Wednesday, August 17, 2022

Pekerja Keras Bawah Tanah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Mikorisa alias fungi itu memang memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi tanaman. Itulah sumbangsih anggota famili Glomeraceae. Mereka menumpang di akar-tepatnya di jaringan korteks-beragam tanaman, termasuk bawang merah. Fungi itu bersifat biotrofik alias hanya indekos di akar tanaman hidup. Antara mikorisa dan tanaman inang terjadi simbiosis mutualisme alias kerja sama saling menguntungkan.

Ketika akar sulit mendapatkan fosfor, melalui hifa atau benang-benang halus nan panjang ia akan mengambilnya dari dalam tanah. Hebatnya, mikorisa menyediakan fosfor sesuai kebutuhan tanaman. Tidak kurang, tidak lebih. Begitu juga keperluan tanaman akan air dan unsur hara lain, juga disediakan oleh Glomus aggregatum. Bahkan ketika tanaman tumbuh di lahan berbatu cadas pun, mikorisa mampu menembusnya.

Sebagai imbalan, tanaman memberikan energi hasil fotosintesis untuk kelangsungan hidup mikorisa. Harmastini Sukiman, ahli mikrobiologi Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi mempunyai ilustrasi begini. Mikorisa ibarat orang yang dapat belanja untuk keperluan sehari-hari, tetapi tak dapat masak. Sedangkan tanaman inang seperti bawang merah, sulit menyediakan bahan kebutuhan pokok, tetapi dapat memasak.

Bubur mikorisa

Akhirnya, pasokan bahan baku dari mikorisa itu dimasak oleh tanaman inang. Setelah matang, mikorisa Glomus aggregatum boleh menikmatinya. Kerja sama yang sempurna. Harmastini meneliti pemanfaatan mikorisa selama 8 tahun, sejak 1998. Alumnus Sydney University itu meneliti mikorisa dengan periset dari berbagai lembaga seperti Pusat Penelitian Biologi dan Osaka Gas.

Harmastini mengisolasi mikorisa di bawah tegakan dengan karier tanah. Oleh Subandi, pekebun bawang merah di Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul, Yogyakarta, mikorisa itu dimanfaatkan sebagai pupuk. Semula Subandi memberikan 200 gram per lubang tanam. Namun, pada penanaman musim berikutnya, ia mencairkan tanah yang mengandung mikorisa. Bentuknya jadi seperti bubur berwarna cokelat. Nah, sebelum umbi lapis bawang merah ditanam, ia mecelupkannya dalam bubur mikorisa itu.

Ketika panen, tekstur umbi lapis lebih keras, ukuran lebih besar. Total volume panen mencapai 20-23 ton per ha. Padahal, pria 57 tahun itu menanam bawang merah varietas tiron bantul bukan di lahan subur. Ia memanfaatkan lahan pasir di Pantai Samas, Yogyakarta. Lokasi lahan 1,5 km dari bibir pantai tempat pecahnya ombak. Toh, anggota famili Liliaceae itu tumbuh subur. Daun tetap hijau dan tegak meski sepekan menjelang panen. Harap mafhum, mikorisa juga menghasilkan hormon pertumbuhan.

Menurut Dr Syekh Fani, ahli tanah dari Universitas Brawijaya, mikorisa berperan melepas unsur fosfor yang diperlukan tanaman. Pada jenis tanah tertentu seperti andisol-dulu disebut andosol-fosfor terikat oleh unsur alovan sehingga tanaman tak mampu mengambilnya. Jika kekurangan unsur fosfor, ‘Tanaman tak dapat tumbuh normal,’ ujar doktor Tanah alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Fosfor juga terikat pada jenis tanah mediteran, podsolik merah kuning, dan latosol.

Nah, mikorisa itu mampu melepas ikatan fosfor. Caranya? Makhluk liliput itu mengeluarkan senyawa-senyawa organik seperti asam malat dan asam asetat untuk melepas ikatan fosfor. Dampaknya tanaman pun mampu mengambil unsur hara makro itu bagi pertumbuhannya. Dengan simbiosis itu pantas jika produksi bawang merah menjulang. ‘Selisih panen 5-7 ton per ha amat signifikan bagi pekebun,’ ujar Fani.

Jika rata-rata harga jual bawang merah di tingkat pekebun 2.500 per kg, ia mengantongi tambahan Rp17,5-juta. Harga beli pupuk mikorisa-kini tersedia di pasaran-Rp50.000 per kg. Bandingkan harga pupuk sejenis di Jepang, ?11.000 setara Rp880.000 per kg. Untuk luasan 1 ha, ia memerlukan 5 kg pupuk mikorisa untuk dijadikan bubur. Artinya, ia menghabiskan Rp250.000 per ha. Yang menggembirakan, setelah menggunakan mikorisa, penggunaan pupuk kimiawi turun 40-60%. Biasanya, Subandi menghabiskan Urea dan KCl masing-masing 200 kg per periode tanam, serta 500 kg SP36. Artinya, ada penghematan belanja pupuk Rp856.000-Rp1.284.000 per hektar.

Efek ganda

Menurut Harmastini mikorisa ramah lingkungan, tak menyebabkan polusi, dan aplikatif. Pupuk hayati itu dapat digunakan di persemaian, pembibitan, hingga di lahan. ‘Penggunaan mikorisa dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Apalagi pupuk kimia kerap mengalami keterlambatan sehingga waktu tanam juga terlambat,’ ujar Harmastini.

Uji coba pada budidaya organik pun menghasilkan produksi tinggi. Dengan demikian, mikorisa dapat digunakan dalam sistem budidaya organik dan nonorganik. Pemanfaatan mikorisa dalam budidaya tanaman berdampak ganda: tanaman subur, produksi meningkat, dan penghasil senyawa antimikroba. Beragam penyakit yang menyerang akar seperti layu fusarium pun dapat dicegah. Ada juga yang berpendapat, jika populasi mikorisa berlebihan justru menjadi parasit. ‘Itu perlu penelitian untuk membuktikannya,’ kata Fani

Manfaat mikorisa tak hanya dirasakan pekebun bawang merah. Riset itu juga membuktikan mikorisa memacu pertumbuhan dan meningkatkan produksi beragam tanaman anggota 67 famili lain di luar Liliaceae. Sekadar menyebut contoh, cabai anggota famili Solanaceae dan jagung (Gramineae) berproduksi meningkat setelah diberi mikorisa. Makhluk liliput itu bukan sekadar indekos. Mereka menyediakan hara tanaman inang. (Sardi Duryatmo/Peliput: Andretha Helmina)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img