Permintaan daging itik cenderung meningkat setiap tahun. Peternak baru bermunculan demi memenuhi ceruk pasar. Budidaya itik khusus pedaging menjanjikan untung.

Trubus — Agus Taufik, S.E., rutin memanen sekitar 450 itik pedaging setiap pekan. Harga itik panen terakhir pada awal Agustus 2019 Rp43.000 per ekor sehingga omzet Agus Rp19.35 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi, peternak itik di Desa Sinarsari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu, mengantongi laba bersih Rp4 juta saban pekan. Total jenderal tabungan Agus bertambah Rp16 juta dari hasil perniagaan 1.800 itik saban bulan.
Sebanyak 480 day old duck (DOD) masuk kandang menggantikan itik yang dipanen. Siklusnya selalu begitu sehingga pemanenan setiap pekan. Panen bisa rutin lantaran Agus memelihara sekitar 2.500 itik. Penjualan 450 itik per pekan itu setelah pemeliharaan 38—40 hari. Saat itu bobot itik 1,7—2 kg. Durasi budidaya dan bobot yang didapat itu tergolong cepat. Itik lain berbobot 1,4—1,5 kg ketika berumur 45—60 hari.
Karkas
Agus menggunakan itik khusus pedaging unggul bernama gunsi 888 yang pertumbuhannya cepat (Baca Dicari Itik Bongsor halaman 54—55). Ia mengandalkan pakan pabrik karena efisien, efektif, dan praktis. Ketersediaan pakan juga memadai dan mudah didapat. Dengan begitu Agus tidak repot membuat dan mencampur bahan pakan seperti jagung dan bekatul.

Konsekuensi menggunakan pakan pabrik yakni biaya pakan lebih tinggi daripada pakan racikan mandiri. Itulah sebabnya biaya produksi budidaya itik pedaging ala Agus relatif tinggi. Meski begitu ia tetap mendulang untung (Baca Laba Besarkan Itik halaman 52—53). Sebetulnya beternak itik hal baru bagi Agus. Ia menekuni peternakan unggas air itu sejak November 2018.
“Saya tertarik memelihara itik karena hobi dan juga menguntungkan,” kata Agus. Itu terbukti dengan bertambahnya penghasilan Agus sebesar Rp16 juta per bulan dari penjualan itik. Ia tidak sembarangan memilih bidang usaha. Semua diperhitungkan dengan cermat. Harap mafhum Agus adalah akuntan yang berpengalaman lebih dari 30 tahun di industri hotel dan alat kesehatan.
Bahkan ia pernah mengelola dua hotel di Cina. Jadi banyak kawan yang terkejut setelah mengetahui aktivitas terbaru Agus membudidayakan satwa berparuh itu. Selain itu, pengalaman ayah 3 anak itu membuktikan budidaya itik relatif mudah dan bisa dipelajari. Buktinya Agus yang tergolong pemula pun sukses meraih laba dari satwa anggota famili Anatidae itu.

Ia bukan satu-satunya peternak itik khusus pedaging pemula yang sukses. Nun di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Andre Siswanto, serius menekuni budidaya itik khusus pedaging. Andre membangun kandang berkapasitas 16.000 itik pada Oktober 2018. “Saya beternak itik karena ada potensi pasar di Surabaya,” kata pemilik CV Swasembada Merikamo itu.
Andre juga mengandalkan gunsi 888 sebagai penghasil daging itik. Andre tidak menjual itik hidup, tapi berupa karkas (daging tanpa jeroan). Alasannya kualitas daging itik tidak konsisten jika jual hidup karena menunggu permintaan pembeli. Ia juga panen sesuai standar jika menjual karkas. Yang paling penting harga jual pun lebih tinggi ketimbang itik hidup. Apalagi penjualan karkas langsung ke konsumen akhir tanpa perantara sehingga harga lebih baik. Jadi, konsumen memperoleh daging itik dengan harga relatif lebih murah.
Peternak tersebar

