Saturday, April 13, 2024

Penyebab Sejumlah Harga Pangan Melambung, Perlu Diversifikasi Hingga Teknologi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Sejumlah harga pangan akhir-akhir ini tengah melambung. Misalnya harga rata-rata cabai rawit merah di pasar tradisional per tanggal 22 Februari 2024 yang dilansir pada laman  Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) mencapai Rp70.400 per kg (naik 21,48%). Belum lagi beras yang tembus Rp16.950 untuk kualitas super I.

Pakar Ekonomi Pertanian dan  Kebijakan Agribisnis, IPB University, Dr. Feryanto menuturkan tren kenaikan harga pangan sejatinya dimulai pascapandemi atau sekitar 2022.

Hal itu karena saat pandemi ada pembatasan yang mengakibatkan konsumsi masyarakat menurun.  “Begitu pandemi selesai, permintaan menjadi tinggi, sementara ketersediaan bahan pangan masih terbatas,” tutur Feryanto.

Namun fenomena kenaikan harga pangan juga terjadi disejumlah negara. Hal itu akibat efek perubahan iklim global dan kondisi geopolitik perang Ukraina dan Rusia, perang Israel dan Palestina, serta perang dagang Tiongkok dan Amerika Serikat.

“Salah satu penyebab harga beras terus naik adalah adanya penurunan produksi sampai 2,05 persen di tahun 2023 karena El Nino. El Nino ini menyebabkan musim tanam mundur dan otomatis musim panen juga mundur,” tutur Feryanto pada laman IPB.

Dosen Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen itu juga menuturkan bahwa yang mengalami kenaikan harga tak hanya beras tapi juga bahan pangan lain seperti cabai dan bawang merah juga mengalami hal serupa. “Pada kasus bawang merah, permintaan pasar cenderung stabil, tapi disbanding dengan supply yang rendah, tetap terjadi kelangkaan barang,” katanya.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa pada komoditas tertentu bentuknya musiman. Sehingga perlu kerja sama pemerintah dan petani untuk membuat kalender tanam. Hal itu agar ketersediaan bahan pangan tidak melimpah di satu waktu dan langka di waktu lain.

Ia menuturkan bahwa di Indonesia permintaan justru meningkat saat libur Natal dan Tahun Baru, Imlek, menjelang Ramadan, dan Lebaran. Hal itu menyebabkan kenaikan harga pangan.

“Dampak negatif yang terjadi dalam jangka pendek adalah penurunan daya beli masyarakat. Selanjutnya, dalam jangka panjang jumlah orang miskin di Indonesia meningkat, karena kondisi ini membuat masyarakat mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan barang yang sama,”  kata Feryatno.

Dalam kondisi itu salah satu solusinya yakni diversifikasi ke produk pangan lokal seperti umbi-umbian. Masyarakat pun dapat memanfaatkan pekarangan rumah untuk ketahanan pangan keluarga. Sementara peran industri untuk melakukan inovasi dan pengembangan teknologi.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Rawat Si Engkong : Durian Tua Berumur 100 Tahun

Trubus.id— Pohon durian setinggi 40 m itu berdiri kokoh di lokasi penanaman durian populer seperti super tembaga, bawor, musang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img