
Pakan sidat anyar berbahan dasar lokal untuk memacu pertumbuhan.
Trubus — Bambang Siswantoro tidak lagi repot mencampur cacing tanah merah Lumbricus rubellus dan pakan pabrikan impor dari Korea Selatan. Cacing tanah Lumbricus rubellus sebagai daya tarik elver-elver atau anakan sidat yang sudah tidak berwarna bening untuk menyantap pakan. Biasanya peternak di Desa Sinungrejo, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, itu mencari cacing, mengolahnya, dan memberikan untuk sidat-sidat mungil itu.

Kini Bambang memberikan pakan pasta baru untuk elver berukuran 10 gram. Meski tanpa cacing tanah, anakan sidat itu tetap lahap menyantap pakan berbentuk pasta. Pria 32 tahun itu mencampurkan 2 kg serbuk pakan dengan 2 liter air, mengaduk hingga rata, dan pakan berubah bentuk menjadi pasta. Bambang membesarkan 300—500 elver di masing-masing kolam fiber berdiameter 2,5 m dan tinggi 1 m. Kedalaman kolam 70 cm.
Tumbuh bagus
Bambang mengelola total 21 kolam berukuran sama untuk pembesaran sidat. Namun, ia baru memberikan pakan pasta produksi lokal di lima kolam. Lazimnya Bambang memerlukan waktu 4 bulan untuk membesarkan elver berukuran 100—150 gram per ekor. Bambang mencoba pakan pasta baru sebulan.

Sekali pemberian pakan, Bambang memerlukan dua kg pakan. Peternak sejak 2015 itu memberikan pasta di permukaan kolam. Frekuensi pemberian pakan dua kali per hari pada pukul 07.00 dan 17.00. “Sampai sekarang pertumbuhan sidat sama seperti sidat yang diberikan pakan impor,” kata pemilik peternakan sidat Bintaro Jaya itu. Menurut Bambang perlu 2—3 bulan lagi untuk melihat keunggulan pakan baru lokal dari segi pertumbuhan sidat.
Meski demikian Bambang merasa sangat puas. Pakan baru untuk elver itu racikan peneliti Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) Prof. Dr. Mas Tri Djoko Sunarno. Doktor Fish Nutrition Aquaculture alumnus Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand, itu mampu membuktikan secara ilmiah bahwa pakan racikannya mempercepat penyempurnaan usus elver.

“Diameter usus sudah lebih besar dan jonjot usus sudah lebih banyak dalam waktu 2 bulan pemberian pakan,” kata Djoko. Jonjot adalah lipatan atau lekukan dalam usus penyerapan atau ileum. Itu mempengaruhi fungsi pencernaan elver menjadi lebih baik dalam menyerap nutrisi dalam pakan. Menurut Djoko jonjot yang lebih banyak itu, “Akan berdampak pada percepatan pertumbuhan dan peningkatan efisiensi pakan.”
Selama 2 bulan Djoko meriset perbandingan pakan formulanya dengan pakan komersial impor dan pakan oplosan komersial yang kerap dibuat oleh peternak sidat. Hasilnya pakan buatan Djoko sama memuaskannya dengan pakan komersial impor maupun pakan oplosan. “Laju pertumbuhan per hari 1%. Sintasan 94%, konversi pakannya 3. Itu semua tidak berbeda nyata dengan pakan komersial,” kata Djoko.
Kaya lemak

elver.
Keunggulan pakan racikan Djoko adalah kandungan lemak yang tinggi, mencapai 9%. Bandingkan dengan kandungan lemak pakan komersial rata-rata 3%. Faedah kadar lemak tinggi sebagai sumber energi utama untuk elver. Djoko mengatakan, urutan sumber energi bagi makhluk hidup berupa karbohidrat, lemak, dan protein. Djoko mengatakan, karbohidrat yang terlalu tinggi tidak baik bagi elver karena pencernaannya belum sempurna.
Selain itu kandungan protein pakan bikinan Djoko hanya 41%, sedangkan pakan komersial 44%. Tingginya kadar protein pakan komersial membuat harga tinggi. Menurut Djoko meninggikan kadar lemak pada pakan menyebabkan retensi protein atau potensi penyimpanan protein elver lebih tinggi (44,5%) ketimbang pakan komersial (38,4%).
Retensi protein yang tinggi menunjukkan protein diendapkan lebih banyak dalam biomassa tubuh elver. Tandanya protein disimpan dalam tubuh sidat menjadi biomassa, seperti menjadi bagian daging dan tidak banyak digunakan untuk energi. Lemak yang tinggi kandungannya dalam pakan racikan Djoko menjadi sumber energi utama setelah karbohidrat.
Djoko menggunakan bahan-bahan lokal untuk meracik pakan. Total kandungan nutrisi pada pakan formulasi Djoko: protein 41%, lemak 9%, serat kasar 2%, karbohidrat 37%, dan abu 14%.
Peternak-peternak sidat yang menggunakan pakan racikan Djoko tersebar di Bogor, Cirebon, Sukabumi—semua di Provinsi Jawa Barat, Kebumen dan Brebes (Jawa Tengah), dan Banyuwangi (Jawa Timur). Harga pakan formulasi Djoko, lebih murah hingga 28% harga pasaran pakan komersil impor. (Tamara Yunike)
