Masalah klasik itu kini tinggal cerita. Lembaran kelam bagi produsen ulat sutra ditutup oleh PT IPB Petromat Agrotech. Perusahaan yang dikelola oleh sebagian alumni Institut Pertanian Bogor itu menciptakan mesin pengering kokon tepat guna. Dengan alat itu biaya produksi kokon kering lebih ekonomis karena memanfaatkan energi yang tersedia di alam berupa panas matahari, biomassa, dan angin.
Bagian pengumpul panas berupa panel hitam sepanjang 7 m yang dilapisi plastik ultraviolet. Panel itulah yang bertugas menyerap panas matahari. Plastik ultraviolet menghindari radiasi sinar matahari yang menyebabkan kokon berubah warna. Panas yang terkumpul disirkulasikan ke ruang pengering sepanjang 12 m oleh kipas ganda. Air menguap dari kokon dikeluarkan oleh turbin ventilasi ganda. “Dua turbin itu diletakkan bertingkat untuk menyerap uap panas dari 2 tingkat pengeringan,” ujar manajer IPB Petromat Agrotech, Enes Lenterantio
Multifungsi
Tungku pemanas ganda difungsikan saat malam, cuaca mendung, atau hujan. Bahan bakar berupa batubara atau arang kayu. Suhu dipertahankan 60—800C dan kelembapan udara kering yang optimal sekitar 5%. Kapasitas kokon basah yang tertampung 500 kg dengan lama pengeringan 24 jam. Bandingkan dengan pengeringan tradisional memanfaatkan panas matahari, butuh waktu paling cepat 5 hari.
Alat pengering terbagi menjadi 2 tingkat. Lantai bawah setinggi 55 cm dan tingkat kedua 30 cm yang langsung dinaungi plastik ultraviolet. Alas lantai atas menggunakan kawat dan jaring berjarak 2 cm. Jarak itu untuk tempat sirkulasi panas dari bawah. Tiang penyangga terbuat dari galvalum antikarat sehingga tahan lama. “Umur ekonomis alat itu mencapai 20 tahun,” kata alumnus Teknik Mesin Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta itu.
Pengering berukuran 19 m x 2 m itu multifungsi. Tak hanya kokon, sayuran, buah, hasil perkebunan, dan produk perikanan pun dapat dikeringkan dengan mesin yang diriset selama 15 tahun itu. Dengan demikian kokon-kokon kering berkualitas dapat dihasilkan sehingga benang yang dihasilkan pun lebih kuat, rata, dan ulet.
Konvensional
Menurut Rudi Wahyudi, direktur PT IPB Petromat Agrotech, “Selama ini kita masih impor 99,9% benang sutra dari Cina.” Pasar dunia memang membutuhkan benang sutra berkualitas tinggi, harga kompetitif, dan produksi kontinu. Total kebutuhan dunia terhadap kokon kering yang belum terpenuhi mencapai 60%. Ciri kokon berkualitas berwarna putih bersih tak bernoda, bila diguncangkan akan berbunyi. Itu tandanya ulat di dalam kokon kering sempurna berkadar air 12% dan tidak lengket ke dinding bagian dalam.
Sayang, mutu kokon produksi para pekebun ulat sutra Bombyx mori masih rendah. Kering tidak sempurna dan berwarna kecokelatan. Akibatnya air rebusan kokon sebelum dipintal berwarna kecokelatan sehingga harus sering diganti. “Ketika dipintal sebuah kokon hanya menghasilkan 900 m benang. Padahal standarnya 1.500 m,” kata Rudi Wahyudi.
Rendahnya kualitas kokon karena penjemuran secara konvensional tergantung cuaca. Padahal masa hidup kokon sebelum menjadi kupu-kupu hanya sepekan. Bila terlambat, kokon terbuang sia-sia; terlalu lama dijemur, kokon kecokelatan karena teroksidasi oleh sinar gamma dari matahari. Cuaca mendung membuat serat benang kokon tak dapat diurai.
Penjemuran konvensional tidak efektif karena memerlukan banyak tenaga kerja untuk membolak-balik kokon. “Selain itu butuh areal luas untuk penjemuran,”kata Rudi. Penjemuran di alam juga menyebabkan kokon terkontaminasi berbagai mikroorganisme, debu, dan serangga. Akibatnya, “Benang mudah putus- putus dan ketebalan tidak merata,” ujar ayah 2 putra itu. Benang kusam dan kecokelatan. Pantas harga pun merosot, hanya Rp240.000 per kg benang. Bandingkan benang kualitas baik yang dihasilkan dengan mesin pengering mencapai Rp310.000 per kg. Itu menyaingi harga benang asal Cina. (Pupu Marfu’ah/Peliput: Destika Cahyana)
Obat Dewa dari Pakan Ulat Sutra
Di Jawa Tengah namanya besaran. Di Sulawesi panggilannya gertu. Di Sumatera Selatan, kitaoc; Lampung, kitau. Begitulah beragam sebutan yang disematkan pada murbei Morus sp oleh masyarakat kita. Namun, di semua tempat itu ia hanya dikenal sebagai pakan ulat sutra. Padahal di Cina, ambatuah—sebutan murbei di Tanah Karo—juga dikenal sebagai obat dewa. Ia mampu menyembuhkan beragam penyakit.
Pantas pekebun murbei banyak yang tak tahu khasiat anggota keluarga Moraceae itu. Musababnya, sejak 1948—ketika murbei diperkenalkan di Indonesia oleh orang Jepang—ia hanya disebut sebagai pakan ulat sutra Bombyx mori. “Pekebun tak tahu banyak, paling yang tahu hanya segelintir peneliti,” kata Dr Clara M Kusharto, dosen di Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK) IPB.
Padahal, menurut Dr Mien Kaomini, peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor, murbei berkhasiat obat. Sebut saja diabetes, darah tinggi, sampai hepatitis. Ketiga penyakit itu bisa diatasi dengan murbei. Ekstrak daunnya digunakan sebagai bahan pemutih kulit. “Manfaat pohon murbei banyak dikupas literatur asing. Ia juga sudah digunakan industri kosmetik lokal,” kata peneliti yang banyak mengamati murbei sebagai pakan ulat itu.
Bukti lain adalah penelusuran Trubus di dunia maya. Bagian daun, buah, dan batang murbei kaya beragam vitamin dan asam amino yang bermanfaat untuk tubuh. Di situs itu pun tercatat beberapa resep penggunaan murbei sebagai obat. Misal, resep untuk darah tinggi, sebanyak 15 g daun murbei direbus dalam 2 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin disaring dan diminum 2 kali sehari, pagi dan sore. Sementara untuk hepatitis kronis: buah murbei segar sebanyak 10 g dicampur segelas air, lalu diblender. Hasilnya diminum sekaligus.
Tak hanya itu manfaat murbei. Beragam penyakit seperti bisul, luka digigit ular, jantung lemah, darah kotor, dan rematik pun bisa diobati. Bagi ibu menyusui, murbei pun lezat digunakan sebagai lalapan rebus. Ia dapat meningkatkan jumlah air susu ibu (ASI) seperti layaknya daun katuk. Tak percaya? Silakan Anda mencoba. (Destika Cahyana)
