Thursday, May 28, 2026

Perbandingan Sistem Budidaya Bioflok vs RAS untuk Ikan Nila

Rekomendasi
- Advertisement -

Budidaya nila dengan sistem intensif banyak beralih ke teknologi modern, terutama bioflok dan Recirculator Aquaculture System (RAS). Teknologi bioflok disebut efektif meningkatkan produktivitas karena memanfaatkan senyawa organik dalam udara menjadi pakan tambahan. Avnimelech dalam buku Biofloc Technology: A Practical Guide Book menjelaskan bahwa flok terbentuk dari agregasi mikrob, partikel organik, dan fitoplankton. Ikan memakan flok yang terbentuk sehingga nutrisi tidak terbuang dan konversi pakan menjadi lebih efisien.

Mekanisme bioflok bekerja melalui proses aerasi intensif untuk menjaga suspensi flok serta memicu bakteri heterotrof mengubah amonia menjadi biomassa mikrob. Penelitian oleh Ekasari dan rkan dalam Journal of Aquaculture Research and Development menunjukkan bahwa nila yang dipelihara pada sistem bioflok mampu memiliki FCR lebih rendah dibandingkan dengan kolam konvensional. Alasnnya karena ikan mendapatkan protein tambahan dari flok. Selain itu, kestabilan kualitas udara dapat dipertahankan selama rasio karbon terhadap nitrogen terkontrol dengan baik.

Sementara RAS menggunakan filtrasi mekanik dan biologi untuk mempertahankan parameter kualitas udara secara presisi dan berkelanjutan. Timmons & Ebeling dalam buku Recirculating Aquaculture System menyebutkan bahwa RAS dapat mengontrol amonia, nitrit, dan suhu lebih stabil. Dengan begitu pertumbuhan nila optimal dalam padat tebar tinggi. Berbeda dengan bioflok, RAS memerlukan investasi awal yang besar karena peralatan seperti biofilter, pompa, aerator, dan sistem sterilisasi UV harus bekerja terus menerus untuk menjaga kinerja budidaya.

Beberapa penelitian menilai menilai bioflok lebih unggul dari sisi biaya pakan dan efisiensi per liternya, Adapun RAS unggul pada kecepatan pertumbuhan dan pengendalian penyakit. Penelitian oleh Putra dan rekan dalam Jurnal Akuakultur Indonesia mengungkapkan bahwa nilai pertumbuhan harian nila pada RAS lebih tinggi dibandingkan bioflok. Namun konsumsi energi dan biaya teknis juga lebih besar. Dengan demikian, pemilihan teknologi sangat bergantung pada ketersediaan modal, keterampilan teknis, dan target produksi. (Naya Maura Denisa)


Artikel Terbaru

Rahasia Sukses Bisnis Domba Modern: Panen Omzet Tiap Bulan, Bukan Cuma Pas Kurban

Domba bukan lagi sekadar komoditas musiman yang hanya dicari setahun sekali menjelang Iduladha. Dengan potensi ekonomi kurban nasional yang...

More Articles Like This