Harga karkas produksi Andre minimal Rp36.000 per kg, sedangkan itik hidup Rp22.000—Rp24.000 per kg. Ia menjual sekitar 2.000 karkas setiap pekan sehingga beromzet minimal Rp72 juta per pekan. Sayang ia enggan mengungkapkan profit.
Konsumen Andre yaitu restoran penyedia olahan itik kelas menengah di Surabaya, Jawa Timur, Banjarmasin (Kalimantan Selatan), dan Jakarta. Ia memanen itik berumur 40—45 hari. Saat itu bobot satwa kerabat angsa itu 1,8—1,9 kg. Durasi budidaya lebih lama daripada Agus karena menyesuaikan dengan permintaan konsumen. Andre pernah menuai itik pada umur 35 hari dan respons konsumen kurang puas. Alasannya daging kurang alot.
Program itik 40 hari sudah berjalan 6 bulan dan hingga kini tidak ada komplain. Alasan lain panen pada 40—45 hari lantaran menyesuaikan kapasitas rumah potong. Saat ini kapasitas produksi rumah potong sekitar 700 ekor per hari. Padahal Andre memiliki sekitar 4.000 itik per siklus budidaya. Jadi, ia mesti memerlukan waktu 5 hari untuk memotong semua itik miliknya.

Saniri di Pontianak, Kalimantan Barat, juga mengembangkan itik hibrida sejak 2017. Semula populasi hanya 400 itik, kini 3.000 itik bersama 3 mitra. Ia rutin memasok 4.000 itik berbobot 1,7—1,8 kg ke hotel, restoran, dan kafe di Pontianak setiap bulan.
Harga jual minimal Rp60.000 per ekor sehingga omzet Saniri minimal Rp240 juta. Ia memperoleh laba bersih sekitar Rp40 juta per bulan. Sejatinya bukan hanya Agus, Andre, dan Saniri yang menikmati laba itik khusus pedaging. Sebelumnya ada Entong Gunawan di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang merasakan gurihnya laba itik khusus pedaging sejak 2016. Kini Entong menjual 4.000 itik saban bulan seharga minimal Rp35.000 per kg.
Kuliner berkembang
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Dr. drh. I Ketut Diarmita, M.P., mengatakan budidaya itik di Indonesia cenderung meningkat. Itu terlihat dari data populasi itik nasional yang meningkat sebesar 13,19% pada 2014—2018. “Itik pedaging salah satu komoditas yang akan terus dikembangkan di Indonesia karena konsumen daging itik makin meningkat,” kata Ketut. Munculnya warung makan penyedia menu berbahan daging itik bukti bertambahnya konsumen olahan itik. Musababnya bisnis warung makan di berbagai daerah pun berkembang dan ramai pengunjung.
Salah satunya Bebek & Ayam Goreng Pak Ndut. Warung makan itu semula berlokasi di teras rumah sang pemilik pada 1997. “Kini terdapat 31 gerai di Indonesia dan 2 gerai di Singapura,” kata Direktur PT Indo PD Mandiri yang menaungi waralaba Bebek Pak Ndut, Arif Widiyono. Pasokan itik per gerai 15—250 ekor per hari tergantung skala rumah makan. Warung makan Bebek Pak Ndut cabang besar mengolah 200—250 itik per hari, cabang menengah (50—70 ekor), dan cabang kecil (15 ekor).

