Sayangnya, pencernaan mamalia darat terbesar itu tak efisien, hanya separuh yang tercerna. Pantas frekuensi buang airbesar dan berkemih relatif tinggi, masing-masing 19 kali dan 14 kali sehari. Satu-satunya mamalia yang tak dapat melompat itu sebetulnya makhluk cerdas. Ia akan mengingat-ingat perintah pawang. Setidaknya satwa yang mampu berlari dengan kecepatan 60 km per jam itu mampu mengingat 21—27 perintah. Para pawang memanfaatkan gajah-gajah itu untuk patroli mencegah masuknya kawanan gajah liar ke pemukiman sehingga terjadi konflik.
Kebutuhan pakan itulah yang menyebabkan koloni gajah memerlukan area jelajah hingga 777 km2. Celakanya, banyak habitat gajah rusak. Mari lihat Taman Nasional Tesso Nilo, Provinsi Riau. Luas taman nasional yang ditetapkan pemerintah pada 2004 itu mencapai 83.000 ha. Namun, menurut kepala Taman Nasional Tesso Nelo, drh Hayani Suprahman MSc, masyarakat merambah hingga 28.000 ha. Di lahan bekas hutan lindung itu, mereka mengebunkan kelapa sawit, membangun pemukiman, pasar, dan sekolah.
“Tengoklah hutan lindung Tesso Nelo. Namanya hutan lindung, tapi banyak dirambah,” ujar seorang warga di Desa Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Perambahan itu bukan saja mengubah habitat gajah, tetapi juga mungkin banyak spesies yang hilang. Peneliti dari Australia yang meriset di Tesso Nelo, Andi Gillson, mencatat bahwa keanekaragaman hayati di kawasan itu sangat tinggi, terdapat 212 spesies tumbuhan per 200 m2. Namun, menurut koordinator spesies World Wild Fund for Nature (WWF) Provinsi Riau, Wishnu Sukmantoro, 5 dari 9 habitat gajah di Provinsi Riau rusak parah.
Ahli gajah dari India sekaligus anggota Elephant Working Group, Ajay Desai, yang meriset kondisi Tesso Nelo, berpendapat sama. Akibatnya kerap terjadi konflik karena, “Habitat gajah berubah,” kata Hayani. Gajah-gajah liar masuk ke kebun kelapa sawit dan menyantap daun-daun hingga umbut Elaeis guineensis itu. “Daun kelapa sawit itu burgernya gajah,” kata Wishnu yang bertahun-tahun meriset gajah sumatera.
Pernah pula terjadi gajah liar merobohkan dapur rumah milik Edi Karso di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Setelah dinding roboh, gajah-gajah itu menyantap garam. Satwa yang muncul di Bumi pada 50-juta tahun silam itu memang suka mengasin untuk memenuhi kebutuhan mineral dalam tubuhnya, membantu proses metabolisme, dan proses pencernaan. Setiapkali ada kesempatan ketika mencari pakan, gajah akan mengasin.
Rizky Ratna Ayu dari WWF Riau mengatakan di alam gajah-gajah liar memperoleh garam-garam mineral di dinding-dinding sungai atau tanah, terutama usai hujan. “Seolah-olah mereka makan tanah, sebetulnya ya makan garam,” kata Ratna Ayu. Tanah mengandung berbagai unsur seperti garam fosfor, kalsium, dan magnesium. Usai hujan aktivitas mengasin meningkat karena gajah lebih mudah menemukan tempat mengasin. Pada musim kemarau, satwa anggota famili itu menggali tanah atau tebing dengan gading untuk mencari lokasi mengasin.
Tusukan gading di tebing itu mencapai kedalaman 35 cm, berdiameter 10—37 cm, berjumlah 5—12 lubang. Diameter tusukan lebar karena banyak gajah yang menusukkan gading ke tebing itu. Menurut peneliti gajah dari Universitas Jambi, Dr Hutwan Syarifuddin, gajah betina mengasin dengan mengentakkan kaki depan ke lantai hutan atau gundukan tanah, makan lumpur di tepian rawa, menggali tanah, atau memakan pasir dengan belalainya. Bahkan, menurut ahli gajah dari Institut Pertanian Bogor, Ir Haryanto MS, gajah kadang-kadang melukai diri sendiri sehingga darah mengalir untuk memperoleh garam.
Menurut Hariyanto secara alamiah gajah mampu menjaga ekosistem hutan. “Ia hanya makan bagian tunas muda, daun, atau buah,” kata Hariyanto. Pencernaan yang tak sempurna, menjadikan gajah sebagai penyebar biji-bijian yang andal. Apalagi daerah lintasan gajah yang luas. Hariyanto pernah meneliti gajah di Lampung pada 1980-an yang melintas ke Bengkulu, Sumatera Selatan, dan kembali ke lagi Lampung.
