Trubus.id— Adi Hartanto menanam alpukat diva dari biji pada 2008. Pohon yang kini berumur 15 tahun itu produktif. Ia memetik buah hampir setiap bulan karena pohon berbuah susul-menyusul.
Menurut Adi total produksi mencapai 300 kg. Pohon itu kini menjadi pohon induk. Pekebun di Desa Legokalong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, itu memperbanyak tanaman dengan cara top working pada 2019. Adi memiliki 10 pohon alpukat lokal di pekarangan belakang rumahnya seluas 1.500 m².
Ia pun lantas menyambung dengan cabang alpukat diva. Pohon-pohon hasil perbanyakan itu magori atau berbuah perdana pada 2 tahun kemudian. Kini usia sambungan pohon berumur 3 tahun yang menghasilkan rata-rata 60 kg per pohon per tahun.
Adi merawat pohon dengan memupuk organik dan anorganik. Ia menggunakan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar leri atau air cucian beras. “Konsentrasi larutan POC yang diberikan berbeda tergantung usia tanaman,” ujar pria berusia 42 tahun itu.
Ia mengencerkan 0,3 liter POC ke dalam 10 liter air dan menyiramkan pada pohon induk. Sementara untuk pohon berumur 3 tahun, ia mengencerkan 0,16 liter POC ke dalam 5 liter air. Jadi, jatah pemupukan untuk pohon induk 10 liter dan pohon 3 tahun hanya 5 liter.
Interval penyiraman semua tanaman setiap dua pekan. Selain itu Adi juga rutin menaburkan 200 kg pupuk kandang terfermentasi setiap 4 bulan untuk tanaman induk. Adapun untuk pohon berumur 3 tahun cukup 50 kg pupuk kandang.
Adi memangkas ranting yang tidak produktif setiap 3 bulan. Sebulan berselang, ia memberikan 1 kg pupuk monokalium fosfat untuk merangsang pembungaan pohon induk. Sementara pohon berumur 3 tahun hanya 250 g per pohon.
Setelah panen, Adi memberikan 1 kg NPK seimbang 16:16:16 untuk pohon induk dan 250 gram untuk pohon berumur 3 tahun. Pemupukan intens itu menyebabkan pohon produktif. Meski demikian Adi masih kewalahan memenuhi permintaan tinggi. Setiap 2 pekan ia harus memasok 10 kg alpukat diva ke Jakarta.
Padahal untuk memenuhi permintaan pasar lokal di Kabupaten Pekalongan saja masih kurang. Hartanto menjual diva Rp50.000 per kg (harga per Mei 2023). Sementara untuk harga petik sendiri di kebun hanya Rp40.000 per kg. Oleh karena itu, ia berencana memperbanyak bibit untuk menunjang kebutuhan produksi.
