Monday, August 15, 2022

Nyamplung Genjah Panen Perdana Umur 3 Tahun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Pohon nyamplung berbuah sepanjang tahun. (Dok. Trubus)

Nyamplung unggul dengan rendemen minyak 69% dan panen perdana pada umur 3 tahun.

Trubus — Nyamplung Calophyllum inophyllum sempat populer ketika Presiden Republik Indonesia Dr. Susilo Bambang Yudhoyono menginisiasi program bahan bakar nabati (BBN) pada 2008. Alasannya, “Nyamplung bukan bahan pangan sehingga pemanfaatannya tidak akan mengganggu ketersediaan pangan,” ungkap periset nyamplung di Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH), Sleman, Prof. Budi Leksono, Ph.D.

Bunga nyamplung wangi sehingga disukai lebah. (Dok. Trubus)

Mandat dari orang nomor satu di Indonesia itu mendorong Budi Leksono mengeksplorasi berbagai bahan alam yang potensial menghasilkan BBN. Ia membaca sebuah literatur yang menyatakan bahwa masyarakat Majapahit memanfaatkan obor berbahan bakar biji nyamplung ketika perjalanan pada malam hari. Ia menindaklanjuti informasi itu dengan mengeksplorasi tegakan nyamplung dari Aceh sampai Papua.

Rendemen 69%

Budi memperoleh beragam biji dari 12 daerah, enam di Jawa dan lainnya dari luar Jawa. Keenam daerah di Jawa yang menjadi sumber nyamplung adalah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Kabupaten Ciamis (Jawa Barat), Kabupaten Cilacap dan Purworejo (Jawa Tengah), Kabupaten Gunungkidul (Yogyakarta), dan Kabupaten Banyuwangi (Jawa Timur).

Kabupaten Dompu (Nusa Tenggara Barat), Kabupaten Kepulauan Selayar (Sulawesi Selatan), dan Kabupaten Kepulauan Yapen (Papua) juga menjadi sumber nyamplung. Doktor Pertanian alumnus University of Tokyo, Jepang, itu menanam biji-biji nyamplung dari 12 tempat itu di 2 tempat, Gunungkidul (Yogyakarta) dan Wonogiri (Jawa Tengah) pada 2011. Lokasi penanaman di Wonogiri yang jaraknya hanya 50 m dari tepi Sungai Bengawan Solo membuat tanahnya kaya fosfat.

Penanaman 800 bibit menunjukkan 95% atau 760 pohon berhasil tumbuh. “Padahal pas umur 2 bulan lokasi penanaman tergenang selama sebulan,” kata pengelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Alas Kethu, Wonogiri, Jawa Tengah, Didik Indriatmoko. Istimewanya lagi, pada umur 18 bulan ada 25 pohon (3,25%) yang berbunga. Tahun ketiga (umur pohon 2,5 tahun), 25% populasi berbuah. Pada umur 5 tahun semua pohon berbuah dengan produksi 3—5 kg per pohon per tahun.

Di alam yamplung magori atau berbuah perdana pada umur 7—10 tahun. Saat itu Budi langsung meneliti produksi minyak sejak buah pertama. Ternyata kandungan minyak buah periode pertama dan kedua (umur 2—3 tahun dan 3—4 tahun) fantastis, berkisar 60—69%. Saat ini rendemen penyulingan nyamplung rata-rata 50%. Sayangnya kandungan minyak dalam buah periode ketiga (umur 5—6 tahun) turun menjadi 53—58% akibat pengaruh iklim. Buah itu berasal dari provenan pohon asal Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Pohon tahan genangan bahkan bisa tumbuh di pantai. (Dok. Trubus)

“Produksi minyak dari pohon nyamplung asli Gunungkidul pun unggul, lebih dari 50%,” kata ayah 3 anak itu. Produksi buah per pohon pun bertambah seiring pertambahan umur karena ukuran pohon juga membesar. Pada umur 20 tahun, pohon menghasilkan 50 kg buah segar per tahun. Menurut Budi bobot biji basah 35—40% bobot buah segar. Setelah pengeringan, bobot biji tinggal 75—91,25% bobot basah.

Berarti 50 kg buah segar menghasilkan 13,1—18,25 kg biji kering. Jika dibuat minyak, biji kering dari provenan unggu dengan potensi rendemen 69% itu menghasilkan 9—12,6 liter minyak. Harga minyak Rp200.000 per liter. Perhitungan di atas kertas setiap pohon unggul itu mendatangkan omzet minimal Rp1,8 juta per tahun.

Seleksi

Pengelola kebun nyamplung di
Wonogiri, Didik
Indriatmoko.

Tingginya produksi itu lantaran Budi melakukan 2 tingkat seleksi. Pertama seleksi tingkat provenan, yaitu dengan membangun sumber benih unggul dalam bentuk tegakan benih provenan (TBP). Selanjutnya ia melakukan seleksi tingkat pohon atau individu dengan menyeleksi pohon yang genjah, produktif, dan menghasilkan rendemen minyak tinggi. Ia mengatakan, kini menyeleksi tingkat individu sehingga sebenarnya hasilnya belum final.

Bunga terbentuk di ujung-ujung cabang sehingga agar produksi optimal, pohon memerlukan tempat untuk mengoptimalkan percabangan. Idealnya jarak tanam 10 m x 10 m agar tajuk tidak saling bersentuhan. Aturan itu bisa dikecualikan pada penanaman tahap awal, dengan merapatkan jarak tanam 5 m x 5 m. “Lakukan penjarangan saat kanopi mulai rapat,” kata Budi. Dengan perawatan yang baik, pekebun mendapat keuntungan dari buah buah tahap pertama.

Pekebun juga bisa mendapat tambahan penghasilan dari produksi madu lantaran pohon berbuah sepanjang tahun. Layaknya pohon buah, nyamplung pun memerlukan asupan nutrisi. Sebagai pupuk dasar, Budi menganjurkan pemberian 2 kg pupuk kandang terfermentasi atau TSP 10—20 gram. “Berikan pupuk organik kalau tanahnya kering berbatu, sebaliknya kalau tanah liat berikan pupuk kimia,” katanya. Itulah rahasia pekebun nyamplung, yaitu menanam pohon terseleksi dan merawat intensif. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img