Sunday, January 25, 2026

Pasar Madya : Bisnis Jeruk Harga Medium

Rekomendasi
- Advertisement -

Pasar madya atau kelas menengah membutuhkan jenis jeruk antara lain rimau gerga lebong dan keprok batu 55. Cita rasa buah dominan manis, toleransi masam 20%.

Jeruk rimau gerga lebong diminati karena bercita rasa dominan manis dan sedikit masam. (Dok. Sidarhan)

Trubus — Sidarhan menjual 21 ton jeruk rimau gerga lebong ke penampung di Bengkulu pada Desember 2018. Harga jeruk Rp6.000—Rp15.000 berdasarkan bobot. Harga jeruk kelas A berbobot sekitar 300 g atau 1 kilogram berisi 3 buah mencapai Rp15.000. Kelompok B berisi jeruk berbobot 200 g seharga Rp10.000. Sementara dalam 1 kilogram terdapat 6 jeruk dijual Rp6.000 per kg yang termasuk kelompok C.

Saat itu omzet Sidarhan minimal Rp210 juta. Biaya produksi separuh omzet sehingga ia mengantongi laba Rp105 juta. Penjualan jeruk gerga lebong ke Jakarta dan Bandung itu kali pertama bagi Sidarhan. “Sebelumnya saya hanya menjual hasil panen di kebun,“ kata pekebun di Dusun Gunung Agung Pauh, Kelurahan Agunglawangan, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, itu.

Menguntungkan

Salah satu kelebihan rimau gerga lebong berbuah hampir sepanjang tahun. (Dok. Sidarhan)

Semula Sidarhan menjadikan kebun jeruk miliknya sebagai tujuan agrowisata sejak panen perdana pada 2016. Kebun jeruk rimau gerga lebong itu satu-satunya di Kota Pagaralam. Bisa dibilang Sidarhan pelopor pekebun jeruk di kota yang berjarak 300 kilometer dari Palembang itu. Oleh sebab itulah, banyak pengunjung dari Palembang, Kabupaten Muaraenim, keduanya di Sumatera Selatan serta Bengkulu berdatangan menikmati sensasi memanen jeruk langsung di kebun. Jadi, pengunjung kebunlah konsumen utama jeruk produksi Sidarhan.

Sebetulnya menjual jeruk langsung di kebun lebih menguntungkan. Alasannya Sidarhan tidak perlu mengeluarkan biaya panen dan harga jeruk lebih tinggi. Harga jeruk kelas A Rp30.000, jeruk kelas B Rp25.000, dan jeruk kelas C Rp20.000 per kg. Kebun Sidarhan memproduksi 30 ton jeruk per tahun setara 2,5 ton per bulan. Dari jumlah itu sekitar 50% termasuk kelompok A.

Semua produksi terserap pengunjung kebun. Artinya Sidarhan meraup omzet minimal Rp75 juta atau laba bersih Rp37 juta per bulan setelah dikurangi ongkos produksi. Kini kebun jeruk itu menjadi sumber pendapatan Sidarhan. Ia tertarik mengembangkan jeruk karena lebih menguntungkan daripada budidaya sayuran. Harga jeruk juga relatif stabil dan penanaman hanya sekali. Berbeda dengan sayuran yang mesti menanam baru ketika selesai panen.

Sidarhan kepincut rimau gerga lebong lantaran jeruk itu bercita rasa dominan manis (80%) dan sedikit masam (20%). Itu kesan pertama Sidarhan mencicipi jeruk itu pada 2013. Saat itu seorang kawan memberikan oleh-oleh berupa 3 kg rimau gerga lebong. Setelah mengetahui lokasi kebun sayurnya cocok untuk pertumbuhan rimau gerga lebong, Sidarhan pun segera memesan 600 bibit kepada kawan itu.

Sidarhan mengembangkan rimau gerga lebong sejak 2013 karena kepincut rasa buah yang manis dan sedikit masam. (Dok. Sidarhan)

Kebetulan ia baru selesai memanen cabai di kebun itu sehingga lahan bisa disiapkan untuk penanaman selanjutnya. “Saat itu spekulasi saja. Setelah itu saya mempelajari budidaya jeruk ke sentra jeruk itu di Kabupaten Lebong, Bengkulu dan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjesro),” kata pria berumur 45 tahun itu. Kelebihan lain rimau gerga lebong yakni rajin berbuah sepanjang tahun.

