Trubus.id – Perawatan optimal menjadi kunci keberhasilan Supadi dalam menghasilkan pepaya berkualitas premium. Ia mampu memanen 6 ton pepaya varietas Arum setiap pekan dari 2 hektare lahan di Banyuwangi.
Jumlah panen itu lebih tinggi dibanding rata-rata petani lain yang hanya mencapai 4 ton per pekan. Supadi menerapkan teknik pemupukan makro dan mikro secara terpadu untuk mendongkrak hasil.
Ia menggunakan pupuk kandang berbahan kotoran ayam petelur dan pupuk NPK 20:10:10 untuk menunjang fase vegetatif. Pemupukan dilakukan tiap dua bulan dengan dosis 5 kg pupuk kandang per lubang tanam.
Lubang tanam dibuat sedalam 20–30 cm untuk aplikasi pupuk organik. Sementara pupuk NPK diberikan secara kocor di bawah tajuk tanaman dengan dosis 25 kg per hektare untuk tanaman umur 1 bulan dan 35 kg pada umur 3 bulan.
Supadi juga menambahkan 2 liter zat pengatur tumbuh (ZPT) yang mengandung auksin, giberelin, dan sitokinin per hektare. Kombinasi pemupukan dan ZPT terbukti meningkatkan produktivitas tanaman.
Seluruh hasil panen terserap pasar, khususnya pasar modern di Jakarta. Meski begitu, Supadi belum mampu memenuhi permintaan pasar yang mencapai 10 ton per pekan.
Sebelum dikirim, pepaya dikumpulkan di gudang untuk proses pencucian dan pengemasan. Supadi memastikan hanya buah berkualitas yang dikirim ke pelanggan.
Ia sempat mencoba menanam cabai di sela tanaman pepaya untuk efisiensi lahan. Namun, tumpangsari itu hanya berlangsung enam bulan karena kendala tenaga kerja.