Arif masih memerlukan 15—50 itik per gerai karena minimal ada 1 gerai baru setiap bulan. Menurut Arif bisnis restoran bebek memiliki prospek yang baik. Musababnya ada beberapa tempat yang belum familiar dengan daging unggas yang penyebarannya tergolong luas meliputi daerah subtropis dan tropis itu. Masyarakat Jambi belum terbiasa dengan kuliner daging itik sebelum 2013.
Saat itu restoran penyedia menu itik pun belum banyak. Setelah Bebek Pak Ndut masuk Jambi, masyarakat setempat menyambut baik dan bisnisnya bertahan hingga kini. Keuntungan berjualan menu itik pun dirasakan warung makan lokal seperti Kedai Bebek Mbegor di Jember, Jawa Timur. Yosie—pemilik kedai—mengatakan profit berjualan menu daging itik 40—50% dari harga jual per porsi. Ia menjual 100—150 porsi makanan olahan itik berharga minimal Rp18.000 per porsi.
Artinya Yosie mendapatkan omzet minimal Rp1,8 juta per hari dengan laba bersih Rp450.000 per hari. Pada waktu tertentu seperti Idul Fitri ia kesulitan mendapatkan itik. Tren kuliner itik masih menggeliat. Sebenarnya kapasitas produksi para peternak itik belum memenuhi permintaan yang datang. Agus belum sanggup memenuhi permintaan 200 itik setiap hari. Bahkan pernah ada yang meminta pasokan 2.000 itik per hari. Sementara salah satu restoran langganan Andre memerlukan 1.000 karkas per pekan. Kapasitas produksi Andre hanya 2.000 karkas per pekan.
Penyedia DOD
Menurut peneliti itik di Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Dr. Ir. Triana Susanti, M.Si., selama ini sumber daging itik berasal dari itik jantan lokal dan itik petelur apkir. Harap mafhum semua itik di Indonesia termasuk tipe petelur, bukan pedaging. Lalu muncul itik khusus pedaging. Balitnak meneliti itik khusus pedaging sejak 2008 yang kemudian diberi nama PMP. Itu hasil persilangan peking dan mojosari putih.

Gerai baru Bebek Pak Ndut menggunakan 90% daging itik khusus pedaging. Triana mengatakan itik khusus pedaging meramaikan pasar daging itik yang selama ini diisi itik petelur apkir. Beruntungnya perkembangan budidaya itik pedaging sejalan dengan munculnya perusahaan penyedia DOD seperti PT Putra Perkasa Genetika (PPG), Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
PT PPG melayani penjualan seluruh Indonesia meliputi Jambi, Lampung, dan Palembang. “Pembeli juga berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat, dan Samarinda (Kalimantan Timur),” kata anggota staf bagian penjualan DOD PT PPG, Albert. Konsumen terbesar di Jawa Barat, terutama wilayah Kabupaten Bogor. Albert dan tim pun kewalahan memenuhi permintaan DOD.
Perusahaan penyedia DOD gunsi 888 itu memproduksi 35.000—45.000 per pekan. Kapasitas produksi itu baru memenuhi 50% permintaan. Kini Albert menambah kapasitas produksi hingga 80.000 per pekan sesuai dengan kapasitas induk. Di Kediri, Jawa Timur, pun ada perusaahan yang menyediakan DOD khusus pedaging. Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pun sohor sebagai sumber penyedia DOD itik hibrida yang dikelola peternak skala kecil hingga menengah.
Konsultan penangkaran itik Dr. Hardi Prasetyo, MAgr.Sc., mengatakan, “Kita memerlukan usaha pembibitan lain karena permintaan daging itik terus naik dan belum tercukupi.” Peternak mesti mengatasi beragam tantangan untuk meraih laba dari itik (baca boks Atasi Aral Beternak Anas).
Agus tidak berani mengambil DOD dari tempat lain karena belum teruji kualitasnya. Sementara peternak baru yang membeli DOD di PT PPG mesti inden sebulan. “Kendala saya beternak itik hanya ketersediaan DOD yang belum mencukupi,” kata Agus. Andre pun terbentur pasokan DOD. Jika ketersediaan DOD memadai, peternak pun mendapatkan untung lebih banyak. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Bondan Setyawan, Muhamad Fajar Ramadhan, dan Tamara Yunike)