Kesuksesan Sidarhan mengembangkan jeruk mendorong petani lain membudidayakan tanaman anggota famili Rutaceae itu. Kini terdapat sekitar 150 hektare lahan jeruk dari semula 1,5 hektare di Kelurahan Agunglawangan. Peneliti jeruk di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Sutopo, M.Si, mengatakan wilayah tempat kebun Sidarhan menjadi sentra baru rimau gerga lebong.

Permintaan tinggi

Sejatinya Pagaralam merupakan sentra lama yang bangkit kembali. Pada 1970-an kawasan itu juga sentra jeruk siam, bukan rimau gerga lebong. Serangan citrus vein phloem degeneration (CPVD) menghancurkan sentra jeruk itu. Kini kawasan itu mulai kembali dihuni tanaman kerabat kemuning itu dan menjadi sentra baru rimau gerga lebong. “Pekebun di sana ingin kembali bertanam jeruk karena lebih menguntungkan daripada pendapatan usaha tani lain seperti sayuran,” kata Sutopo.

Saat ini waktu tepat mengembangkan jeruk. Vendi Tri Suseno dari PT Laris Manis Utama, perusahaan pemasaran buah-buahan berkualitas, menuturkan permintaan jeruk sangat tinggi karena termasuk buah dasar seperti apel, pir, dan anggur. PT Laris Manis Utama mendatangkan 20 kontainer per bulan untuk pasar Jakarta saja pada 2017. Jika permintaan toko cabang dimasukkan maka menjadi 40 kontainer saban bulan.

Sebelumnya perusahaan asal Jakarta itu mendatangkan 80 kontainer per bulan. Adanya pembatasan impor mengurangi pasokan itu. “Sejatinya jumlah itu masih kurang. Alasannya penduduk dan pasar bertambah terus,” kata Vendi. Kapasitas produksi kebun milik Sidarhan pun tidak sebanding dengan permintaan. Pasokan 8—10 ton jeruk per pekan untuk pasar di Bandung dan Jakarta belum terpenuhi. Oleh karena itulah, ia meluaskan kebun menjadi 15 hektare pada 2019.

Pemasok buah di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, mengatakan jeruk masih menjadi buah paling diminati di Indonesia. Konsumen dalam negeri menghendaki cita rasa jeruk dominan manis. Boleh bercita rasa masam, tapi rasa manis mesti mendominasi. Rimau gerga lebong memenuhi semua syarat itu. Vendi meyakini jeruk lokal pun bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena varietasnya beragam dan bagus.

Eko Santoso mengandalkan jeruk keprok batu 55 dan jenis lainnya sebagai sumber penghasilan utama. (Dok. Bondan Setyawan)

Sayangnya jeruk lokal itu tidak beredar di pasar. Dugaannya itu terjadi karena permainan bibit. Jeruk hasil panen tidak sesuai label bibit. Misal pekebun membeli bibit jeruk keprok batu 55, ketika berbuah ternyata jeruk lain. Kunci sukses lainnya pascapanen mesti bagus jika jeruk lokal ingin bersaing. Pengemasan dan pemasaran juga penting. Vendi menyarankan pertimbangkan musim untuk memasarkan jeruk baru.

Pada Agustus—September waktu tepat mengenalkan produk baru karena pasokan jeruk relatif sedikit. Hindari mempromosikan jeruk ketika Imlek karena pasti kalah dengan jeruk asal Tiongkok. Idul Fitri pun bukan waktu yang pas karena jeruk siam jawa memenuhi lapak buah. Lebih lanjut Vendi menuturkan sebetulnya jeruk lokal bisa bersaing dengan impor jika ada perbaikan pada pascapanen. Mestinya distribusi pun harus merata. Tidak menumpuk di Jakarta. Sejatinya belum tentu harga jatuh ketika panen raya.