Ketika wilayah jelajah itu beralih fungsi akibat perambahan, konflik pun tak terhindarkan lagi. Menurut Wishnu konflik manusia dan gajah sangat tinggi karena persoalan habitat. Celakanya jika itu terjadi, gajahlah yang dipersalahkan. Pekebun mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan persoalan dengan meracun gajah. “Jangan-jangan kita sebagai manusia terlalu serakah untuk menguasai alam dan makhluk lain,” kata Hariyanto.
Solusinya, “Harus ada satu kawasan yang didesain untuk konservasi gajah,” kata Wishnu. Selain penegakan hukum, cara lain untuk mencegah konflik berkepanjangan adalah patroli pasukan bergajah bernama Flying Squad. Itu kerja sama antara Balai Konservasi Sumberdaya Alam, Taman Nasional Tesso Nelo, dan WWF Riau. Nah, Rahman, Indro, dan Lisa “bekerja” di Flying Squad itu untuk mencegah masuknya gajah-gajah liar ke pemukiman atau kebun. Selain ketiga gajah itu, masih ada Ria, Tessa, dan Nila yang terbiasa berpatroli.
Patroli bergajah yang menempuh jarak 100-an km berlangsung 2 kali sepekan, tiap Selasa dan Sabtu; patroli pada hari lain—Rabu, Kamis, dan Ahad—menggunakan sepeda motor. Lama patroli yang telah berlangsung 6 tahun itu mencapai 8—9 jam per hari. Wartawan Trubus berkesempatan mengikuti patroli gajah liar pada sebuah pagi yang basah oleh rinai gerimis. Pagi itu sang pawang, Junjung Daulay, memerintahkan Indro untuk menekuk kaki, maka gajah 40 tahun itu pun patuh. Setelah menekuk, posisi Indro lebih rendah sehingga pawang dapat naik ke punggungnya. Di atas punggung Indro, 2 meter dari permukaan tanah, duduk 3 orang. Begitu juga di atas punggung Lisa, Ria, dan Rahman. Sedangkan Tessa dan Nela—2 gajah muda berumur 4 tahun—hanya membawa masing-masing seorang perempuan pawang.
Pagi itu pasukan bergajah menerobos hutan untuk patroli. Mula-mula Elephas maximus itu melewati jalan relatif lebar, lalu menyeberangi rawa dan sungai. Seluruh tubuh Tessa dan Nela terendam air Sungai Perbekalan, hanya belalai yang menjulur ke atas meraup oksigen untuk bernapas. “Gajah perenang yang baik,” kaya Syamsuardi, pelatih gajah di Flying Squad. Selepas Sungai Perbekalan, jalanan sempit hanya pas di tubuh gajah. Akibatnya beberapa kali kaki penumpang gajah terantuk pohon.
Yang merepotkan ketika para liman alias gajah yang berbobot hingga 4.000 kg itu melewati batang pohon yang tumbang, posisinya hampir satu meter di atas permukaan tanah. Saat kaki kanan depan melangkah tinggi-tinggi, tiba-tiba posisi menjadi tak stabil. Itu yang menyebabkan beberapa kali wartawan Trubus hendak terjatuh ke sebelah kiri. Untung pawang sigap mengantisipasi.
Kekisruhan terjadi, saat Syamsuardi yang mengendarai Rahman di baris terdepan, membuka jalur baru patroli. Tangan kanannya yang memegang golok sigap menebas ranting dan cabang yang menghalangi. Rahman memotong ranting dengan belalainya. Terdengar suara, “Kraa…ak, kraa…ak” cabang sepergelangan tangan yang patah. Namun, tiba-tiba Syamsuardi berteriak keras, “Mundur… mundur… mundur….” Ternyata Rahman menghancurkan sarang lebah hutan di ranting pepohonan. Dampaknya lebah-lebah itu beterbangan.
Keruan saja suasana kacau karena jarak antargajah hanya setengah meter. Sudah begitu, gajah pun sulit ateret karena di sisi kiri dan kanan berupa semak dan pepohonan yang tumbuh rapat. Maka suasana pun gaduh, beberapa gajah itu berserobok. Patroli hari itu tak berpapasan dengan gajah-gajah liar. Jika berpapasan langsung dengan gajah-gajah liar, para pawang mencegah gajah masuk ke perkebunan. Mereka menggiring gajah liar kembali ke hutan. Kadang-kadang pawang memanfaatkan meriam ketika gajah liar membandel.
Menurut Syamsuardi masyarakat di sekitar Taman Nasional Tesso Nelo merasakan manfaat keberadaan Flying Squad. “Manfaatnya antara lain menekan kerugian masyarakat. Sebelum ada Flying Squad, masyarakat menanggung kerugian rata-rata Rp30-juta per bulan akibat masuknya gajah-gajah liar ke perkebunan milik masyarakat. Namun, sejak adanya Flying Squad kerugian turun menjadi Rp800.000 sebulan,” kata Syamsuardi. Selain itu prevalensi gajah yang mati akibat racun juga turun. (Sardi Duryatmo)
