Friday, January 16, 2026

Pemuda Asal Lumajang Tekuni Hidroponik, Jadi Sumber Pendapatan

Rekomendasi
- Advertisement -

Budi daya sayuran hidroponik menghasilkan omzet puluhan juta rupiah per bulan. Tekun dan serius menjadi kunci sukses menekuni hidroponik meski tanpa pengalaman.

Arif Hermawan, S.E. membudidayakan 4.200 selada hidroponik di lahan 220 m². Ia mampu memanen rata-rata 300 kg selada per bulan dengan masa panen sekitar 40–45 hari.

Arif fokus menanam selada karena pangsa pasarnya lebih baik dibanding sayuran lain. Pemuda asal Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang itu menjual selada seharga Rp27.000–Rp30.000 per kg.

Dari hasil penjualan tersebut, Arif meraup omzet Rp8,1 juta–Rp9 juta per bulan. Ia juga memperoleh tambahan pendapatan dari kerja sama dengan para alumni Pondok Pesantren Kiai Syarifuddin.

Arif mengelola sedikitnya tujuh lahan hidroponik yang tersebar di berbagai kecamatan. Dengan kerja sama tersebut, ia mampu menghasilkan omzet hingga Rp35 juta per bulan.

Arif tak menyangka usaha hidroponiknya berkembang pesat. Maklum, seluruh pengetahuannya tentang hidroponik ia peroleh secara autodidak tanpa latar belakang pertanian.

Ia merupakan lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Institut Agama Islam Syarifuddin. “Saya hanya mengandalkan ilmu dari media sosial,” ujarnya.

Arif memulai usahanya pada 2019 dengan modal Rp1,5 juta. Ia menanam selada hidroponik menggunakan 70 botol bekas dan bak di lahan sempit milik neneknya.

Upaya pertamanya gagal, tetapi ia tak patah semangat. Ia kembali mencoba dan tetap mengalami kegagalan, hingga akhirnya mengikuti berbagai pelatihan dan seminar hidroponik.

Dengan bekal ilmu dan dukungan istri, Arif kembali menanam selada, sawi, dan kangkung. Ia memanfaatkan lahan seluas 40 m² di atas atap rumahnya.

Arif menggunakan pipa polivinilklorida (PVC) dan menerapkan teknik nutrient film technique (NFT). Ia menanam 340 lubang tanam dan akhirnya sukses memanen.

Saat panen perdana, Arif justru bingung memasarkan hasilnya. Ia pun membagikan sayuran secara gratis ke tetangga untuk mendapat respons dan penilaian masyarakat.

Tanggapan warga sangat positif terhadap sayuran hidroponik bebas pestisida. Untuk mengatasi masalah pemasaran, Arif belajar teknik pemasaran digital dan promosi melalui media sosial.

Strategi tersebut berhasil, sayuran hidroponiknya laris manis. Sebanyak 50 kg sayuran terjual dan banyak yang memesan sebelum panen.

Dari mulut ke mulut, kualitas sayurannya dikenal luas. Warung makan, penjual kebab, hingga pengusaha katering berbondong-bondong menjadi pelanggannya.

Karena permintaan semakin meningkat, Arif memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan fokus ke hidroponik. Ia kemudian memperluas lahannya dengan membangun greenhouse.

Ia mengajukan pinjaman bank untuk membuka lahan baru seluas 220 m². Ia menyewa lahan bekas sawah dan tebu serta mengajukan pinjaman bertahap sebesar Rp65 juta.

Usaha hidroponiknya kini berkembang hingga Jember, Banyuwangi, dan Probolinggo. Dengan pengalamannya, Arif mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Reswara Farm.

Arif berharap pusat pelatihan ini dapat mewujudkan pertanian modern dan unggul. Ia juga ingin menciptakan petani milenial dan masyarakat yang aktif dalam pemberdayaan sosial dan ekonomi.

Ia menjadi percontohan bagi desa lain di Kecamatan Kedungjajang. Ia juga menggandeng tim penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk ketahanan pangan keluarga.

Berbagai penghargaan telah diraih Arif, di antaranya juara favorit Santri Innofest Nasional 2023. Ia juga masuk 10 besar One Product One Pesantren (Opop) Award Jatim.

Selain itu, ia masuk 90 besar Young Ambassador Agriculture dari Kementerian Pertanian. Ia juga dinobatkan sebagai pemuda pelopor bidang pangan tingkat kabupaten.

Penghargaan lainnya adalah Santripreneur Agribisnis dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Terbaru, ia menjadi juara I Wirausaha Muda Pemula Berprestasi kategori Agropreneur dari Kemenpora.

Dengan berbagai prestasinya, Arif berharap dapat menginspirasi lebih banyak pemuda. Ia ingin mendorong anak muda berpartisipasi aktif dalam kewirausahaan dan ekonomi lokal. (Imam Wiguna)

Foto: Dok. Arif Hermawan

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img