Pinang menjadi andalan petani, pengepul, dan eksportir untuk mendulang laba.

Bagi Mardi Darmorejo pinang bagaikan anjungan tunai mandiri. Pekebun di Tanjungjabung Barat, Jambi itu mendapatkan 1 kg pinang kering dari sebatang pohon setiap bulan. Ia mempunyai 3.000 batang atau total produksi 3 ton per bulan. Pengepul keliling memborong pinang kering Rp14.000—Rp17.000 per kg. Omzet Mardi Rp42-juta per bulan. Ia membayar tenaga harian untuk membersihkan kebun dengan upah Rp100.000 per hari selama 25 hari.
Saat panen, Mardi menyewa tenaga harian Rp10.000 per karung hasil panen. Produksi harian rata-rata 70 karung per ha—berarti upah total tenaga harian Rp700.000—sehingga ia mengantungi laba lebih dari Rp30-juta setiap bulan. Jumlah itu melebihi hasil tanaman kopi di kebun 4 ha miliknya. Selain produktivitas, populasi pinang pun unggul. “Tajuk pinang lebih kecil daripada kelapa maupun karet,” kata Mardi. Pohon stabil berproduksi di umur 7 tahun.
Harga dinamis
Mardi menanam pinang sebagai tanaman sela di antara kopi. Di antara pohon kopi yang berjarak tanam 3 m x 3 m, ia menanam 1.000 pohon pinang berjarak 3 m x 3 m. Jarak antara pinang dan kopi 1,5 m. Pria berusia 55 tahun itu menanam betara, varietas pinang unggul dari Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Provinsi Jambi. Begitu panen, pengepul keliling untuk mengumpulkan pinang kering.
Pengepul keliling di desa-desa sentra pinang pun menangguk pendapatan menggiurkan. Buhori—nama disamarkan atas permintaan narasumber—semula hanya berprofesi sebagai asisten tukang bangunan. Ia mempelajari bisnis buah yang panen pada tahun ke-5 lalu terjun menjadi pengepul keliling. Tidak sampai 3 tahun, ekonomi Buhori membaik sehingga ia mampu merenovasi rumah dan membeli kendaraan baru.

Padahal, pengepul menghadapi risiko kerugian. Salah memperkirakan kadar air saja bisa menjadi blunder. Kadar air pinang segar pascapetik 30—40%. Pascapenjemuran, kadar air menjadi paling rendah 25%. Petani di Sumatera lazimnya menjemur 1—3 hari, tergantung cuaca, sebelum menjual kepada pengepul. Sementara, pasar ekspor menghendaki maksimal 5%. Untuk mencapainya, pengepul menjemur lagi 5—7 hari sampai kadar air berkurang 10—15%. Penyusutan kadar air keruan saja menyebabkan bobot berkurang.
Setelah penjemuran sampai kadar airnya tinggal 20%, bobot sekuintal pinang segar tinggal 80 kg. Itu yang Buhori pelajari sebelum banting setir menerjuni bisnis pinang. Menurut manajer ekspor PT Grencofe Premium Indonesia (GPI), Eko Budi, eksportir berbagai hasil perkebunan di Kuningan, Jakarta Selatan, pinang merupakan komoditas yang dinamis. “Harga pinang bisa berubah Rp3.000 per kg dalam seminggu,” ujar Eko.
Hal itu terkait beberapa faktor seperti cuaca, jumlah petani yang panen, maupun simpanan dalam gudang para eksportir. Meskipun dalam sebulan hanya sedikit panen, bisa saja harga ajek lantaran stok eksportir masih cukup sehingga mereka menunda pembelian. Sebaliknya, ketika panen melimpah, harga bisa ajek tinggi karena eksportir berebut membeli. Kerap terjadi pengepul tanpa ragu membatalkan perjanjian dengan seorang pembeli ketika memperoleh pembeli lain yang bersedia membayar lebih mahal.
Mengebom harga

