Trubus.id—Briket arang kelapa asal Indonesia diminati pasar mancanegara. Harap mafhum briket arang kelapa dari Indonesia menyisakan abu berwarna putih sedangkan negara lain tidak. Alasannya tempurung dari negara produsen kelapa seperti India, Thailand, dan Filipina berwarna cokelat saat dibakar.
Sementara tempurung dari negara-negara di Afrika seperti Pantai Gading berwarna hitam atau gelap saat dibakar. Direktur Utama PT Tom Cococha Indonesia, Asep Jembar Mulyana menuturkan “Hanya Indonesia yang bisa produksi briket arang kelapa untuk shisha. Negara lain tidak bisa,” katanya.
Pasar mancanegara menghendaki briket yang menghasilkan abu berwarna putih. “Dari dahulu briket arang shisha itu berwarna putih. Jadi, sekarang yang dikehendaki ya yang berwarna putih,” kata Asep.
Asep memprodusi 1.000 ton briket untuk shisha setiap bulan. Kapasitas produksi itu hanya mencukupi 40% dari permintaan yang datang. Briket itu memasok pasar ekspor ke berbagai negara di Eropa dan Timur Tengah.
Ia menjelaskan dari 1 kg arang kelapa, Asep menghasilkan 800 g briket. Artinya rendemen briket Asep 80%. “Hasil akhir briket arang kelapa kami berkadar abu maksimal 2% dengan kalori yang dihasilkan minimal 7.500 kilokalori,” tutur Asep.
Lebih lanjut ia menuturkan, briket untuk shisha merupakan komoditas yang tahan krisis ekonomi global. Saat Covid-19 mewabah di seluruh dunia, permintaan briket Asep malah meningkat hingga 30%.
Ahmad Rozikin pun mengandalkan briket sebagai salah satu sumber pendapatan. “Potensi briket masih sangat besar. Indonesia paling baru mencukupi sekitar 20% kebutuhan briket dunia,” kata presiden direktur PT Berkah Fukuokindo Indonesia itu.
Sejatinya selain briket terpadat produk turunan kelapa lain yang berpotensi, selengkapnya pada Majalah Trubus Edisi 650 Januari 2024. Majalah Trubus mengupas tuntas prospek agribisnis 2024. Dapatkan Majalah Trubus Edisi 650 Januari 2024 di Trubus Online Shop atau hubungi WhatsApp admin pemasaran Majalah Trubus.
