1. Kenapa panen pertama hasilnya sedikit?
2. Kenapa kegagalan dalam proses inokulasi mencapai 18 % dan terkontaminasi jamur lain yang
berwarna hijau kehitam-hitaman? Selain itu, sering didapati ulat-ulat kecil di batang jamur dan
serangga kecil beterbangan.
3. Bagaimana memanfaatkan bekas baglog yang tidak ditumbuhi jamur lagi?
4. Apabila hasil produksi tidak diserap pasar apakah dapat dibuat produk lain?
5. Mengapa harga di kebun masih terlalu murah bila dibanding dengan di pasar swalayan?
Tiswara
Jl. Bukit Duri Utara I No. 5C Manggarai, Jakarta Selatan
NS. Adiyuwono
1. Produksi dari baglog berbobot 1 kg, sebanyak 800 g, memang wajar. Hasil panen biasanya
mengikuti kurva, meningkat lalu turun. Pada panen pertama kondisi baglog harus optimal
sehingga jamur tumbuh maksimal. Di dalam rumah jamur sederhana, keadaan optimal sulit
dicapai. Akibatnya, hasil rendah dan pada panen berikutnya akan lebih rendah lagi. Baglog
disarankan berbobot minimal 1 kg. Interval panen ke-1 dan ke-2 yang tepat adalah 8—9 hari,
umumnya 12 hari. Di petani interval panen bisa mencapai 22 hari bahkan 24 hari. Untuk
meningkatkan interval panen, yang berperan adalah kualitas bibit, perlakuan pemeliharaan
(menciptakan kondisi optimal), dan penetrasi (merangsang baglog cepat tumbuh).
2. Standar kegagalan baglog terkontaminasi untuk baglog berbobot 1 kg maksimal 10%. Pada
kondisi itu baglog tampak berwarna putih (fully collonised). Melihat hasil dan warna jamur yang
mengkontaminasi, penyebab kegagalan diduga proses inokulasi. Untuk menekan tingkat
kontaminasi perlu ditingkatkan ketelitian kerja dan kebersihan. Jangan gunakan bibit yang
dicurigai terkontaminasi, tidak sehat, dan berumur tua (lebih dari 8 minggu). Ulat dan serangga
yang muncul dikarenakan rumah tiram kurang bersih. Sesekali rumah tiram dibersihkan dan
diistirahatkan selama 1 minggu untuk memutuskan siklus hama. Ulat dan lalat jamur yang
muncul karena Anda mencampur baglog baru dengan baglog lama dalam 1 rumah tiram.
3. Media dari baglog sisa sebaiknya dikeluarkan, lalu dikeringkan. Kurang lebih 1—1 1/2 bulan,
media sisa jamur cukup matang dan bisa digunakan sebagai pupuk.
4. Jamur dapat diolah menjadi berbagai penganan. Misalnya, untuk lumpia, campuran mie
goreng, mie ayam, dan capcay. Dalam bentuk kering dapat dibuat keripik jamur tiram dan
dikemas dalam kantong plastik. Selain itu, tiram diolah menjadi tepung jamur tiram yang
digunakan sebagai makanan siap saji, penambah cita rasa makanan (bumbu), saus bistik, dan
selai roti.
5. Harga di kebun jelas lebih murah daripada harga di pasar swalayan. Sebab, petani biasaanya
menjual dengan beragam kualitas. Biaya operasional pasar swalayan juga tinggi. Berdasarkan
hitung-hitungan harga yang diterima petani sekarang ini masih bagus. Jika ingin mendapatkan
harga lebih baik lagi tingkatkan kualitas dan dijual eceran. Di Bali harga eceran bisa mencapai
Rp15.000—Rp30.000 per kg.***