Keprok

Jika jeruk masuk ke pasar tidak berbarengan, harga bisa stabil. “Harga jeruk hancur jika masuk pasar bersamaan,” kata Vendi. Terkait warna, jeruk hijau tidak masalah. Sejatinya warna jingga pada jeruk bukan patokan. Yang penting warna jeruk tidak belang, mesti hijau atau jingga merata. Selain itu rasanya manis serta tidak cacat dan busuk. Menurut Kepala Bagian Toko Buah Hokky di Surabaya, Jawa Timur, Haryanto, jeruk favorit konsumen antara lain siam madu bercita rasa manis dan keprok batu 55 kombinasi rasa manis dan masam.

Jeruk keprok batu 55 bercita rasa kombinasi manis dan masam disukai konsumen pasar buah modern. (Dok. Trubus)

Selain gergalebong, jenis lain yang pas mengisi pasar madya adalah keprok batu 55. Di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Eko Santoso, menikmati manisnya laba jeruk keprok batu 55. Eko tertarik menanam keprok batu 55 karena harga jualnya lebih tinggi daripada jeruk lain. “Harga jeruk baby pacitan yang saya tanam Rp4.000/kg, sedangkan keprok batu 55 berharga Rp10.000 per kg,” kata pria berumur 26 tahun itu.

Vendi Tri Suseno menuturkan sebetulnya jeruk lokal bisa bersaing dengan impor jika ada perbaikan pada pascapanen, pengemasan, dan pemasaran. (Dok. Trubus)

Omzet Eko minimal Rp300 juta setiap 1,5 tahun setara Rp 18,7 juta per bulan dari hasil penjualan 40 ton keprok batu 55.Pengepul membeli jeruk milik Eko secara borongan sehingga tanpa sortir buah. Jadi buah berkualitas bagus dan rendah berharga sama. Saat ini harga jeruk keprok batu 55 Rp9.000 per kg, sedangkan ongkos produksinya Rp7.000 per kg sehingga ia memperoleh profit Rp5 juta per bulan.

Pendapatan itu lebih tinggi ketimbang upah minimum kabupaten/kota (UMK) Kabupaten Malang yang hanya sekitar Rp2,7 juta. Tidak heran Sidarhan dan Eko mengandalkan kebun jeruk sebagai sumber pendapatan utama lantaran labanya menggiurkan.

Hasilkan Jeruk Berkualitas

Sekitar 90% hasil panen jeruk milik Suraji termasuk kategori (grade) A yang berciri memiliki diameter buah lebih dari 5 cm dan berpenampilan mulus. Padahal jeruk berkualitas A dari kebun lain hanya 50—60% dari hasil panen. Tentu saja pendapatan Suraji pun meningkat signifikan. Ia memanen sekitar 100 kg jeruk dari tanaman berumur 5 tahun. Artinya 90 kg jeruk tergolong kategori A yang berharga Rp10.000/kg. Jadi pendapatan pekebun jeruk di Desa Selokerto, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu mencapai Rp900.000 per pohon per tahun.

Setelah dikurangi biaya perawatan (pupuk, pestisida, dan tenaga kerja) Rp150.000 per pohon per tahun, maka ia mengantongi laba bersih Rp750.000/pohon/tahun. Pendapatan Suraji lebih tinggi ketika tidak musim panen raya karena harga jeruk Rp17.000—Rp20.000 per kg. Apa rahasia Suraji lebih banyak memanen jeruk kelas A? Ia disiplin menyeleksi jeruk ketika seukuran bola bekel atau berumur 4 bulan sejak bunga mekar.

Ayah satu anak itu hanya mempertahankan buah yang mulus. Suraji hanya menyisakan 3 buah dari satu dompolan berisi 5—7 jeruk. Bahkan kadang-kadang hanya 1 buah. “Tujuannya untuk menghasilkan buah yang berkualitas karena porsi nutrisi lebih banyak sehingga pertumbuhannya lebih baik,” kata pekebun jeruk sejak 1982 itu. Suraji panen jeruk 3—4 bulan setelah penjarangan buah. Kunci sukses Suraji menghasilkan jeruk berkualitas tinggi juga berkat penggunaan bibit berkualitas. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img