saccharomyces sp., dan bakteri pelarut fosfat selama satu pekan.
Ia membikin sendiri pupuk organik hayati itu 3 kali setahun sejak 2007. Penggunaan pupuk dua kali setahun yakni pada Maret dan September. Pekerja menaburkan pupuk di bawah tajuk dan berjarak 50 cm dari batang utama. Setiap tanaman berumur 25 tahun mendapat 40 kg pupuk. Hasil pemupukan menunjukkan pertumbuhan tanaman anggota famili Myrtaceae itu bagus. “Daun dan batang terlihat segar,” kata Ketut.

Menurut peneliti cengkih di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor, Jawa Barat, Dr Ireng Darwati, pupuk organik memperbaiki kualitas tanah yang turun akibat penggunaan pupuk kimia. “Pupuk organik memperbaiki porositas dan mengembalikan mikrob tanah,” kata Ireng. Salah satu dampaknya produktivitas tanaman kerabat jambu biji Psidium guajava itu meningkat seperti pengalaman Ketut.
Lebih lanjut Ireng menyarankan agar pekebun cengkih memadukan pupuk anorganik dan organik. Pupuk anorganik memasok unsur hara, sedangkan pupuk organik memperbaiki kualitas tanah. Harap mafhum pohon kerabat salam Syzygium polyanthum itu memerlukan banyak energi untuk berbunga. Itulah alasan ada panen raya dan panen biasa pada budidaya cengkih.
Sesuai riset
Setelah panen raya cengkih memerlukan energi besar yang berasal dari pupuk untuk bertunas kembali. Pupuk organik bagus untuk cengkih terbukti pada penelitian Tatang Sutarjo dari Balittro. Penelitian Tatang menunjukkan kombinasi dosis pupuk organik dan lapisan tanah bagian atas (top soil) dengan perbandingan 1:3 serta 2,5 g NPK per tanaman lebih baik daripada kombinasi lain terhadap bibit cengkih berumur 6 bulan.

Hasil riset yang termaktub dalam Buletin Teknik Pertanian itu menunjukkan tinggi, diameter batang, jumlah daun, dan luas daun, tanaman masing-masing 9,47 cm; 1,11 cm; 11,83 cm; dan 9,28 cm. Tatang menyatakan pupuk organik pada penelitian itu meningkatkan kualitas dan produksi tanaman karena memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk itu juga berperan meningkatkan kesuburan tanah.
Cengkih memerlukan pupuk anorganik yang cukup untuk pertumbuhan. Pemanfaatan bahan organik atau kompos salah satu upaya meningkatkan kualitas dan produksi tanaman kerabat jamblang Syzygium cumini itu. Tujuan lainnya menghemat penggunaan pupuk anorganik yang harganya cenderung mahal dan tidak ramah lingkungan. Anggota staf bagian pemasaran perusahaan pupuk organik hayati di Bali, Irham Rosidi, sependapat dengan Ireng.
Irham menuturkan penggunaan pupuk kimia di kebun cengkih menurunkan bahan organik tanah sehingga harus ditambah. Menurut Irham pupuk yang digunakan Ketut mengandung unsur hara makro dan mikro lengkap. Irham mengatakan pupuk itu juga mengandung cendawan Trichoderma sp. yang berperan mengatasi cendawan akar putih Rigidoporus sp. penyebab penyakit layu.

Penyakit layu momok pekebun cengkih. Gejala serangan berupa daun menguning. Jika dibiarkan tanaman kerabat kayu putih Melaleuca leucadendra itu mati. Selain pekebun bisa bikin sendiri, Irham juga menyediakan pupuk organik hayati siap pakai. Keunggulannya lebih praktis dan kandungan hara lebih lengkap.
Harga cengkih dan produktivitas tanaman yang bagus mendorong Ketut memperluas kebun. Pada 2012 ia menamam sekitar 50 cengkih di lahan 8.000 m² yang semula sawah. Tidak hanya Ketut yang merasakan manfaat pupuk organik hayati. Wajah Ketut Rida pun berseri karena cengkih miliknya tumbuh subur. Sebelumnya sosok tanaman milik Rida kurus dan daun cepat menguning. Setelah penggunaan pupuk organik hayati, tanaman berranting lebih banyak dan berdaun lebih lebat. (Riefza Vebriansyah)
