Thursday, June 13, 2024

Panen Daun Juga Getah

Rekomendasi
- Advertisement -

Menanam ashitaba secara organik menuai daun dan getah sekaligus.

Budidaya ashitaba gampang-gampang susah.
Budidaya ashitaba gampang-gampang susah.

Lahan Iwan Setyabudi tak seberapa luas, hanya 2.000 m². Petani di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, itu meraup omzet Rp7,2-juta per bulan. Itu hasil penjualan 700 kg daun dan 1 liter getah ashitaba per pekan. Harga jual daun Rp2.500 per kg dan getah 300 ribu per liter. Di lahan berketinggian 700 meter di atas permukaan laut itu ia menanam 2.200 ashitaba pada 2014. Kini umur tanaman hampir 3 tahun.

Ia memanen tiap pekan dengan cara memotong bagian atas tanaman. Bobot 1 kg terdiri atas 10—20 daun. Ia akan memanen lagi tanaman yang sama 14 hari kemudian. Pertumbuhan daun memang relatif cepat sehingga tanaman itu berjuluk tomorrow leaf. Sementara itu untuk memperoleh getah, ia menoreh bagian bekas potongan saat panen daun. Dari komoditas itulah Iwan meraup laba. Ia menjual tanaman obat dariJepang itu ke Jepang dan Australia.

Perkecambahan rendah
Permintaan yang cenderung naik menyebabkan Iwan terus memperluas lahan. Kini petani kelahiran 17 April 1974 itu mengelola puluhan hektare yang tersebar di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Ayah 5 anak itu membudidayakan ashitaba secara organik. “Budidaya saya murni organik. Karena para pembeli dari Jepang dan Australia tidak mau ashitaba yang dibudidayakan nonorganik,” ujarnya (lihat ilustrasi: Cara Tanam Ashitaba)

Iwan Setyabudi menanam ashitaba organik.
Iwan Setyabudi menanam ashitaba organik.

Menurut Prof Dr Ir Iswandi Anas, MSc dari Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) penggunaan pupuk kimia pada tanaman herbal masih aman asal tidak berlebihan. “Tanaman menyerap nitrogen dari pupuk dalam bentuk NH4 atau amonium dan NO3 atau nitrat. Baik pupuk organik maupun kimia khususnya Urea sama-sama memberikan unsur N pada tanaman dan tanaman menyerapnya untuk pertumbuhan,” ujarnya.

Kekurangannya, tanaman herbal yang menggunakan pupuk kimia bukan tanaman organik, sehingga kalah dalam pemasaran dibanding dengan tanaman herbal yang menggunakan pupuk organik. Selain organik, untuk menghasilkan senyawa yang berkhasiat para petani wajib membudidayakan ashitaba secara intensif seperti yang Iwan Setyabudi lakukan. Harap mafhum, pada tanaman dengan perawatan intensif pertumbuhan dan perkembangan tanaman lebih optimal.

“Secara logika, fisiologis maksimal sehingga akar tanaman berkembang baik dan ujung-ujungnya tanaman bisa menghasilkan senyawa-senyawa berkhasiat yang juga maksimal,” ujar Prof Iswandi. Bagi Iwan membudidayakan Angelica keiskei sejatinya gampang-gampang susah. Harap mafhum, tingkat keberhasilan sejak semai benih tidak banyak. “Dari 100 g benih, paling hanya 20 g yang bisa tumbuh. Dan dari 20 g benih itu, yang tumbuhnya optimal hanya 60% saja,” ujarnya.

Ilustrasi: Bahrudin
Ilustrasi: Bahrudin

Oleh karena itu untuk membudidayakan tanaman ashitaba seluas 1 hektare, para pekebun butuh 10 kg benih. Ciri-ciri hasil budidaya bagus, tunas terus bermunculan sepekan sekali. Selain itu tanaman berbunga pada umur 3 tahun. “Kalau baru satu tahun sudah berbunga, berarti kurang bagus budidayanya, karena setelah itu tanaman tidak bisa dipanen daunnya lagi,” ujar lelaki kelahiran Malang, Jawa Timur itu.

Jika tanaman Angelica keizkei itu telanjur berbunga, petani bisa memanen akarnya saja. Harga akar Rp5.000 per kg. Untuk pengangkutan daun hasil panen tidak boleh ditumpuk-tumpuk karena daun ashitaba mudah rusak. “Pengangkutan dari lahan biasanya pakai motor, dan jarak tempuh maksimal satu jam,” ujar lelaki 43 tahun itu.

Ilustrasi: Bahrudin
Ilustrasi: Bahrudin

Menurut peneliti ashitaba dari Balai Penelitian Obat dan Aromatika (Balittro), Cimanggu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Ir Baggem Sofiana Sembiring ashitaba dapat diolah menjadi beragam produk herbal. “Semua bagian tanaman aman konsumsi dan bisa dibuat kapsul, teh, ataupun direbus. Asalkan bersih dan bebas bakteri saja” ujarnya. Olahan ashitaba untuk konsumen sangat beragam, tinggal dipilh saja sesuai kebutuhan. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024, Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi  Gelar Tanam Pohon Serentak di 18 Provinsi

Trubus.id—Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi (KFLHK) yakni Perhimpunan Filantropi Indonesia, Dompet Dhuafa, Belantara Foundation, Dompet Dhuafa Volunteer (DDV),...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img