Pembeli pertama terpaksa mencari pemasok lain yang mau menjual pinang dengan kualitas sesuai keinginannya. Eko menjelaskan, kualitas pinang tanahair terbagi 4 kelompok. Yang terbaik berkadar 80—85%, biasanya berasal dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Di bawahnya, kadar 70—75%, berasal dari Provinsi Jambi. Adapun pinang berkadar 60—65% berasal dari Provinsi Sumatera Barat dan Riau, termasuk Kepulauan Riau. Kadar menggambarkan jumlah pinang berkualitas tinggi dibandingkan yang rendah. Semakin tinggi kadar, semakin banyak yang berkualitas.
Kualitas terendah—50%—berasal dari 3 provinsi, yaitu Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung. Persentase menyatakan kadar pinang berkualitas tinggi dibandingkan dengan rendah. Semakin tinggi persentase, semakin baik kualitas. Pinang dengan kadar kurang dari 50%, disebut kualitas asalan atau lali, laku dijual saat pasokan dari kebun minim padahal pembeli mancanegara menghendaki kiriman segera.
Ada 2 jenis pinang di tanahair. Jenis pertama berasal dari Sumatera. Cirinya biji terbelah. Lainnya dari Kalimantan, berbiji bulat utuh. Dengan pinang asalan itu, GPI memulai ekspor sebanyak 2 kontainer berkapasitas total 34 ton ke India 2 tahun silam. Pengiriman pertama itu membangun kepercayaan pembeli. Kini mereka memiliki 17 pelanggan, setiap pelanggan mendapat kiriman rata-rata 40 kontainer berkapasitas 27 ton—setara 1.080 ton—pinang kering setiap bulan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, GPI memiliki 2 gudang di Jakarta dan Lampung.

Kapasitas gudang Lampung 1.000 ton; Jakarta, 500 ton. Ia memborong biji dari pengepul ketika harga rendah, yaitu di kisaran Rp10.000—Rp12.000 per kg. Kepemilikan gudang vital agar eksportir dapat menangguk laba. Maklum, ketika pasar meminta pasokan, eksportir berebut membeli dari pengepul, memicu terjadinya perang harga. Eko menyebutnya mengebom.
“Untuk memperoleh pinang, eksportir berani membeli dengan harga lebih mahal ketimbang harga pasar saat itu,” kata alumnus program Pemasaran di University of South Australia itu. Misal harga jual di pengepul Rp10.000 per kg, eksportir berani membeli dengan harga Rp11.000 per kg hingga pasokan pengepul menipis dan harga beringsut naik. Hal itu terjadi berulang lantaran eksportir lain melakukan hal serupa sampai harga naik ke tingkat yang tidak wajar, yaitu lebih dari Rp17.000 per kg.
Eksportir yang pertama kali mengebom sudah memiliki cukup stok dan menghentikan pembelian. Eksportir berikutnya yang ingin memperoleh pasokan harus membayar dengan harga lebih tinggi, lalu mereka pun berhenti membeli. Begitu para eksportir berhenti membeli, harga pun anjlok lantaran pasokan dari kebun dan pengepul keliling tetap mengalir. Eksportir yang terakhir membeli harus menebus dengan harga tinggi, misalnya Rp19.000, padahal bisa jadi 1—2 minggu setelahnya harga anjlok kembali ke Rp10.000.

Keruan saja sang eksportir itu harus menahan penjualan stoknya sampai harga kembali naik. Saat itu, eksportir pertama yang mengebom harga baru selesai mengekspor, gudangnya kembali kosong, lalu mengulang siklus perang harga. Itu sebabnya, “Bisnis pinang bisa membuat orang mendadak kaya atau jatuh miskin,” ungkap Eko.
Menurut Eko kuncinya kelihaian membaca tren pasokan setiap provinsi dan membandingkan dengan permintaan negara tujuan, yaitu India. Maklum, “Setiap tahun India kekurangan 400.000 ton pinang,” ujar Eko Budi. Kebutuhan pinang India 1,2-juta ton per tahun, sedangkan pasokan dalam negeri mereka hanya di kisaran 600.000—800.000 ton. Mereka lantas mendatangkan biji pohon Arecaceae itu dari Pakistan, Bangladesh, Thailand, dan Indonesia.
Namun, Eko memperkirakan bahwa kelak India bakal berhenti mengimpor pinang. “Hanya kelompok usia 40 tahun ke atas yang mengonsumsi, sementara generasi muda India tidak ada lagi yang menginang,” ujar Eko. Kelak setelah generasi tua tutup usia, kebutuhan pinang mereka pun usai. Alternatif datang dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang mulai mengembangkan pinang instan dengan berbagai varian rasa.
Namun, Negeri Panda itu menggunakan pinang muda. “Pengolahannya pun cukup rumit karena bentuk akhirnya terstandar,” ungkap Eko. Meskipun saat ini menguntungkan, penelitian potensi pinang harus terus dilakukan sehingga komoditas bersejarah itu tidak punah tergerus zaman. (Argohartono Arie Raharjo)
