
Sistem tanam baru bernama jejer manten meningkatkan produksi hingga 28%. Petani lebih untung.

jejer manten hanya 5 cm. (Dok. Ir. Robet Asnawi, M.Si.)
Trubus — Hasan Basri semringah karena menuai 1,6 ton gabah kering panen (GKP) di lahan 2.500 m2. Bertahun-tahun menjadi petani, paling banter ia memanen 1,2 ton di luasan sama atau meningkat 33%. Petani di Desa Waylayap, Kabupaten Pesawaran, Lampung, itu menerapkan sistem tanam anyar yang diajarkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung. Sistem tanam baru itu bernama jejer manten alias pengantin yang berjajar.
Sistem tanam jejer manten adalah kombinasi sistem jajar tegel dan jajar legowo. Periset BPTP Lampung, Ir. Robet Asnawi, M.Si, yang mengembangkan sistem tanam baru itu. Robet mengatakan, “Jejer manten merupakan penambahan populasi pada jajar tegel. Jarak antarbibit dalam satu baris 5 cm, berimpitan seperti pengantin. Nantinya setelah umur 2 bulan dua rumpun akan menyatu.”
Naik 28%
Jajar tegel adalah sistem tanam konvensional, berjarak 25 cm x 25 cm. Populasi jajar tegel mencapai 160.000 tanaman per ha. Penampakan tanaman sistem jejer manten mirip jajar tegel. Namun, populasi sistem jajar manten terdiri atas 211.000 tanaman yang terlihat hanya seperti 105.500 rumpun. Populasi tanaman pada lahan jejer manten akan bertambah 31,88% ketimbang jajar tegel, sedangkan dibandingkan dengan jajar legowo akan berkurang 0,94%.

Menurut Hasan, “Jajar tegel hanya membutuhkan 10 kg benih, sedangkan jejer manten bisa lebih dari 10 kg karena lebih rapat jarak tanamnya.” Robet menganjurkan petani menggunakan benih yang berumur 17—20 hari setelah semai untuk seluruh jenis sistem tanam. “Usia benih itu paling baik karena tanaman memiliki kekuatan akar yang cukup untuk mencengkram tanah tetapi tidak terlalu panjang sehingga tidak putus ketika dipindahkan,” kata Robert.
Akar yang putus akan menyebabkan tanaman stres dan membutuhkan waktu pemulihan sehingga menghambat pertumbuhan. Penyuluh pertanian pembina penerapan sistem jejer manten di Kabupaten Pesawaran, Rosdiani, mengatakan, seluruh petani dari 16 kelompok tani binaan merasakan peningkatan hasil panen rata-rata 20—40% setelah menerapkan jejer manten. “Bahkan ada petani yang mendapatkan panen 2,6 ton 6 kuintal di lahan 3.200 m² pada November 2018.
Padahal, sebelum mengadopsi jejer manten, hasil panen hanya 1,5 ton di lahan yang sama. Para petani menggunakan beberapa varietas padi seperti inpari 32, 42, 43, dan ciliwung. Dalam penelitiannya, Robet pun mengamati sistem jejer manten menghasilkan GKP 28,92% lebih tinggi daripada sistem jajar legowo.
Mudah
Keberhasilan peningkatan hasil panen pada sistem jejer manten bukan karena varietas padi yang digunakan atau cara perawatan selama budi daya. Menurut pengamatan Rosdiani anakan jejer manten lebih melimpah daripada dua sistem tanam yang lainnya karena pemupukan menjadi lebih efisien. Menurut perempuan kelahiran Solok, Sumatera Barat, itu jumlah anakan bergantung pada jarak tanam dan asupan unsur hara.

Robet menjelaskan populasi tanaman pada jejer manten lebih optimal dibandingkan dengan jajar tegel. Selain itu paparan sinar matahari juga lebih sempurna dibandingkan dengan jajar legowo. Oleh karena itu sistem jerman alias jejer manten lebih unggul dibandingkan jajar tegel dan legowo. “Masalah kerentanan terhadap hama sistem jejer manten dibanding jajar tegel sama saja.
Bila disandingkan dengan jajar legowo, menurut Robet, hama tikus menjadi lebih ringan lantaran sinar matahari lebih banyak menerangi ruang di dalam barisan tanaman. Penyiangan dan penyemprotan padi pun lebih mudah dilakukan pada sistem jerman—singkatan jejer manten—ketimbang jajar legowo. Petani lebih mudah menggunakan alat gasrok dan penyemprot pada sistem jerman karena jarak antara dua barisan tanaman dan jarak dalam barisan lapang.

manten sejak tahun 2014 (Dok. Trubus)
Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan sistem jerman itulah yang juga menjadi alasan petani di Provinsi Lampung mudah menerima sistem tanam terbaru. Masyarakat Lampung juga cepat mengadopsi sistem baru itu meski baru mengenal 2 tahun lalu. Kekurangan jejer manten yaitu perlunya penambahan biaya pekerja. “Pekerja membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menanam padi, seperti jajar legowo.

“Mereka kadang mengeluhkan rasa pening karena jarak antartanaman sangat dekat yang hanya 5 cm,” kata Hasan. Rosdiani menyatakan, petani yang menerapkan sistem jejer tegel di sawah 2.500 m² bisa menyelesaikan penanaman dalam setengah hari kerja (pukul 07.00—12.00). Adapun petani yang menerapkan jejer manten mereka harus bekerja sampai pukul 13.00. Upah pekerja tanam di Rejoagung, Lampung, Rp150.000 per 2.500 m jajar tegel untuk setengah hari kerja. Upah kerja jerman Rp200.000 per 2.500 m² karena waktu penyelesaian lebih lama.
Namun, apabila pekerja tanam sudah terbiasa, penanaman bisa dikerjakan lebih cepat dan upah kembali normal seperti pengerjaan jajar tegel. “Upah pekerja tanam jajar legowo sama dengan jejer manten bagi mereka yang belum terbiasa, tapi bagi yang terbiasa Rp150.000/2.500 m2 untuk waktu setengah hari jam kerja,” ujar Rosdiani. Tambahan biaya itu masih bisa ditutupi dengan keuntungan petani. “Biasanya dengan jajar tegel pendapatan bersih sekitar Rp5 juta untuk 2.500 m², jejer manten bisa Rp5,5 juta—Rp6 juta untuk 2.500 m²,” kata Hasan. (Tamara Yunike)
