Trubus.id— Tim Kedaireka Institut Pertanian Bogor (IPB) memberi pendampingan peningkatan soft skill mahasiswa, di Ruang Sidang INTP, Fakultas Peternakan IPB, Sabtu, (02/09).
Sebanyak 30 mahasiswa mengikuti pendampingan peningkatan soft skill tersebut. Ketua Tim Kedaireka IPB, Prof. Dr. Ir. Yuli Retnani, M.Sc., mengharapkan dengan kegiatan itu bisa membantu mahasiswa dalam peningkatan soft skill.
Lebih lanjut, Yuli menjelaskan pendampingan yang digelar ini masuk dalam program Matching Fund Kedaireka. Program Matching Fund telah diterapkan pada peternak sapi perah di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Pada program Matching Fund itu, peternak dikenalkan produk inovasi wafer biosuplemen. Menurut Yuli, berdasarkan aplikasi pemberian wafer biosuplemen pada sapi perah dapat meningkatkan produksi susu.
Oleh karena itu, Yuli mendorong mahasiswa untuk terus berinovasi di sektor peternakan. Apalagi sektor peternakan memiliki potensi bisnis yang besar.
Hal senada juga diungkapkan oleh Manager Farm PT Sumber Citarasa Alam (Cimory Group), Dadang Suryana. Ia mendorong mahasiswa agar bisa menjadi seorang yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan dari sektor peternakan.
Menurut Dadang mahasiswa bisa berinovasi dari sektor hulu ke hilir. Mulai dari menciptakan produk susu berkualitas, hingga produk turunan dari susu sapi.
“Untuk menghasilkan susu bagus banyak yang harus diperhatikan, seperti kondisi kandang yang nyaman hingga jenis pakan yang diberikan. Saat kualitas susu bagus, harga jual juga bagus,” tuturnya.
Sementara itu, berkaitan dengan kualitas susu, Senior Sales Manager dari PT Behn Meyer Chemicals, Suhail Basymeleh, menuturkan Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) masih berkualitas rendah.
“Kami sering mengenalkan cara tingkatkan produksi susu pada peternak. Yang perlu diingat, sapi tidak bisa bohong, saat diberi pakan bagus hasil susunya bagus, begitu juga sebaliknya,” paparnya.
Sisi kualitas masih menjadi persoalan produksi susu. Hal itu menjadi sebuah kelemahan sekaligus peluang. Konsultan peternakan dari Bandung, Giant Praceka, mengatakan bisnis yang bagus adalah bisnis yang dapat menjawab sebuah permasalahan.
Kendati demikian, Giant menekankan ada beberapa soft skill yang harus dimiliki mahasiswa jika hendak terjun di dunia bisnis. Di antaranya, harus mampu berpikir kreatif, logis, dan terbuka.
Selain itu, mahasiswa juga perlu memiliki skill komunikasi, baik verbal ataupun non verbal. Bahkan skill yang tidak kalah penting adalah harus memiliki jiwa leadership (kepemimpinan).
“Supaya bisnis tambah bagus, pebisnis harus bisa jadi motivator. Mengingat bisnis ada naik turunnya, sehingga harus bisa memotivasi diri sendiri sekaligus tim. Sebagai seorang leader kita harus memiliki problem solving (penyelesaian masalah),” tuturnya.
